//
you're reading...
Uncategorized

Macam-Macam Alat Evaluasi

aku9oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I.,M.Pd

1. TEST JAWABAN SINGKAT
1. test untuk melengkapi hasil belajar sederhana
2. jawaban singkat, misalnya: kata, bagian kalimat, angka, atau simbol
3. soal dalam bentuk kalimat tanya
4. tes isian: soal dalam bentuk kalimat tidak lengkap, misalnya: nama penemu mesin uap adalah ….
5. penggunaan:
pengetahuan istilah, misalnya: isobar = ….
pengetahuan tentang prinsip-prinsip, misalnya: setiap naik 100 meter, maka suhu turun …. derajat Celcius pengetahuan tentang fakta-fakta spesifik, misalnya: sensus didakan setiap …. tahun sekali pengetahuan tentang metode dan prosedur, misalnya: alat untuk mengukur suhu disebut?
penafsiran sederhana, misalnya: garis kontur adalah ….memecahkan soal hitungan, misalnya berapa angka ketergantungan penduduk di kota X? keterampilan memanipulasi simbol, misalnya: rumus sexratio adalah …. melengkapi persamaan kimia, misalnya: H + O2 = ….
6. kaidah penulisan soal:
a. rumusan pertanyaan singkan dan jawaban singkat
b. hindari kutipan langsung yang terlalu singkat
c. pertanyaan paling tidak harus melengkapi tempat kosong sama luas dan cukup satu

2. TES TULIS DAN LISAN
1. Pengertian Tes Tulis
Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan cepat dan tepat (Indrakusuma, 1993:21). Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa, didalamnya terdapat pengertian-pengertian:
a) Tes itu adalah hanya merupakan alat dan bukan merupakan tujuan. Sedangkan tujuannya adalah terletak pada apakah maksud kita memberikan tes itu.
b) Alat itu telah disusun secara sistematis dan objektif, menurut syarat-syarat tertentu. Meskipun dalam kenyataannya tidak ada tes yang seratus persen sistematis dan objektif. Sebab tes itu juga buatan manusia.
c) Dengan adanya tes yang telah disusun secara sistematis dan objektif itu, maka hasil yang diperoleh dari tes atau alat itu boleh dikatakan akan tepat. Artinya benar-benar akan memberikan gambaran yang sesuai dengan keadaannya.
d) Bahwa dengan dipergunakannya tes sebagai alat untuk memperoleh data-data itu, dapat dilaksanakan secara tepat tidak memakan waktu yang lama. Untuk memperoleh suatu data tidak perlu berhari-hari, bahkan cukup beberapa jam saja.
e) Sedang keterangan-keterangan apa yang diinginkan, ini bergantung pada maksud serta alat yang kita berikan. Misalnya, jika kita menginginkan keterangan tentang kecakapan anak dalam hal berhiting maka kita pergunakan tes berhitung, bukan tes bahasa, dan sebagainya.
Jadi, tes tulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis.
1. Bentuk-bentuk tes tulis
Telah dibicarakan sebelumnya bahwa di sekolah seringkali digunakan tes buatan guru (bukan tes standardized test) ini disebut tes buatan guru (teacher made test). Tes yang di buat guru ini terutama menilai kemajuan siswa dalam hal pencapaian hal yang dipelajari.
Dalam hal ini kita bedakan atas dua bentuk tes tulis yaitu sebagai berikut:
1. Tes Subjektif
Yang pada umumnya berbentuk tes esai (uraian) tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaanya didahului dengan kata-kata seperti, uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya (Arikunto, 2005:162).
Soal-soal bentuk esai biasanya jumlahnya tidak banyak, hanya sekedar
5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90-120 menit. Soal-soal bentuk esai ini menuntut kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir, menginterprestasi, menghubungkan pengertian-pengertian yang telah dimiliki. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tes esai menuntut untuk dapat mengingat-ingat dan mengenal kembali dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi.
Kelebihan-kelebihan tes subjektif yaitu:
1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi siswa maupun segi guru yang memeriksa.
2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
3) Pemeriksaanya dapat diserahkan orang lain.
4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
Kelemahan-kelemahan tes subjektif yaitu:
a. Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelamahan yang lain.
b. Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
c. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
d. Kerjasama antarsiswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
Cara mengatasi kelemahan
1) Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus menerus hingga betul-betul mahir.
2) Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan nomor satu dan dua.
3) Menggunakan norma/standar penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif itu.
1. Tes obyektif
1) Tes benar-salah (true-false)
Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah.
2) Tes pilihan ganda (multiple choice test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (option). Kemungkinan jawaban (option) terdiri atas satu jawaban benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh.
3) Menjodohkan (matching test)
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid ialah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
4) Tes isian (completion test)
Completion test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid.

c) Pelaksanaan tes tertulis
Nurkanca, dkk (1986:58) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan suatu tes tertulis ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Adapun hal-hal tersebut antara lain:
1) Ruangan tempat tes di laksanakan hendaknya diusahakan setenang mungkin.
2) Murid-murid harus diperingatkan bahwa mereka tidak boleh bekerja sebelum ada tenda untuk mulai. Hal ini untuk mengatur agar semua murid mulai bekerja pada saat yang sama.
3) Selama murid-murid bekerja para pengawas tes dapat berjalan-jalan, dengan catatan tidak mengganggu suasana, untuk mengawasi apakah murid-murid bekerja secara wajar atau tidak. Murid-murid yang melanggar tata tertib tes dapat dikeluarkan dari ruang tes.
4) Apabila waktu yang ditentukan telah habis maka semua pengikut tes diperintahkan untuk berhenti bekerja dan segera meninggalkan ruangan tes secara tertib. Para pengawas tes segera mengumpulkan lembaran-lembaran tes dan lembaran-lembaran jawaban peserta tes.
5) Setelah lat-alat terkumpulkan maka pengawas tes supaya mengisi catatan-catatan tentang kejadian penting yang terjadi selama tes berlangsung.
B. Test Lisan
Pengertian tes lisan
Tes lisan adalah tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik.
1. Macam-macam tes lisan
Thoha (2003:61) menjelaskan bahwa tes ini termasuk kelompok tes verbal, yaitu tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan. Dari segi persiapan dan cara bertanya, tes lisan dapat dibedakan menjadi dua yakni:
1) Tes lisan bebas
Yaitu pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis
2) Tes lisan berpedoman
Pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang akan ditanyakan kepada peserta didik.
1. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah
a) Dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung.
b) Bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud.
c) Hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik.
2. Kelemahannya adalah
a) Subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes,
b) Waktu pelaksanaan yang diperlukan.
1. Pelaksanaan tes lisan
Nurkanca, dkk (1986:60) menjelaskan bahwa hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan tes lisan antara lain adalah sebagai berikut:
a) Pertahankanlah situasi evaluasi dalam pelaksanaan tes lisan. Guru harus tetap menyadari bahwa tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan gambaran tentang prestasi belajar yang dicapai oleh murid-murid.
b) Janganlah guru membentak-bentak seorang murid karena murid tersebut memberikan jawaban yang menurut penilaian guru merupakan jawaban yang sangat “tolol”.
c) Jangan pula ada kecenderungan untuk membantu seoarang murid yang sedang di tes dengan memberikan kunci-kunci tertentu karena kita merasa kasihan atau simpati pada murid tersebut. Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip evaluasi karena kita bertindak tidak adil terhadap murid yang lain.
d) Siapkanlah terlebih dahulu suatu rencana pertanyaan serta score jawaban yang diminta untuk setiap pertanyaan. Hal ini untuk menjaga agar guru jangan samapai terkecoh oleh jawaban yang ngelantur dari murid-murid.
e) Laksanakanlah skoring secara teliti terhadap setiap jawaban yang diberikan oleh murid.

3. Catatan Anekdot atau Anecdotal Records
Catatan anekdot merupakan alat perekam observasi secara berkala terhadap suatu peristiwa atau kejadian penting yang melukiskan perilaku dan kepribadian seseorang dalam bentuk pernyataan singkat dan obyektif. Rekaman peristiwa penting itu menggambarkan perilaku khusus, artinya perilaku keseharian yang terjadinya tidak umum, alih-alih khusus. Pencatatan laporan peristiwa penting harus dibedakan antara berita atau fakta dan pendapat (opini) observer. Peristiwa penting yang dimaksud seperti: perkelahian, membolos, menyontek, membuat gaduh di kelas. Dengan kata lain, observasi ini dilakukan terhadap perilaku khusus. Rekaman catatan anekdot ini sangat berguna untuk menyelidiki kasus dan menelaah perkembangan individu atau sekelompok individu. Menurut bentuknya catatan anekdot ini diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: (a) Catatan Anekdot Deskriptif, yaitu catatan yang menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi dalam bentuk pernyataan, baik pernyataan yang bersifat umum maupun khusus, (b) Catatan Anekdot Interpretatif, yaitu catatan yang menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi yang penafsirannya didukung oleh fakta, dan (c) Catatan Anekdot Evaluatif, menggambarkan perilaku, kegiatan atau situasi berupa penilaian oleh observer berdasarkan ukuran baik-buruk, benar-salah, layak-tidak layak, dan dapat diterima-tidak dapat diterima.

Manfaat Catatan Anekdot
Berbagai manfaat catatan anekdot adalah: (a) dapat memperoleh diskripsi perilaku individu yang lebih tepat, (b) dapat memperoleh gambaran sebab-akibat perilaku khusus individu, dan (c) dapat mengembangkan cara-cara penyesuaian diri dengan masalah-masalah dan kebutuhan individu secara mendalam. Di samping, kegunaan catatan anekdot bagi pemahaman diri individu, maka catatan anekdot ini pun berguna bagi: (i) guru baru dalam rangka penyesuaian diri dengan siswa, (ii) guru yang berminat untuk memahami problema-problema siswa, dan (iii) bagi konselor untuk memberikan layanan konseling bahkan untuk mengadakan pertemuan kasus (konferensi kasus).

Prosedur Pengadministrasian Catatan Anekdot
Pengadministrasian catatan anekdot terhadap peristiwa/perilaku khusus dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis hasil. Tahap persiapan ini tidak seperti umumnya dilakukan pada alat rekam observasi yang lain, melainkan lebih mengarah pada persiapan pelaksanaan, meliputi langkah-langkah: (a) penetapan siapa observi, (b) bentuk catatan anekdot yang digunakan, dan (c) berapa banyak observer yang terlibat selama proses pengamatan. Tahap pelaksanaan mencakup langkah-langkah: (a) menyiapkan format catatan anekdot, (b) menentukan posisi observasi, dan (c) mencatat perilaku observer. Tahap analisis hasil yaitu memberi komentar dan interpretasi.
Aplikasi Prosedur Pengadministrasian Catatan Anekdot
Tahap persiapan mencakup langkah-langkah berikut:
1) Menentukan aspek perilaku observi yang akan dicatat. Semua perilaku anak tanpa terkecuali perlu diamati secara sistematis, sehingga akan mengenal ihwal mereka. Akan tetapi dalam praktiknya, besar kemungkinan diprioritaskan bagi anak-anak yang mengalami masalah dan menunjukkan prilaku khusus (khusus). Aspek-aspek perilaku tersebut, misalnya: kerjasama, ketelitian, perkelahian, membolos, membuat gaduh, menyontek, dan sebagainya.
2) Menentukan siapa yang melakukan pencatatan. Pada langkah ini perlu ada penegasan siapa saja yang dilibatkan dalam proses pengamatan dan dalam kapasitas profesional. Apabila pencatatan dilakukan oleh seorang konselor untuk kepentingan bimbingan dan konseling, maka kesediaan dan kompetensi mereka dalam pengamatan tidak diragukan. Apabila pencatatan ini dilakukan oleh seorang guru, maka terlebih dahulu mereka harus mempunyai pemahaman dan menyadari pentingnya catatan anekdot, agar tumbuh kesediaan untuk menyusun catatan jika sewaktu-waktu diperlukan. Selanjutnya menentukan berapa banyak observer yang dilibatkan untuk melakukan pencatatan terhadap perilaku siswa.
Menetapkan bentuk catatan anekdot. Berbagai bentuk catatan anekdot seperti: kartu kecil yang berukuran setengah halaman jenis kertas folio berisi satu peristiwa dan lazim di sebut kartu/catatan asli. Catatan asli merupakan bahan konfidensial, sehingga dipertanggungjawabkan kerahasiaannya. Sedangkan kartu yang berukuran satu halaman jenis kertas folio berisi beberapa peristiwa siswa yang sama, dan bentuk catatan anekdor berkala.
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelasanaan observer menyiapkan format catatan asli, kemudian mengambil posisi yang memudahkan proses pencatatan. Selanjutnya observer melakukan pencatatan terhadap perilaku khusus observi dan diusahakan agar ia tidak menyadari jika sedang diamati.
Tahap Analisis Hasil
Tahap analisis hasil berupa pemberian komentar/interpretasi observer terhadap perilaku observi pada suatu kejadian berdasarkan hasil pencatatan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi, antara lain:
(1) Berisi ulasan kesimpulan dan komentar dari observer mengenai perilaku observi (2) Bersifat penilaian evaluatif (baik-buruk, benar-salah) (3) Mengungkap “kemungkinan” dibalik perilaku dan simpulan perilaku (4) mempertimbangkan perasaan observi saat berperilaku dan sasaran perilakunya (5) mencatat respon lingkungan (6) memperhatikan anteseden control dan stimulus dan (7) peka potensi konflik, kebiasaan, dan sifat-sifat individu observi.
Sumber : Daharnis. 2012. Kerangka Materi Asessment dalam BK. UNP.
4. Pengertian Kuesioner
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.
Penggunaan kuesioner tepat bila :
1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan.
2. Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu fitur khusu dari sistem yang diajukan.
3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk-petunjuk tertentu.
4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.
JENIS PERTANYAAN DALAM KUISONER
Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analis memiliki peluang untuk menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah-istilah yang belum jelas, mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan pertanyaan direncanakan secara mendetail.
Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner adalah :
1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar.
2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.
Petunjuk-petunjuk yang harus diikuti saat memilih bahasa untuk kuesioner adalah sebagai berikut :
1) Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar kata-katanya tetap sederhana.
2) Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam pilihan kata-kata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik.
3) Pertanyaan harus singkat.
4) Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan bahasa tingkat bawah.
5) Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam pertanyaan –pertanyaan yang menyulitkan.
6) Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak.
7) Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat sebelum menggunakannya.
8) Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah tepat bagi responden.
SKALA DALAM KUISONER
Penskalaan adalah proses menetapkan nomor-nomor atau simbol-simbol terhadap suatu atribut atau karakteristik yang bertujuan untuk mengukur atribut atau karakteristik tersebut. Alasan penganalisis sistem mendesain skala adalah sebagai berikut :
• Untuk mengukur sikap atau karakteristik orang-orang yang menjawab kuesioner.
• Agar respoden memilih subjek kuesioner.
*Ada empat bentuk skala pengukuran , yaitu :
1) Nominal : Skala nominal digunakan untuk mengklasifikasikan sesuatu. Skala nominal merupakan bentuk pengukuran yang paling lemah, umumnya semua analis bisa menggunakannya untuk memperoleh jumlah total untuk setiap klasifikasi. Contoh : Apa jenis perangkat lunak yang paling sering anda gunakan ? 1 = Pengolah kata, 2 = Spreadsheet, 3 = Basis Data, 4 = Program e-mail
2) Ordinal
Skala ordinal sama dengan skala nominal, juga memungkinkan dilakukannya kalsifikasi. Perbedaannya adalah dalam ordinal juga menggunakan susunan posisi. Skala ordinal sangat berguna karena satu kelas lebih besar atau kurang dari kelas lainnya.
3) Interval
Skala interval memiliki karakteristik dimana interval di antara masing-masing nomor adalah sama. Berkaitan dengan karakteristik ini, operasi matematisnya bisa ditampilkan dalam data-data kuesioner, sehingga bisa dilakukan analisis yang lebih lengkap.
4) Rasio
Skala rasio hampis sama dengan skala interval dalam arti interval-interval di antara nomor diasumsikan sama. Skala rasio memiliki nilai absolut nol. Skala rasio paling jarang digunakan.
MERANCANG KUISONER
Merancang formulir-formulir untuk input data sangat penting, demikian juga merancang format kuesioner juga sangat penting dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik.
1. Format kuesioner sebaiknya adalah :
a. Memberi ruang kosong secukupnya,
b. Menunjuk pada jarak kosong disekeliling teks halaman atau layar. Untuk meningkatkan tingkat respons gunakan kertas berwarna putih atau sedikit lebih gelap, untuk rancangan survey web gunakan tampilan yang mudah diikuti, dan bila formulirnya berlanjut ke beberapa layar lainya agar mudah menggulung kebagian lainnya.
c. Memberi ruang yang cukup untuk respons,
d. Meminta responden menandai jawaban dengan lebih jelas.
e. Menggunakan tujuan-tujuan untuk membantu menentukan format.
f. Konsisten dengan gaya.
3. Urutan Pertanyaan
Dalam menurutkan pertanyaan perlu dipikirkan tujuan digunakannya kuesioner dan menentukan fungsi masing-masing pertanyaan dalam membantu mencapai tujuan.
a. Pertanyaan-pertanyaan mengenai pentingnya bagi responden untuk terus, pertanyaan harus berkaitan dengan subjek yang dianggap responden penting.
b. Item-item cluster dari isi yang sama.
c. Menggunakan tendensi asosiasi responden.
d. Kemukakan item yang tidak terlalu kontroversial terlebih dulu.
5. Wawancara
Wawancara (bahasa Inggris: interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
Ankur Garg, seorang psikolog menyatakan bahwa wawancara dapat menjadi alat bantu saat dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/ kandidat untuk suatu posisi, jurnalis, atau orang biasa yang sedang mencari tahu tentang kepribadian seseorang ataupun mencari informasi.
Jurnalistik
Dalam bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita. Wawancara biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan.
Sedangkan dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara biasanya dilaksanakan atas kehendak sumber berita.
Bentuk wawancara
Bentuk-bentuk wawancara antara lain:
a. Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
b. Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
c. Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
d. Wawancara pribadi.
e. Wawancara dengan banyak orang.
f. Wawancara dadakan / mendesak.
g. Wawancara kelompok dimana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya.

Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, penampilan, dan sikap wartawan. Sikap yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif. Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar materi topik pembicaraan baik oleh nara sumber maupun wartawan.
Jenis-Jenis wawancara
Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
a. Wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.
b. Wawancara terpimpin
Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.
c. Wawancara bebas terpimpin
Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.
Sikap-Sikap yang Harus Dimiliki Pewawancara
Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:
a. Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden, baik yang menyenangkan atau tidak.
b. Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si responden.
c. Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
d. Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.[1]

Daftar-pembanding, Penilaian Timbangan dan Rubrik.

Daftar periksa, skala penilaian dan rubrik adalah alat yang menyatakan kriteria tertentu dan memungkinkan guru dan siswa untuk mengumpulkan informasi dan membuat penilaian tentang apa yang siswa ketahui dan dapat melakukan dalam kaitannya dengan hasil. Mereka menawarkan cara sistematis mengumpulkan data tentang perilaku tertentu, pengetahuan dan keterampilan.
Kualitas informasi yang diperoleh melalui penggunaan daftar periksa, skala penilaian dan rubrik sangat tergantung pada kualitas penjelas yang dipilih untuk penilaian. Keuntungan mereka juga tergantung pada keterlibatan langsung siswa dalam penilaian dan pemahaman tentang umpan balik yang diberikan.
Tujuan dari daftar periksa, skala penilaian dan rubrik adalah:
menyediakan alat-alat untuk merekam sistematis pengamatan menyediakan alat-alat untuk self-assessment memberikan contoh kriteria bagi siswa sebelum mengumpulkan dan mengevaluasi data pada pekerjaan mereka mencatat perkembangan yang spesifik keterampilan, strategi, sikap dan perilaku yang diperlukan untuk menunjukkan pembelajaran memperjelas kebutuhan instruksional siswa dengan menghadirkan catatan prestasi saat ini.
Tips untuk Mengembangkan pembanding, Penilaian Timbangan dan Rubrik Gunakan daftar periksa, skala penilaian dan rubrik dalam kaitannya dengan hasil dan standar.
Menggunakan format sederhana yang dapat dipahami oleh siswa dan yang akan mengkomunikasikan informasi tentang belajar siswa kepada orang tua. Pastikan bahwa karakteristik dan deskripsi yang tercantum jelas, spesifik dan diamati.
Mendorong siswa untuk membantu membangun kriteria yang sesuai. Sebagai contoh, apa deskripsi yang menunjukkan tingkat kinerja dalam pemecahan masalah?
Pastikan bahwa daftar periksa, skala penilaian dan rubrik tanggal untuk melacak kemajuan dari waktu ke waktu.
Meninggalkan ruang untuk merekam catatan anekdot atau komentar.
Menggunakan template generik yang menjadi akrab bagi siswa dan yang berbagai deskripsi dapat ditambahkan dengan cepat, tergantung pada hasil (s) yang dinilai. Memberikan bimbingan kepada siswa untuk menggunakan dan membuat daftar periksa sendiri, skala penilaian dan rubrik untuk tujuan penilaian diri dan sebagai pedoman untuk penetapan tujuan.
Daftar-pembanding biasanya menawarkan ya / tidak ada format dalam kaitannya dengan demonstrasi mahasiswa kriteria tertentu. Hal ini mirip dengan lampu; lampu on atau off. Mereka dapat digunakan untuk merekam pengamatan individu, kelompok atau seluruh kelas.
Peringkat Timbangan memungkinkan guru untuk menunjukkan tingkat atau frekuensi perilaku, keterampilan dan strategi yang ditampilkan oleh pelajar. Untuk melanjutkan light switch analogi, skala penilaian seperti saklar dimmer yang menyediakan untuk berbagai tingkat kinerja. Rating scales menyatakan kriteria dan memberikan tiga atau empat pilihan respon untuk menggambarkan kualitas atau frekuensi pekerjaan siswa.
Guru dapat menggunakan skala penilaian untuk merekam pengamatan dan siswa dapat menggunakannya sebagai alat self-assessment. Mengajar siswa untuk menggunakan kata-kata deskriptif, seperti biasa, biasanya, kadang dan tidak pernah membantu mereka menentukan kekuatan dan kebutuhan khusus. Peringkat sisik juga memberikan siswa informasi untuk menetapkan tujuan dan meningkatkan kinerja. Dalam skala rating, kata deskriptif lebih penting daripada jumlah yang terkait. Semakin tepat dan deskriptif kata-kata untuk setiap titik skala, lebih dapat diandalkan alat.
Skala penilaian yang efektif menggunakan deskriptor dengan langkah-langkah dipahami dengan jelas, seperti frekuensi. Timbangan yang mengandalkan deskriptor subjektif kualitas, seperti adil, baik atau sangat baik, kurang efektif karena sifat tunggal tidak mengandung informasi yang cukup tentang apa kriteria yang ditunjukkan di masing-masing poin pada skala.

Nilai lebih
Meningkatkan nilai penilaian checklist atau skala penilaian dengan menambahkan dua atau tiga langkah tambahan yang memberikan siswa kesempatan untuk mengidentifikasi keterampilan yang mereka ingin memperbaiki atau keterampilan mereka merasa yang paling penting. Sebagai contoh:
menempatkan bintang di samping keterampilan yang Anda anggap paling penting untuk mendorong orang lain lingkaran keterampilan yang paling anda untuk meningkatkan menggarisbawahi skill yang paling menantang bagi Anda.
Rubrik menggunakan seperangkat kriteria untuk mengevaluasi kinerja siswa. Mereka terdiri dari skala pengukuran tetap dan penjelasan rinci tentang karakteristik untuk setiap tingkat kinerja. Deskripsi ini fokus pada kualitas produk atau kinerja dan bukan kuantitas; misalnya, tidak jumlah paragraf, contoh untuk mendukung ide, kesalahan ejaan. Rubrik biasanya digunakan untuk mengevaluasi kinerja siswa dengan tujuan termasuk hasil di kelas untuk tujuan pelaporan. Rubrik dapat meningkatkan konsistensi dan keandalan mencetak gol.
Rubrik menggunakan seperangkat kriteria tertentu untuk mengevaluasi kinerja murid. Mereka dapat digunakan untuk menilai individu atau kelompok dan, seperti dengan skala penilaian, dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.

Mengembangkan Rubrik dan Kriteria Scoring
Rubrik semakin diakui sebagai cara untuk keduanya efektif menilai belajar siswa dan berkomunikasi secara langsung harapan, jelas dan ringkas kepada siswa. Dimasukkannya rubrik dalam suatu sumber daya pengajaran memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan demonstrasi apa terlihat seperti belajar, dan untuk menggambarkan tahap perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan. Untuk yang paling efektif, rubrik harus memungkinkan siswa untuk melihat perkembangan penguasaan dalam pengembangan pemahaman dan keterampilan.
Rubrik harus dibangun dengan masukan dari siswa bila memungkinkan. Sebuah awal yang baik adalah untuk mendefinisikan apa kualitas kerja seperti berdasarkan hasil pembelajaran. Eksemplar prestasi perlu digunakan untuk menunjukkan kepada siswa apa kinerja yang sangat baik atau dapat diterima adalah. Ini menyediakan koleksi kualitas kerja bagi siswa untuk digunakan sebagai titik acuan. Setelah standar didirikan, mudah untuk menentukan apa yang tingkat dan tingkat kurang memuaskan kinerja terlihat seperti teladan. Rubrik terbaik memiliki 3-5 tingkat deskriptif untuk memungkinkan diskriminasi dalam evaluasi produk atau tugas. Rubrik dapat digunakan untuk tujuan sumatif untuk mengukur tanda dengan menetapkan skor untuk masing-masing dari berbagai levels.time.

Ketika mengembangkan rubrik, pertimbangkan hal berikut:
a. Apa hasil yang spesifik dalam tugas?
b. Apakah para siswa memiliki pengalaman dengan ini atau tugas yang sama?
c. Apa kinerja yang sangat baik terlihat seperti? Apa kualitas yang membedakan respon yang sangat baik dari tingkat lain?
d. Apa tanggapan lain sepanjang kontinum kualitas kinerja terlihat seperti?
e. Apakah setiap deskripsi kualitatif berbeda dari yang lain? Apakah ada jumlah yang sama deskripsi pada setiap tingkat kualitas? Apakah perbedaan yang jelas dan dipahami oleh siswa dan lain-lain?

Mulailah dengan mengembangkan kriteria untuk menggambarkan tingkat yang dapat diterima. Kemudian gunakan taksonomi Bloom untuk mengidentifikasi kriteria yang membedakan saat Anda bergerak ke atas skala. Kriteria seharusnya tidak melampaui tugas kinerja asli, tetapi mencerminkan tatanan yang lebih tinggi kemampuan berpikir siswa bisa menunjukkan dalam parameter tugas awal.
Ketika mengembangkan kriteria penilaian dan tingkat kualitas rubrik, pertimbangkan panduan berikut.
Level 4 adalah standar tingkat keunggulan. Deskripsi harus menunjukkan bahwa semua aspek pekerjaan melebihi harapan tingkat kelas dan menunjukkan kinerja yang patut dicontoh atau pemahaman. Ini adalah “Wow!”
Level 3 adalah standar Mendekati tingkat keunggulan. Deskripsi harus menunjukkan beberapa aspek kerja yang melebihi harapan tingkat kelas dan menunjukkan kinerja yang solid atau pemahaman. Ini adalah “Ya!”
Level 2 adalah Memenuhi standar yang dapat diterima. Tingkat ini harus menunjukkan kompetensi minimal yang dapat diterima untuk memenuhi harapan tingkat kelas. Kinerja dan pemahaman yang muncul atau berkembang, tetapi ada beberapa kesalahan dan penguasaan tidak menyeluruh. Ini adalah “Di jalur yang benar, tapi …”.
Tingkat 1 Apakah belum memenuhi standar yang dapat diterima. Tingkat ini menunjukkan apa yang tidak memadai untuk harapan tingkat kelas dan menunjukkan bahwa siswa memiliki kesalahan serius, kelalaian atau kesalahpahaman. Ini adalah “Tidak, tapi …”. Guru perlu membuat keputusan tentang intervensi yang tepat untuk membantu siswa meningkatkan.

Membuat Rubrik dengan Mahasiswa
Belajar meningkat ketika siswa terlibat secara aktif dalam proses penilaian. Siswa berbuat lebih baik ketika mereka tahu tujuan, melihat model dan tahu bagaimana kinerja mereka dibandingkan dengan hasil belajar. Hasil pembelajaran yang dijelaskan ketika siswa membantu dalam menggambarkan kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja. Menggunakan brainstorming dan diskusi untuk membantu siswa menganalisis apa setiap tingkat seperti. Gunakan bahasa yang ramah-siswa dan mendorong siswa untuk mengidentifikasi deskripsi yang berarti bagi mereka. Misalnya, kelas kelas 3 mungkin menggambarkan tingkat kualitas dengan ungkapan-ungkapan seperti berikut ini.
Super!
melampaui Memenuhi tanda Membutuhkan lebih banyak pekerjaan.
Gunakan contoh kerja untuk membantu praktek siswa dan menganalisis kriteria khusus untuk mengembangkan daftar elemen penting. Mereka juga dapat menggunakan sampel untuk berlatih menugaskan tingkat kinerja dan membandingkan kriteria dari tingkat ke tingkat.

Meskipun rubrik sering digunakan sebagai penilaian alat belajar, mereka juga dapat digunakan sebagai penilaian alat bantu belajar. Siswa bisa mendapatkan keuntungan dari menggunakan rubrik karena mereka menjadi lebih kompeten di menilai kualitas pekerjaan mereka dan memeriksa kemajuan mereka sendiri.
contoh:
Melibatkan siswa dalam proses penilaian dengan meminta mereka berpartisipasi dalam penciptaan rubrik. Proses ini memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam hasil yang diharapkan dan kriteria penilaian yang terkait. Setelah rubrik telah dibuat, siswa dapat menggunakannya untuk memandu belajar mereka. Kriteria yang dijelaskan dalam rubrik berfungsi untuk memfokuskan refleksi siswa pada pekerjaan mereka dan memfasilitasi pengaturan tujuan pembelajaran untuk penilaian kinerja tertentu. Melalui self-assessment atau peer-assessment, siswa dapat menggunakan rubrik untuk menilai pekerjaan selesai sampai saat ini dan menggunakannya untuk memandu perencanaan mereka untuk “langkah selanjutnya” dalam belajar.

6. TEKNIK-TEKNIK PROYEKTIF
Teknik proyektif merupakan salah satu alat yang memungkinkan untuk mengungkap motif, nilai, keadaan emosi, need yang sukar diungkap dalam situasi wajar dengan cara individu memproyeksikan kepribadiannya melalui obyek di luar individu. Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunaka tes proyeksi. Orang yang dinilai akan memproyeksikan pribadinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyeksi pada dasarnya memberi peluang kepada testee (orang yang dites) untuk bebas dalam memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan, tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.TES RORSCHACH Semua pemaknaan benar-benar saja, diasumsikan sesuai dengan pribadi atau minatnya. Memang dalam tes proyektif, tujuan sesungguhnya (hendak mengungkap apa) memang disamarkan.
Jika pada subjek diberikan tugas yang menuntut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk mengetahui cara ia merasa dan berfikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang efektif. Jenis yang termasuk tes proyektif, antara lain adalah sebagai berikut:

TEKNIK-TEKNIK NODA HITAM
Tes Rorschach boleh jadi merupakan percobaan yang paling luas dipergunakan dalam penelitian kepribadian, termasuk penelitian kebudayaan ( Barnouw, 1981) . tes yang dikembangkan oleh seorang psikiatrik Swiss , Herman Rorschach pada tahun 1920-an, terdiri atas 10 kartu, yang masing-masing menampilkan bercak tinta yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna, sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka yang mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu. Si peneliti mencatat semua uraian subjek tes kemudian membicarakan jawaban itu dengan para subjek itu untuk mengetahui bagian mana dari noda-noda tinta yang mereka pergunakan pada setiap jawaban, dan bagaimana mereka memandangnya. Meskipun nodo-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang mereka berikan berlainan satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Oleh karena itu, percobaan Rorschach itu disebut percobaan proyektif. Analisis dari sifat jawabayang diberikan peserta itu member petunjuk mengenai susunan kepribadiannya. Jika serangkaian tes ditunjukan kepada subjek, subjek mungkin melihat berbagai hal dalam noda atau tetes tinta itu. Responnya kemudian diskor menurut jawaban-jawaban terhadap pertanyaan berikut (Mahmud,1990):
1. Berapa banyak respon atau jawaban yang dibuatnya?
2. Sebarapa banayak subjek itu merespon?
3. Apakah subjek merespon tetes tinta itu sebagai keseluruhan atau merespon bagian-bagiannya?
4. Sampai berapa derajatkan keaslian respon tersebut?
5. Seberapa dari respon-respon itu yang menyerupai figur manusia?
6. Apakah figure-figur ini dalam keadaan bergerak atau berhenti?
7. Seberapa mudah figure-figur yang dilihat subjek itu dapat dilihat oleh pengamat-pengamat yang objektif?
8. Apakah reaksinya tehadap tetes-tetes tinta yang berwarna itu berbeda dengan reaksinya terhadap yang hitam putih?

Berdasarkan skor subjek tersebut, diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang menakjubkan, umpamanya, melihat tetes-tetes tinta sebagai keseluruhan menunjukkan tendensi yang kuat terhadp ide-ide yang abstrak, sedangkan melihat bagian-bagiannya menunjukkan kecenderungan terhadap kenyataan-kenyataan yang konkrit. Melihat bentuk manusia dalam keadaan bergerak mencarminka tendensi yang kuat dalam berfikir. Perbedaan respon dalam warna melukiskan sikap impulsive-emosional. Melihat bentuk bentuk baru menunjukkan keaslian bereaksi.
Banyak ahli psikologi yang mengecam percobaan Rorschach ini, tetapi bayak pula yang membelanya. Beberapa ahli antropologi, sebagai mana dikutip Barnouw (1981) , menganggap bahwanilainya dalam penelitian kebudayaan dan kepribadiannya diragukan dan hanya menghabiskan banyak waktu yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk usaha lapangan lain yang lebih berguna. Namun, percobaan Rorschach itu mempunyai peranan yang sangat besar dalam beberapa penelitian kebudayaan dan kepribadian. Salah satu keuntungan dari percobaan ini bagi ahli antropologi dalam suatu pandagan barnouw, ialah bahwa subjek yamng dites, tidak usah yang pandai membaca dan menulis. Percobaan juga tidak terikat pada kebudayaa tertentu ( karena noda-noda itu, menurut Barnouw, tidak menggambarkan sesuatu yang khusus), dan dapat dicobakan pada orang-orang yang berbeda-beda umurnya, kepada anak-anak dan kepada dewasa.

TES APERSEPSI TEMATIK (THEMATIC APPERCEPTIAON TES/TAT)
Tes proyektif popular lainnya, tes persepsi tematik atau thematic apperception tes (TAT) , dikembang kan di hardvard University oleh Henry Murray pada tahun 1930-an. TAT mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-lukisan , sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para peserta diminta mengarang sebuah cerita mengenai tiap-tiap gambar yang diperlihatkan kepadanya. Mereka diminta membuat cerita mengenai latar belakang dari kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orag didalam gambar itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Sebagia kartu dari seri itu hanya ditunjukkan kepada kaum pria, sebagia lagi hanya kepada kaum wanita, sebagia hanya kepada anak-anak, sebagian lagi diperlihatkan kepaqda semua peserta.
Ada gambar yang dimaksud untuk memancing cerita-carita mengenai hubungan pria dengan seorang yang berwajah ibu, yang menjadi tokoh ayah atau menjadi teman wanita, dengan pekerjaan dan ambisi dan tema-tema lain. Dalam membuat cerita tersebut, sukar bagi yang bersangkutan untuk tidak mengungkap sedikit riwayatnya. Dia cenderung mengemukakan nilai-nilainya, sikapnya, serta anspirasinya. Cerita-cerita ini dapat dianalisis untukmelihat tema yang timbul berulang-ulang, tema yang lain dari yang biasa, macam-macam konflik yang dipaparkan, dan bentuk penyelesaiannya.
Sebagian gambar itu memperlihatkan keadaan dalam rumah orang Amerika bagian kelas menengah, pakaian pada gambar adalah pakaina orang Amerika, dan orangnya berwajah kulit putih (Caucasian). Gambar-gambar seperti ini sulit untuk diperlihatkan kepada masyarakat yang bukan barasal dari barat, yang rumahnya, pakaiannya, dan rupanya berlainan. Untuk mengatasi kesulitan ini, diperlihatkan gambar-gambar yang tidak terlalu terikat pada suatu kebudayaan. Ini, misalnya, dilakukan dengan hasil yang baik sekali dengan anak-anak dari suku Ojibwa, yag telah mengalami asimilasi kebudayaan. Usaha lain untuk mengatasi kesukara itu ialah mempergunakan seri TAT yang telah disesuaikan, dengan mengubah gambar-gambar dari seri yang asli agar sesuai dengan kebudayaan atau tempat tempat tes atau percobaan yang diberikan.
TAT pada dasarnya ditujukan untuk mengungkapkan tema dasar yang terjadi dalam produk imaginative subjek. Apersepsi adalah kesiapan untuk menghayati dalam cara tertentu bedsarkan pengalaman sebelumnya. Orang yang menginterpretasikan gambar ambiguous menurut apersepsinya dan menguraikan cerita dalam plot atau tema yang disukainya yang mencerminkan fantasinya. Menurut Atkinson, jika masalah tertentu mengganggu subjek, hal itu mungkin jelas dalam sejumlah cerita atau dalam penyimpanan yang jelas dari tema lazim dalam satu atau dua cerita. Dalam menganalisis respon terhadap kartu TAT, ahli psikologi melihat tema yang berulang yang bisa mengungkapkan kebutuhan, motif atau karakteristik cara seseorang melakukan hubungan antar pribadinya.
Materi-materi TAT terdiri dari 19 kartu yang memuat gambar-gambar kabur yang berwarna hitam putih serta satu kartu kosong responden diminta untuk mengarang cerita yang sesuai dengan tiap gambar, menceritakan apa yang mengarah pada peristiwa sebagai mana tergambar dalam gambar itu, mendeskripsikan apa yang terjadi pada waktu itu, da apa yang difikirkan dan dirasakan oleh karakter dalam gambar, lalu memberikan hasilnya. TAT telah digunakan secara luas dalam penelitian kepribadian. Sayangnya, keanekaragaman administrasi dan prosedur penentuan skorbahkan materi-materi stimulus, yang terasosiasi dengan rubik telah berkembang kepenggunaan tes dan juga praktik klinis (Keiser & Pratner, 1990).

TEKNIK-TEKNIK VERBAL
Teknik verbal ini bisa diselenggarakan bisa diselenggarakan dalam bentuk lisan maupun tulisan, tetapi semuanya sesuai untukpenyelenggarakan tertulisan dalam kelompok. Tentu saja, bisa diselenggarakan pada tertulis, instrument ini mengendalikan tingkat kemampua membaca minimum dan keakraban sungguh-sungguh dengan bahasa tempat tes itu dikembangkan. Teknik yang mendahului dibanjirnya tes-tes proyeksi lebih dari setengah abad adalah tes asosiasi kata. Tes yang awalnya dikenal sebagai “tes asosiasi bebas”, dideskripsikan secara sistematis oleh Galton (1879). Wundt dan J. McK Cattel memperkenalkan tes ini kedalam laboraturium psikologis, tempat ini diadaptasikan untuk banyak pengguna. Caranya dengan menyajikan rangkaian kata yang terkait dan memberikan respon dengan memberikan kata pertama yang muncul dalam pikiran mereka. Aplikasi klinis metode asosiasi kata disstimulasi, terutama oleh gerakan psikoanalistik, meskipun psikiater lainy, seperti Kreapelin teleh meneliti teknik ini.
Diantara para psikoanalisas, sumbangan jung (1910) mengembangka sistematis tes asosiasi kata adalah yang menarik, yaitu dengan memilih kata-kata stimulus untuk mewakili “ komplek-kompleks emosional” untuk menganalisis respon-respon dengan rujukan pada waktu reaksi,isi, dan ungkapan fisik ketegangan emosi. Menurut para penyusunnya tes ini mempunyai dua tujuan: untuk membantu mendeteksi kerusakan proses pikiran dan menunjukkan area konflik yang signifikan. Teknik asosiasi kata disebut dengan detector kebohongan. Penggunaan teknik diagnostic kata ditolak seiring dengan meningkatkan kesadaran bahwa frekuensi respon juga sangat berbeda-beda tergantung pada usia, tingkat sosioekonomis dan pendidikan, latarbelakang regional dan budaya, kreatifitas, da factor-faktor lainnya. Tes proyeksi verbal lainnya, yaitu penyelesaian kalimat telah digunakan secara luas dalam praktik penelitian ataupun klinis. Kaitan nya dengan panjangnya respon, struktur dan aspek-aspek lainnya, tes-tes penyelesaian kalimat berada menempati bidang tengah antara asosiasi kata dan teknik-teknik tematis.

INGATAN-INGATAN AUTOBIOGRAFIS
Salah satu perkembangan yang paling baru dan menjanjikan dalam bidang teknik verbal proyeksi adalah bangkitnya kembali minat dalam menggunakan ingata-ingatan autobiografis untuk menafsirkan kepribadian. Menganalisis ingatan-ingatan, terutama yang berasal dari kehidupan awal, dalam rangka memahami konflik yang muncul kembali atau yang tidak dapat dilacak dalam kehidupan dikemudian hari merupakan hal pokok dalam psikoterapi psikodinamis pada zaman frued. Peran sentral yang dimainkan oleh ingatan-ingatan autobiografis biasanya dilihat lebih kontruksi atau proyeksi dari pada sebagai keterangan historis sesungguhnya dalam perkembangan kepribadian. Karya Arnold R. Bruhn amatlah menonjol dalam bidang ini (Bruhn, 1984, 1985, 1990a, 1990b). dalam teori kognitif persepsi Bruhn, ingatan-ingatan biografis atau autobiographical memories (EMs) peranan sentral pada hambatan tes kepribadian. Early Memory Procedure (EMP-Bruhn, 1989, 1992a, 1992b) adalah instrument yag dijalankan dengan kertas dan pensil yang dijalankan sendiri. nstrument ini menjadikan sampel 21 ingatan autobiografis dari keseluruha rentang kehidupan, bukan hanya masa kanak-kanak. Bagian kedua terdiri dari 15 ingatan spesifik atau “diarahkan” yang menjelajahi berbagaia peristiwa dan wilayah yang berbeda, yang secara klinis bisa relevan.
EMP mencakup berbagai penyelidikan yang berhubungan dengan kejernihan, nada perasaan, makna, dan berbagai unsure lain dari ingatan. Pendekatan Bruhn pada penentuan skor dan interpretasi atas ingatan-ingatann autobiografis sangat fleksibel. Ia memndang EMS sebagai fenomena psikologis kompleks yang penjelasannya bisa menurut model teoretis yang berbeda dan karenanya system penentu skor yang berbeda. EMP jelas merupakan teknik yang masih dalam proses perkembangan. Perolehan dri psikometris ini pada EMP bisa merupakan hal yang problematic. Tindakan mengatetegorikan dan menguantifikasi ingatan autobiografis mengakibatkan hilangnyan informasi nyang bisa bernilai unikdan tepat untuk memahami orang yang diteliti.

TEKNIK-TEKNIK KINERJA
Salah satu cirri khas dari teknik ini adalah teknik-teknik ini telah digunakan sebagai prosedur terapiutik dan juga prosedur diagnostic. Metode yang paling sering digunakan dalam kategori ini adalah menggambar dan berbagai teknik bermain, termasuk penggunaan permainan secara dramatis. Sebagian besar metode ini secara khusus dirancang untuk menafsirkan anak-anak meskipun dalam banyak hal metode ini bisa juga digunakan pada orang dewasa.
Teknik-teknik menggambar. Meskipun hampir setiap medium seni, tekni, dan jenis persoalan telah diteliti dalam usaha mencari isyarat diagnostic yang penting dalam evaluasi atas kepribadian, perhatian khusus telah dipusatkan kepada tindakan menggambar bntuk manusia. Contoh awal yang terkenal adalah Draw-a-person Tes (D-A-P Machover, 1949). Dalam tes ini, individu diberikan kertas dan pensil untuk “menggambar orang”. Setelah selesai menggambar pertama misal gambar perempuan, maka pada saat menggambar yang kedua dia harus menggambar lawa dari yang pertama yaitu menggambar gambar seorang laki-laki. Ketika responden menggambar, penguji memperhatikan komentarnya, urutan penggambaran bagian-bagian yang berbeda, dan rincian procedural. Penggambaran ini biasanya diikuti dengan pertanyaan mengenai umur, sekolah, pekerjaan dan fakta lain yang berhubungan dengan karakteristik yang digambar, dan meminta responden untuk menceritakan tentang tiap orang yang digambar.
Teknik permainan atau tes permainan. Dalam teknik ini melibatkan objek-objek seperti wayang, boneka dan miniature, telah digunakan secara luas dalam tes proyektif. Berasal dari terapi mainan anak-anak, materi ini selanjutnya dikembangkan untuk digunakan pada pengetesan diagnostic orang dewasa ataupun anak-anak. Pada anak-anak, penguji hanya menyediakan mainan untuk permainan bebas. Pada orang dewasa, materi yang disajikan bersama dengan instruksi umum untuk menjalankan tugas yang bersifat amat tak terstruktur. Bermain dengan hal-hal ini diharapkan dapat mengungkap kan sikap anak terhadap keluarga, persaingan sebaya, ketakutan, agresivitas, konflik dan sebagainya. Teknik-teknik permainan untuk diagnostic dan penafsiran anak-anak telah dikatalogkan dengan folume yag komprehensif seperti yang dikemukakan oleh Schaefer, Gitlin, dan Sandgrund (1991).

EVALUASI TEKNIK-TEKNIK PROYEKTIF
Observasi terkait menunjukkan bahwa perbedaan antara teknik-teknik proyektif dan tes-tes standar tidaklah sama besar atau sam fundamentalnya. Ada pendapat yang kuat bahwa teknik-teknik proyektif dan inventori-inventori laporan diri, berbeda dalam derajat dan bukan dalam jenis, tidak hanya dalam segi psikometris, melaikan juga cirri dalam tugas yang diberikan pada peserta tes, serta cara-cara interpretasi hasil-hasilnya (Levy 1963).
Rapor dan kemampuan aplikasi. Kebanyakan tes proyeksi mewakili saranayang efektif untuk mencairkan kebekuan selama kontak awal dengan ahli klinis dank lien. Tugas ini umumnya menarik dan kerap meghibur. Tugas tersebut cenderung membelokkan perhatian individu dari diri sediri dengan demikian mengurangi rasa malu dan sikap defensive. Teknik-teknik proyeksi tertentu mungkin amat berguna pada anak-anak kecil, orang buta huruf dan orang orang dengan kesulitan bahasa atau gangguan bicara. Model nonverbal dapat diterapkan pada semua kelompok ini.
Berpura-pura. Pada umumnya instrument-instrumen proyeksi lebih mampu menghadapi tindakan berpura pura diabndingkan dengan inventori laporan diri. Tak dapat diandaikan bahwa tes-tes proyeksi sepenuhnya kebal terhadap tindakan pura-pura. Berbagai eksperimen tes Rorschach, TAT, dan instrument proyeksi lainnya telah menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan besar terjadi ketika responden direinstruksi untuk merubah respon mereka sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan yang menyenangkan;atau tidak menyenangkan atau ketika responden diberitahu bahwa ada tipe-tipe respon tertentu yang lebih disukai (masling 1960).
Penguji dan variable-variabel situasionalkebanyakan teknik proyektif tidak distandardisasi secara memadai dalam kaitan dengan penyelenggaraan dan penentuan skor, atau tidak digunakan dengan cara yang dibakukan dalam praktik klinis. Namun, terbukti bahwa perbedaan-perbedaan yang halus dalam pengistilahan intruksi-intruksi verbal dan dalam hubungan penguji peserta tes bisa cukup mengubah kinerja pada tes-tes ini (Baughman, 1951; Exner, 1993; Hamilton & Robertson, 1966; Herron, 1964; Klinger, 1966; Klopfer & Taulbee,1976). Perbedaan ini bisa mempengaruhi produktifitas respons, sifat defensive, stereotype, kemampuan imajinasi, dan cirri-ciri kinerja dasar lainnya. Dilihat dari segi-segi temuan ini, masalah administrasi dan kondisi pengetesan mendapatkan artri yang lebih besar dibandingkan dalam tes-tes psikologi lainnya. Yang sama seriusnya adalah kurangnya objektifitas dalam penentuan skor dan interpretasi. Implikasi yang paling mengganggu dalam situasi ini adalah bahwa interpretasi skor sama proyektifnya bagi penguji seperti stimuli tes bagi peserta tes.
Norma-norma. Kelemahan lain yang menyolok mata yang lazim pada instrument proyektif berhubungan dengan data normative. Dengan tidak adanya norma-norma objektif yang tidak memadai, ahli klinis mundur dalam hal “pengalaman klinis umum” untuk menginterpretasikan kinerja tes proyektif. Interpretasi atas kerja tes proyektif sering melibatkan norma-norma sub kelompok entah yang bersifat subjektif atau objektif. Norma-norma seperti ini bisa menghasilkan interpretasi yang salah, kecuali bila sub kelompok disamakan dalam aspek-aspek lain.
Reliabilitas. Prosedur-prosedur penentuan skor dan tidak memadainya data normative dalam pengetesan proyektif, reabilitas pemberian skor menjadi pertimbanagn yang penting. Beberapa study yang memadai tentang jenis reliabilitas penentu skor ini, telah dilakukan pada tes-tes proyektif. Sejumlah peneliti telah mengungkapkan perbedaan terlihat dalam interpretasi yang diberikan oleh pengguna tes yang memenuhi syarat. Baik reliabilitas yang pemberi skor tinggi maupun rendah tidak bisa di generalisasikan secara langsungpada penentuan skor lain yang cukup berbeda dari yang digunakan dalam penelitian-penelitian tertentu. Upaya-upaya untuk mengukur reliabilitas tes lainnya dalam bidang pengetesan proyektif berjalan kurang lancer. Koefisien-koefisisen konsistensi internal bila dihitung biasanya rendah. Reliabilitas tes ulang juga menampilkan masalah-masalah khusus. Dengan interval-interval panjang, bisa menjadi perubahan-perubahan kepribadian sejati yang seharusnya bisa dideteksi oleh tes. Dengan interval-interval pendek, tes ulang bisa tampil tidak lebih dari memanggil respon-respon asli.
Validitas. Bagi tes apapun, pertanyaan paling dasar adalah validitas. Banyak study validasi atau tes-tes proyektif berhadapan dengan validitas terkait criteria secara bersamaan (concurrent). Kebanyakan studi ini membandingkan kinerja kelompok-kelompok kontras, seperti kelompok diagnostic atau kelompok pekerjaan. Sebagian besar study faliditas yang diterbitkan tentang teknik-teknik proyektif tidaklah konklusif karena kekurangan procedural dalam kendali eksperimental atau analisis static atau keduanya. Beberapa kekurangan metodologis bisa memberikan efek yang menghasilkan bukti validitas palsu (spurious evidence of validity), yang sebenarnya tidak ada. Sumber umum lain validitas palsu adalah gagalnya melakukan validasi silang (kinslinger, 1966). Karena jumlah tanda diagnostic potensial besar atau unsure-unsur yang dapat diskor, bisa dihasilkan dari kebanyakan tes proyektif, maka secara kebetulan sangat mudah untuk mendapatkan rangkaian tanda semacam itu yang dapat membedakan antara kelompok-kelompok criteria. Sumber kesalahan umum lainnya yang muncul dari sikap bersandar pada pengalaman klinis dalam atas validasi atas tanda-tanda diagnostic, adalah yang oleh Chapman (1967) diberi nama “validasi ilusi (illusory validation)”. Fenomena ini bisa menerangkan penggunaan instrument dan system-sistem tanda diagnostic secara berkessinambungan yang pada bagiannya, temuan temuan validasi empiris pada umumnya negative. Validasi ilusi adalah contoh khusus mekanisme yang mendasari bertahannya tahayaul. Mekanisme ini sesungguhnya bisa mengganggu penemuan dan penggunaan tanda-tanda diagnostic dalam rangka observasi klinis oleh ahli-ahli klinis yang berkait erat dengan system diagnostic tertentu.
Hipotesis proyektif. Asumsi tradisional yang menyangkut tekni-teknik proyektif adalah bahwa respon-respon individu terhadap stimuli ambigu yang disajikan kepadanya mencerminkan atribut kepribadian yang penting dan relative bertahan. Keuntungan menggunakan stimuli yang ambigu atau tak terstruktur oleh pertanyaan (Epstein, 1966). Stimuli semacam itu bersifat ambigu abagi penguji dan yang diuji. Jadi stimuli ini cenderung meningkatkan ambiguitas dalam interpretasi respon-respon atas orang yag diuji. Bukti melawan asumsi umum bahwa semakin tak terstruktur suatu stimuli, semakin mungkinlah stimuli itu mendapatkan proyeksi dan mendapatkan proyeksi dan menangkap lapisan-lapisan dalam diri kepribadian (Klopfer & Taulbee, 1976; Murstein, 1963). Banyak jenis riset emnimbulkan banyak keraguan tentang berbagai aspek hipotesis proyektif. Ada bukti cukup bahwa berbagai penjelasan alternative bisa menerangkan respon individu pada stimuli tes yang tak terstruktur atau ambigu.
Teknik-teknik proyektif sebagai instrument psikometrik. Banyak teknik proyektif jelas diinginkan bila dievaluasi sejalan dengan standar-standar tes. Hal ini jelas dari data yang dirangkum dalam bagian terdahulu, dalam kaitan dengan standardisasi administrasi dan prosedur penentuan skor, kecukupan norma, reliabilitas dan validitas. Tes proyeksi bukan sungguh-sungguh tes. Contoh dari tes semu bisa ditemukan diantara teknik proyektif tersisa. Dalam kasus instrument-instrumen ini, ada kebutuhan akan lebih banyak data validitas untuk menemukan secara spesifik sifat dari kontruk-konstruk yang diukur oleh skor-skornya dan juga data normative tentang populasi yang dijelaskan dengan jelas. Jadi, walaupun sudah lebih mendekati pencapaian standar tes jika dibandingkan dengan teknik-teknik proyektif lainnya, kebanyakan intrumen ini tidaklah siap pakai untuk keperluan operasional rutin dalam membantu pengambilan keputusan dan melakukan prediksi atas orang-orang.
Teknik-tek nik proyektif sebagai alat-alat klinis. Dari pada dianggap dan dievaluasi sebagai instrument-instrumen psikometris, atau dianggap sebagai tes dalam pengertian yang ketat, kebanyakan instrument proyektif lebih dipandang sebagai alat-alat klinis. Dengan demikian, instrument proyektif bisa berfugsi sebagai alat bantu wawancara kualitatif suplementer ditangan ahli klinis yang terampil. Sifat penilaian klinis, yang melaluinya data proyektif dan wawancara bisa digunakan dalam mencapai keputusan tetang klien-klien individual, mendapatkan makin banyak perhatian dari para psikolog. Dalam proses ini, konstruk atau kategori yang merupakan tempat data yang diorganisasi itu dibangunsecara induktif melalui pemeriksaan atas perpaduan particular data yang tersedia dalam tiap kasus. Fungsi khusus ahli klinis adalah membuat prediksi dari perpaduan peristiwa-peristiwa yang unik atau jarang, yang tentangnya tidak dapat dipersiapkan table statistic atau semacamnya. Ahli klinis bisa memprediksi dari kombinasi peristwa yang tidak pernah ia temui sebelumnya.prediksi klinis semacam ini bersifat membantu asalkan tidak diterima sebagai hal yang final, tetapi yang secara konstan dites terhadap informasi yang dibandingkan melalui penyelidikan lebih lanjut, respon tes, reaksi pada terapi, atau prilakumlain pada klien. Dari sifat teknik wawancara dan proyektif, dapat disimpulakan bahwa keputusan tidak seharusnya didasarkan pada data atau skor tunggal apapun yang diperoleh dari sumber-sumber semacam itu. Teknik-teknik ini berfungsi paling baik dalam keputusan-keputusan yang merupakan rangkaian dengan menunjukkan arah bagi eksplorasi lebih jauh atau hipotesis individu untuk verifikasi lebih lanjut.

CIRI – CIRI TES PROYEKTIF
Prinsip dasar dari Tes Proyektif adalah :
1. Stimulusnya bersifat tidak berstruktur yang memungkinkan subyek mempunyai alternative pilihan yang banyak
2. Stimulusnya bersifat ambiguous yang memungkinkan subyek merespon stimulus / materi tes sesuai dengan interpretasinya masing – masing
3. Stimulusnya bersifat kurang mempunyai obyektifitas relative. Sifat ini memudahkan untuk mendapatkan individual differences karena masing – masing subyek memiliki kesimpulan yang berbeda – beda dalam mengamati stimulus yang dihadapkan padanya.
4. Global approach yang artinya menuntut kesimpulan yang luas.

FUNGSI TES PROYEKSI
Tes proyeksi berfungsi untuk mengungkap keadaan psikologi bawah sadar manusia yang selama ini di repres kealam bawah sadar. Melalui tes proyeksi ini diharapkan dinamika psikologis itu dapat dikeluarkan melalui alat bantu tes-tes proyeksi. Sebagai sebuh tes, tes proyeksi mempunyai kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan tes-tes psikologi yang lain

MACAM-MACAM TES PROYEKSI
Macam-macam tes proyeksi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Associative Techniques
Subjek menjawab stimulus dengan perkataan, image, atau ide-ide yang pertama kali muncul. Ex : Rorschach Inkblots, Word Association
2. Construction Procedures
Subjek mengkonstruk atau membuat suatu produk (cerita). Dan dari cerita itulah keadaan psikologis klien diungkap. Ex : TAT, MAPS (Make a picture story)
3. Completion Tasks
Melengkapi kalimat atau cerita yang sudah ada disedikana sebelumnya. Ex : SSCT, Rosenzweig Picture-Frustation Study
4. Choice Or Ordering Devices
Mengatur kembali gambar, mencatat referensi atau semacamnya. Ex : Szondi Test, Tomkins-Horn Picture Arrangement Test
5. Expressive Methods
Gambar, cara / metode dalam menyelesaikan sesuatu dievaluasi. Ex : BAUM, HTP, DAP
KONSEP PROYEKTIF DALAM MEMANDANG KEPRIBADIAN:
Tes ini berawal dari lingkungan klinis dan tetap merupakan alat yang penting bagi ahli klinis. Sejumlah metode berkembang dari prosedur terapeutis yang digunakan pada pasien psikiatris. Dalam kerangka teoritis, kebanyakan teknik proyektif mencerminkan pengaruh konsep psikoanalitik yang tradisional dan modern. Ada berbagai upaya yang terpisah yang meletakkan dasar bagi teknik proyektif dalam teori stimulus respon dan dalam teori perceptual tentang kepribadian. Asumsi dasarnya adalah apabila subjek atau individu dihadapkan pada hal-hal yang ambiguitas maka subjek akan memproyeksikan personalitinya melalui jawaban-jawaban terhadap stimulus itu. Syarat-syarat untuk proyeksi antara lain diperlukan screen dan layar. Screen adalah sebuah alat tes untuk memproyeksikan gambar dan stimulus.
Tes proyeksi adalah pengungkapan aspek psiklogis manusia dengan menggunakan alat proyeksi. Tes ini berdasar pada eksternalisasi aspek-aspek psikis terutama aspek-aspek ketidaksadaran ke dalam suatu stimulasi/rangsang yang kurang atau tidak berstruktur yang sifatnya ambigious agar dapat memancing berbagai alternatif jawaban tanpa dibatasi oleh apapu. Pelopor tes proyeksi adalah Freud (1984) dengan teori psikodinamikanya, dan kemudian dikembangkan oleh Herman Rorschach (1921) dengan tes Rorschach dan Murray (1935) dengan tes TAT (Thematic Apperception Test) untuk mengungkap aspek-aspek kepribadian manusia.
Tes proyeksi memberikan stimuli yang artinya tidak segera jelas; yaitu beberapa hal yang berarti dia mendorong pasien untuk memproyeksikan kebutuhannya sendiri kedalam situasi tes. Tes proyeksi kemungkinan tidak mempunyai jawaban benar atau salah, orang yang diuji harus memberikan arti terhadap stimulus sesuai dengan kebutuhan dalamnya, kemampuan dan pertahanannya. Oleh karena tes proyektif menuntut kesimpulan yang luas atau kualitatif (tend to subjective). Kecenderungan untuk subjektif ini dapat diatasi dengan pengetahuan, pengalaman yang besar terhadap tes. Validitas dan reliabilitas tes rendah, karena dalam memberikan kesimpulan sangat luas.

BEBERAPA PANDANGAN TENTANG PROYEKSI
1. Proyeksi merupakan suatu pengamatan normal berupa pemindahan dan penghayatan dari dalam individu ke dunia luar yang mempengaruhi proses pengamatan individu yang bersangkutan terhadap proses yang sedang diamati saat itu.
2. Proyeksi merupakan gejala-gejala yang mengarah kehalusinansi. Pada proyeksi bisa saja terjadi sesuatu yang ada pada individu dipindahkan keluar tapi dalam realita apa yang diamati itu tidak ada.
3. Proyeksi mengarah pada ilusi. Pengamatan pada dunia luar dipengaruhi harapan-harapan individu menurut cara individu itu sendiri.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN TES PROYEKSI
1. Kelebihan Tes Proyektif
• Dapat mengungkap hal-hal di bawah sadar untuk keperluan klinis
• Dapat menurunkan ketegangan
• Bersifat ekonomis
2. Kekurangan Tes Proyektif
• Validitas dan reliabilitasnya rendah
• Tester harus memiliki keterampilan yang khusus untuk dapat menggunakan tes ini dalam kaitannya dengan ketepatan melakukan diagnose
7. SOSIOMETRI (Metode Utama Psikodrama)
Sosiometri adalah metode kuantitatif untuk mengukur hubungan sosial. Ini dikembangkan oleh psikoterapis Jacob L. Moreno dalam studinya tentang hubungan antara struktur sosial dan kesehatan jiwa (psychological well-being).
Istilah sosiometri berkaitan dengan etimologi Latin,yaitu:
socius berarti hubungan sosial (rekan/pasangan), dan metrum yang berarti mengukur. Jacob Moreno mendefinisikan sosiometri sebagai “proses penyelidikan evolusi, pengorganisasian dalam kelompok dan posisi individu di dalamnya”. Dia melanjutkan dengan menulis:
” Sebagai … ilmu organisasi/kelompok, yang menembak masalahnya tidak dari luar struktur kelompok, maupun permukaan kelompok, melainkan dari struktur batin individu-individunya. Eksplorasi sosiometris mengungkapkan struktur tersembunyi yang membentuk kelompok: aliansi , subkelompok, keyakinan tersembunyi, agenda terlarang, perjanjian ideologis, para ‘bintang’ dari acara”.
Dia mengembangkan sosiometri dalam pengetahuan baru, meskipun tujuan utamanya adalah Transendensi dan bukan Pengetahuan. Dengan membuat pilihan berdasarkan kriteria, terbuka dan energik, Moreno berharap bahwa orang akan lebih spontan, jujur pada diri sendiri, serta struktur organisasi dan kelompok akan menjadi segar, jelas dan hidup.
Salah satu inovasi Moreno di sosiometri adalah pengembangan dari sosiogram ini, menjadi metode sistematis berupa grafis yang mereprentasikan individu sebagai titik/node dan hubungan antara mereka sebagai garis/busur. Moreno, yang menulis secara ekstensif dari pemikirannya, pengaplikasian dan merangkum temuan-temuan, serta mendirikan sebuah jurnal berjudul sosiometri. (Sociometry) Sosiometri memiliki dua cabang utama:
Sosiometri Penelitian, dan Sosiometri Terapan.
Sosiometri Penelitian adalah Penelitian tindakan dengan mengeksplorasi hubungan jaringan sosial-emosional di dalam kelompok. Penelitian ini menggunakan kriteria tertentu, misalnya: Siapa di grup ini yang Anda inginkan untuk duduk di samping Anda di tempat kerja? Siapa dalam kelompok Anda yang anda inginkan untuk memberi nasihat tentang masalah kerja? Siapa dalam kelompok Anda yang terlihat memberikan kepemimpinan yang memuaskan dalam menyelesaikan proyek tertunda? Dapat juga disebut Eksplorasi Jaringan. Sosiometri Penelitian berkaitan dengan pola relasional dalam Populasi kecil (individu atau kelompok kecil) dan populasi yang lebih besar, seperti organisasi dan lingkungan masyarakat.
Sosiometri Terapan memanfaatkan berbagai metode untuk membantu me-review orang-orang dan kelompok-kelompok, memperluas dan mengembangkan jaringan hubungan psiko-sosial yang ada pada mereka. Kedua bidang Sosiometri ini saling melengkapi. Aplikasi keduanya bertujuan untuk menghasilkan, spontanitas dan kreativitas yang lebih besar, baik bagi individu maupun kelompok .

8. METODE PENELITIAN STUDI KASUS
1. Pengertian Studi Kasus
Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

2. Jenis-jenis Studi Kasus
a. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi mi sening kunang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.
b. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
c. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
d. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
e. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
f. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.

3. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus
a. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia;
b. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak;
c. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan;
d. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada;
e. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehiclupan seseorang atau kelompik.
4. Ciri-ciri Studi Kasus yang Baik
a. Menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum atau bahkan dengan kepentingan nasional.
b. Batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga ditunjukkan oleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya mampu diselesaikan oleh penelitinya dengan balk dan tepat meskipun dihadang olehberbagai keterbatasan.
c. Mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang yang berbeda-beda.
d. Keempat, studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja, baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan pninsip selektifitas.
e. Hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikasi pada pembaca.
Perhatian
Orientasi teoritik dan pemilihan pokok studi kasus dalam penelitian kualitatif bukanlah perkara yang mudah, tetapi tanpa memperdulikan kedua hal tersebut akan cukup menyulitkan bagi peneliti yang akan turun ke lapangan. Dengan memahami orientasi teoritik dan jenis studi yang akan dipilih maka setidak-tidaknya seorang peneliti telah akan mempersiapkan diri sebelum benan-benar terjun dalam kancah penelitian. Di dalam penyusunan desain penelitian kedua hal tersebut hendaknya sudah dapat ditentukan, meskipun masih bersifat sementana.
Untuk dapat mengatasi kesulitan dalam menentukan orientasi teoritik pemilihan pokok studi, terutarna dalam studi kasus, Guba dan Lincoln (1987) memberikan saran-saran sebagai berikut: Pertama, bagi peneliti pemula hendaknya banyak membaca sebanyak mungkin laporan-laporan kasus yang ada sehingga mereka dapat mempelajari bagaimana para peneliti menyusunnya. Kedua, mereka hendaknya bergabung dengan para penulis kasus yang baik untuk memahami bagaimana mereka bekerja. Ketiga, mereka harus berlatih menulis laporan kasus, dan terakhir, mereka harus meminta kritik-kritik yang positif dan para ahli.

9. Catatan kumulatif
Tujuan utama pendidikan adalah untuk mengembangkan kepribadian serba anak. Untuk debit fungsi, itu benar-benar penting untuk / nya pertumbuhan dan perkembangannya. Selama / nya sekolahnya, ia / dia harus memutuskan mata pelajaran yang dia / dia akan belajar dan setelah sekolah mengambil keputusan mengenai / profesinya atau panggilannya. Biasanya orangtua mengambil nasihat guru.
Apa Kumulatif Rekam Card (CRC)?
Ini adalah catatan anak yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan sementara di sekolah dalam semua aspek dari awal sampai akhir karir sekolahnya. Ini adalah cermin yang mencerminkan banyak sisi perkembangan murid. Komisi Pendidikan Menengah menekankan pentingnya Kumulatif Rekam Card dalam kata-kata berikut:
“Baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan internal, secara tunggal atau bersama-sama, dapat memberikan gambaran yang lengkap dan benar serba kemajuan murid pada setiap tahap tertentu dari pendidikan, namun penting bagi kita untuk menilai ini, untuk menentukan nya tentu saja masa depan studi atau panggilan masa depan.
Untuk tujuan ini, sistem yang tepat catatan sekolah harus dipertahankan untuk setiap murid yang menunjukkan pekerjaan yang dilakukan oleh dia di sekolah dari hari-ke-hari, dari bulan ke bulan, dari istilah istilah-to, dan dari tahun-ke tahun. Catatan sekolah tersebut akan menyajikan laporan yang jelas dan terus menerus dari pencapaian anak dalam kegiatan intelektual yang berbeda di seluruh tahap berturut-turut pendidikannya. ”

Dengan demikian, dari CRC, yang berguna, informasi yang valid dan otentik dapat dikumpulkan.
1. Ini membantu dalam memutus panggilan dan profesi untuk mahasiswa.
2. Ini membantu untuk mengamati berbagai aspek kepribadian anak.
3. Data ini membantu ketika seorang siswa meninggalkan sekolah dan mendapat pengakuan di sekolah lain.
4. Ini membantu dalam mengidentifikasi anak yang abnormal dan mereka yang lemah dalam studi.
5. Ini membantu dalam memecahkan masalah anak. Anda Mungkin Juga Suka:

DAFTAR PUSTAKA
Anastasi Anne & Susana Urbina. 2007. Tes Psikologi. Jakarta. Indeks.
Sobur Alex. 2010.Psikologi Umum.Bandung. Pustaka Setia.
http://revolusiterapi.wordpress.com/2012/10/17/test-proyektif-dalam-rangka-refreshing-alat/
http://nisrinaa.blogspot.com/2011/06/tes-proyektif.html
http://www.psychologymania.com/2011/07/tes-proyeksi-latar-belakang-klasifikasi.html
Kun Maryati & Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. Hlm. 138-139.
http://www.ilkom.unsri.ac.id/dosen/hartini/materi/VI_Kuesioner.pdf)
WIkipediahttp://en.wikipedia.org/wiki/Sociometry

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Januari 2015
S S R K J S M
« Jun   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: