//
you're reading...
Uncategorized

Akhlak Tasawuf

A. Pengertian akhlaq dan tasawuf,
1. Pengertian Akhlaq. Secara etimologis ahkhlaq adalah bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku, perangai atau tabi?at. Mempunyai sinonim etika dan moral. Etika dan moral berasal dari bahasa Latin yang berasal dari kata etos : kebiasaan dan mores artinya kebiasaannya. Kata akhlaq berasal dari kata kerja khalaqa yang artinya menciptakan. Khaliq maknanya pencipta atau Tuhan dan makhluq artinya yang diciptakan, sedangkang khalaq maknanya penciptaan. Kata khalaqa yang mempunyai kata yang seakar diatas mengandung maksud bahwa akhlaq merupakan jalinan yang mengikat atas kehendak Tuhan dan manusia. Pada makna lain kata akhlaq dapat diartikan tata perilaku seseorang terhadap orang lain. Jika perilaku atupun tindakan tersebut didasarkan atas kehendak Khaliq (Tuhan) maka hal itu disebut sebagai akhlaq hakiki. Dengan demikian akhlaq dapat dimaknai tata aturan atau norma prilaku yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan serta alam semesta.
Pengertian akhlaq secara terminologis menurut :
a) Imam Ghozali :
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan?.
b) Ibnu Maskawaih :
Akhlaq adalah gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran?.
c) Menurut Ahmad Amin :
Khuluq (akhlaq) adalah membiasakan kehendak?.

Dari berbagai definisi diatas, definisi yang disampaikan oleh Ahmad Amin lebih jelas menampakkan unsur yang mendorong terjadinya akhlaq yaitu ?adah : kebiasaan dan iradah : kehendak. Jika ditampilkan satu contoh proses akhlaq adalah ;
1) Dalam iradah; – harus ada kecenderungan untuk melakukan sesuatu, – terdapat pengulangan yang sering dikerjakan sehingga tidak memerlukan pikiran.
2) Dalam iradah: a) lahir keinginan-keinginan setelah ada rangsangan (stimulan) melalui indra-indranya b) muncul kebimbangan, mana yang harus dipilih diantara keinginan-keinginan itu. Padahal harus memilih satu dari keinginan tersebut. c) mengambil keputusan dengan menentukan keinginan yang diprioritaskan diantara banyak keinginan tersebut.
Contoh Pada jam 2 siang seorang berangkat ke pasar untuk mencari bengkel motor untuk membeli kampas rem. Di saat memasuki lorong gang, ketika menoleh ke arah kanan melihat warung makan yang penuh sesak dan kepulan bau nikmat yang ia hirup. Sesaat kemudian melihat arah kiri, terdapat es cendol yang laris dibeli orang. Padahal orang tersebut sudah lapar dan haus. Sementara di arah depan kelihatan mushalla yang nampak bersih dan dilihat hilir mudik orang sembahyang. Kemudian orang tersebut menentukan shalat terlebih dahulu karena mempertimbangkan jam yang sudah limit. Kesimpulan yang dipilih oleh orang tersebut setelah banyak mempertimbangkan beberapa keinginan disebut iradah. Jika iradah tersebut dibiasakan setiap ada beberapa keinginan dengan tanpa berpikir panjang karena sudah dirasakan oleh dirinya maka disebut akhlak.
Sebaliknya ada seorang kaya, mendengarkan pengajian Da?i kondang menjelaskan hikmah infaq. Orang itu kemudian tertarik dan secara spontan memberikan uang satu juta rupiah untuk didermakan. Orang tersebut belum termasuk dermawan, karena pemberiannya ada dorongan dari luar. Orang tidak termasuk ramah tamu jika ia senang membeda-bedakan tamu yang datang. Dengan demikian akhlaq bersifat konstan (tetap-selalu) spontan, tidak temporer dan juga tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
Disamping akhlaq ada istilah lain disebut etika dan moral masing-masing bahasa Latin. Tiga istilah diatas sama ?sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan seseorang. Bedanya akhlaq mempunyai standar ajaran yang bersumber kepada al-Qur?an dan Sunnah Rasul. Etika berstandar kepada akal pikiran, sedangkan moral bersumber kepada adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat. Dalam penggunaan kata-kata tersebut kadang-kadang terjadi tumpang tindih, seperti Hassan Shadily menggunakan istilah moral sama dengan akhlaq.
1. Sumber Akhlaq;
Ukuran yang dapat menentukan perbuatan itu dianggap baik ? buruk, mulia atau tercela dalam akhlaq adalah Al-Qur?an dan Sunnah Rasul. Bukan akal pikiran dan adat kebiasaan, seperti dalam etika dan moral dan bukan pula baik dan buruk ditentukan dengan akal dengan sendirinya menurut faham Mu?tazilah. Sifat-sifat baik (terpuji) dituntun dalam syara? seperti sabar, syukur, pema?af, pemurah dan jujur, sebaliknya sifat ?sifat congkak, dendam, kikir, dusta adalah sifat-sifat yang dicela oleh syara?. Dengan demikian syara? berperan untuk menuntun ajaran tersebut.
Apakah fitrah (hati nuirani), akal dan kebiasaan masyarakat dapat dijadikan ukuran baik ? buruk, terpuji ? tercela satu perbuatan. Fitrah tidak serta merta dapat dijadikan dasar untuk menentukan baik ? buruk, tercela ?terpuji suatu perbuatan, karena ia adalah potensi dasar yang dimiliki seseorang yang tidak selalu terjamin berfungsi dengan baik. Sebab dapat dipengaruhi dari luar, seperti pengaruh pendidikan dan lingkungan. Akal juga bagian dari salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan dan menghindari keburukan dari pengalaman empiris, tapi bersifat spekulatif dan subyektif. Kebiasaan masyarakat (pandangan masyarakat) dapat menentukan baik-buruk suatu hal, tetapi sangat relatif, karena akan tergantung pada kemurnihan dan kejernihan pikiran mereka. Karena itu cara untuk menentukan baik-buruk, terpuji ? tercela yang mentukan hanya ajaran Al-Qur?an dan Sunnah Rasul saw.

2. Ruang Lingkup Akhlaq
Abdullah Dr�z dalam buku Dustur al-akhlaq fi al-Islam membagi ruang lingkup akhlaq lima macam ;
1) الأخلا ق الفرد ية = akhlaq perorangan. Akhlak ini dibagi menjadi a) semua hal yang diperintahkan 9al-awamir) b) segala yang dilarang ( al-nawahi) c) hal-hal yang diperbolehkan ( al-munahat) dan d) akhlak dalam keadaan darurat al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2) الأخلا ق الأ سرية = akhlak keluarga; terbagi menjadi a) kewajiban timbal bail orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu?) b) kewajiban suami ? isteri ( wajibat baina al-azwaj) c) kewajiban terhadap kerabat dekat ((wajibat nahwa al-aqarib).
3) الأخلا ق الإجتماعية = Akhlak bermasyarakat, meliputi a) hal-hal yang dilarang (al-makhdzurat) b) hal-hal yang diperintahkan (al-awamir) dan c) kaidah-kaidah adab (qawa?id al-adab).
4) الأخلاق الد و لة = Akhlak bernegara meliputi ; a) hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-?alaqah baina al-rais wa al-sya?b) b) hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
5) الأخلا ق الد ينية = Akhlak beragama; kewajiban terhadap Allah swt.
Ruang lingkup di atas dipandang sangat luas karena mencakup semua aspek kehidupan. Secara vertikal hubungan dengan sang Haliq dan secara horizontal dengan sesama manusia. Jika ruang lingkup akhlak tersebut dipersempit tetapi memiliki cakupan yang menyeluruh maka akhlak tersebut dapat dibagi menjadi ;
a) Akhlak (tata krama) kepada Allah swt.
b) Akhlak kepada Rasul Allah saw.
c) Akhlak untuk diri pribadi.
d) Akhlak dalam keluarga.
e) Akhlak dalam masyarakat.
f) Ahlak bernegara.
Ciri-ciri akhlak dalam Islam ada lima macam;
1) Akhlak rabbani; adalah akhlak yang bersumber kepada wahyu Ilahi yang tercantum dalam Al-Qur?an dan Sunnah Rasul saw. Akhlak rabbani menekankan pada tujuan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sumber akhlak rabbani adalah bukan etika dan moral (seperti penjelasan di atas). Kebenaran nilai dalam akhlak ini bersifat mutlak dan terhindar dari nilai moral yang kacau. Ayat yang berhubungan dengan akhlak sekitar 1500 ayat dan banyak hadits Nabi .Seperti isyarat dalam QS al-Baqarah [2]: 153 ;وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعو ه , ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله …
?Inilah jalan-Ku yang lurus, hendaklah kamu mengikutinya jangan kamu ikuti jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai-berai dari jalan-Nya?? .
2) Akhlak manusiawi; adalah ajaran akhlak untuk manusia yang membutuhkan kebahagiaan yang hakiki. Ajaran ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan fitrahnya, karena untuk memelihara eksistensi manusia sebagai mahluk terhormat.
3) Akhlak universal; adalah ajaran akhlak yang mencakup semua aspek kehidupan manusia baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. Seperti kandungan QS al-An?am [6] : 151, bahwa manusia wajib menghindari sepuluh keburukan, yaitu syirik, ?aq lil walidain, qatlul walad lil imlaq, perbuatan keji terbuka atau tertutup, qatlu nafs illa bil haq, aklu malil yatim, tathfif fil kail wal wazn, membebani orang lain lampaui batas, persaksian tidak adil dan khianat.
4) Ahlak keseimbangan; manuisia mempunyai akhlak yang bersumber pada hati nurani, akal dan kekuatan buruk yang didorong hawa nafsu. Setiap orang mempunyai naluriah hewani dan naluriah malaikat. Juga mempunyai unsur ruhani dan jasmani. Masing-masing membutuhkan pelayanan yang seimbang. Kerena manusia menghendaki dua kebahagiaan yang seimban, yaitu dunia ? akhirat, maka pemenuhan kebutuhan tersebut juga dilakukan secara seimbang.
5) Akhlak realistik; manusia mempunyai kelemahan di sisi kelebihan yang dimilikinya. Manusia biasa melakukan kesalahan-kesalahan atau pelanggaran. Ajaran ini memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dengan bertaubat.

2. Pengertian Tasawuf.
Lafal tasawuf adalah kata jadian yang berasal dari ;
a) تصوف – يتصوف – تصوفاBerasal dari kata صا ف – يصوف – صوفا yang artinya suci, bersih atau murni. Kesucian, kebersihan dan kemurnian kalangan sufi terlihat dari niatnya yang suci, bersih dan murni semata-mata mengharap keridlaan Allah swt. berbulu banyak. Golongan ini mestinya harus diebut ahli safawi.
b) Ada yang menganggap berasal dari kata shaff yang artinya barisan. Kalangan sufi menganggap mereka dibarisan paling depan, karena rindu dan keinginan mereka bersamama-Nya. Istilah ini jika digunakan untuk kalangan sufi disebut ahli saffi.
c) Ada juga yang menganggap berasal dari kata suffat al-masjid = serambi masjid. Sekelompok sahabat Nabi yang hidup di serambi masjid Nabawi. Mereka meninggalkan kehidupan duniawi, sanak saudara, menyediakan seluruh waktunya untuk mendampingi Rasul serta jihad dan dakwah. Menurut Sughrawardi mereka hidup dan berkumpul di Zawiyah dan Ribat. (sekarang mirip dengan Pondok Pesantren) Rasul. sendiri mengajak untuk memperhatikan dan memberi bantuan kepada mereka. Kemudian terkenal dengan ahlu suffah. Jika kata sufi berasal dari makna ini maka mereka disebut ahli suffi.
d) Tasawuf berasal dari kata suf = wol kasar. Kalangan sufi tidak menggunakan kain yang halus untuk menyenangkan hati dan konsentrasi untuk mencintai Tuhan, akan tetapi mereka hanya menggunakan pakaian apa adanya. Terbuat dari kain kasar = suf. Secara etimologis pengambilan kata tasawuf dari kata suf lebih dapat diterima karena. Menurut Al-Kalabazi penggunaan kata tasawuf dari suf tepat jika memperhatikan gramatika bahasa. Kalangan sufi ini menjauhkan diri dari dunia, meninggalkan tempat tinggal mereka dengan melakukan pengembaraan. Menolak kesenangan jasmani, memurnikan dan mentuluskan ibadah serta membersihkan kesadaran.

Secara terminologis makna tasawuf dijelaskan sebagai berikut ;
a) Menurut Ibrahim Hilal; Tasawuf adalah memilih jalan hidup secara zuhud, menjauhkan diri dari perhiasan hidup dalam segala bentuknya. Ibrahim lebih lanjut menambahkan bahwa cara tasawuf bermacam-macam yaitu, ibadah, wirid, lapar, berjaga diwaktu malam dengan memperbanyak shalat dan ibadah lainnya. Cara ini dilakukan agar sahwat jasmaniyah lemah sedangkan semangat ruhaniyah tinggi. Pada initinya seseorang yang masuk dunia tasawuf harus menundukkan jasmani dan rohani dengan cara-cara tersebut diatas, agar dapat mencapai hakikat kesempurnaan rohani dan mengenal zat Tuhan dengan segala kesempurnaan-Nya.
b) Basyuni mendefinisikan tasawuf mengumpulkan dari definisi-definisi para ahli. Definisi I ni merupakan tahapan-tahan bagi orang yang masuk dunia tasawuf sebagai beikut ;
1) Al-Bidayah; tahap pemula atau permulaan; seorang harus berusaha untuk mendekatkan diri dan ingat kepada Tuhan. Adanya tabir yang menghalangi dirinya dengan Tuhan sedikit demi sedikit akan hilang. Terus hatinya merasakan dilimpahi oleh nur (cahaya) yang membangikitkan perasaan dan kedungguhan serta membawanya kepada ketenangan jiwa yang sempurna. Definisi ini memuat pokok pikian yang disampaikan oleh Ma?ruf al-Karakhi (w. 200 H)- mengambil hakikat dan putus asa terhadap mahluk, tasawuf harus fakir. Abu Turab al-Nakhsabi (w. 245 H) orang tasawuf harus dapat membersihkan dirinya dari segala sesuatu. Zu al-Nun al-Mishri ( w. 254 H) Sufi adalah orang yang tidak pernah minta dan tidak susah karena tidak ada (fakir). Sahl ibn Abdillah al-Tustari (w. 283 H) Sufi adalah orang yang bersih dari kekeruhan. Pikiran penuh dan terpusat kepada Tuhan.
2) Al-Mujahadah; giat dan kesungguhan. Definisi ini memuat dari definisi Abu Husain al-Nuri (w. 295 H); tasawuf adalah berakhlak dengan ahlak Allah. Sahl ibn Abdillah al-Tustari; tasawuf adalah sedikit makan, tenang dengan Allah dan menjauhi manusia. Abu Muhammad Ruwaim (w3. 303 H); tasawuf adalah keafiran, mengharap Allah, merendahkan diri dan mendahulukan orang lain dan tidak menonjolkan diri.
3) Al-Mazaqah; pengalaman dan perasaan batin dalam kontak hubungan antara manusia dengan Tuhan (sebagai kekasihnya). Defini ini memuat pikiran; Al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H); tasawuf adalah bersama Allah tanpa penghubung. Abu Muhammad Ruwaim; tasawuf : membiarkan diri dengan Allah menurut kehendak-Nya dan Abu Bakar al-Sably (w. 334 H) tasawuf : anak-anak kecil dipangkuan Tuhan. Dari berbagai komentar diatas dapat disimpulkan bahwa makna tasawuf adalah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa secara benar kepada amal dan kegiatan yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari keduniaan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, untuk mendapatkan perasaan berhubungan erat dengan-Nya.

B. Baik dan buruk.

Pengertian baik dalam etika adalah sesuatu yang berharga untuk suatu tujuan, sebaliknya sesuatu yang tidak berharga, sesuatu yang tidak berguna, sesuatu yang merugikan adalah pengertian ?buruk?. Pengertian baik buruk ada yang subyektif dan relatif. Baik untuk seorang belum tentu baik menurut orang lain. Sesuatu dianggap baik bagi seseorang apabila hal itu sesuai dan berguna untuk tujuannya. Dalam hal yang sama dapat disebut ?buruk? bagi orang lain karena tidak berguna menurut tujuannya. Masing-masing orang mempunyai tujuan yang berbada-beda, bahkan ada yang bertentangan, sehingga sesuatu yang dianggap baik oleh seorang/kelompok, mungkin dianggap buruk oleh orang lain.
Secara obyektif, ?baik? untuk manusia meskipun orang mempnyai tujuan yang berbada namun pada dasarnya bahwa tujuan manusia adalah sama, yaitu ingin baik. Atau bahagia. Tidak ada seorangpun yang ingin tidak baik (bahagia). Tujuan manusia masing-masing akhirnya adalah sama, yaitu baik. Semua mengharapkan baik. Tujuan akhir dalam etika adalah kebaikan tertinggi, disebut ?Summum Bonum?, disebut al-khair al-kulli. Kebahagian tertingi disebuit kebahagian universal atau universal happines.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2014
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: