//
you're reading...
Uncategorized

sistem-sistem Psikologi

  1. aku91.      Psikologi struktural

Psikologi struktural atau strukturalisme merupakan studi analitis tentang generalisasi pikiran manusia dewasa melalui metode introspeksi. Dalam hal ini psikologi dimaksudkan untuk mempelajari isi (konten) pikiran, sehingga sistem ini kadang juga disebut dengan psikologi konten.

Dalam buku Sejarah dan Sistem Psikologi oleh James F. Brennan pada tahun 2006, pendekatan psikologi stukturalisme berasal dari Wilhelm Wundt yang dipelopori di amerika oleh muridnya Edward Bradford Titchener. Perlu ditekankan bahwa psikologi strukturalisme ditemukan oleh Wundt sedangkan Titchener hanyalah satu dari sekian banyak murid yang dimiliki oleh Wundt, tetapi Titchener-lah yang berupaya membawa psikologi Wundt ke amerika dengan mempertahankan konsep aslinya.

Dalam konsep dan sistem ini. Psikologi strukturalisme dari Wundt dan Titchener memiliki 3 tujuan :

1.    Menggambarkan komponen-komponen kesadaran sebagai elemen-elemen dasar,
2.    Menggambarkan kombinasi kesadaran sebagai elemen-elemen dasar tersebut, dan
3.    Menjelaskan hubungan elemen-elemen kesadaran dengan sistem saraf. Kesadaran diatas diartikan sebagai pengalaman langsung. Pengalaman langsung yaitu pengalaman sebagaimana hal itu dialami. Hal ini berbeda dengan pengalaman antara. Pengalaman antara yaitu diwarnai oleh isi yang sudah ada dalam pikiran, seperti asosiasi sebelumnnya dan kondisi emosional serta motivasional seseorang.

Dengan demikian, pengalaman langsung diasumsikan tidak dipengaruhi oleh pengalaman antara. Psikologi strukturalisme berupaya mempertahankan integritas psikologi dengan membedakannya dari fisika.

Fisika mempelajari dunia fisik atau materi, tanpa merujuk pada manusia dan melalui metode observasional berupa inspeksi yang dikendalikan dengan hati-hati. Psikologi mempelajari dunia, dengan merujuk pada manusia yang mengalami sesuatu, melalui metode observasional berupa introspeksi terkontrol atas isi kesadaran.

Subjek pembahasan yang tepat bagi psikologi struktural adalah proses kesadaran dan bebas dari asosiasi. Sehingga Wundt dan Titchener berpendapat, psikologi harus terbebas dari kekuatan metafisika, pikiran awam dan kepentingan kegunaan atau terapan yang akan merusak intergritasnya.

Sedangkan metode eksperimental yang digunakan untuk memastikan ketepatan analisis isi mental adalah introspeksi. Teknik pelaporan diri ini merupakan pendekatan klasik untuk menggambarkan pengalaman pribadi. Sehingga introspeksi hanya akan dianggap valid jika dilakukan oleh para ilmuwan yang sangat terlatih, bukan oleh pengamat awam.

Disamping kelemahan psikologi struktural dalam pandangan fungsionalisme yaitu hanya sekedar mempelajari isi dan struktur yang terlibat dalam proses-proses mental, psikologi struktural memiliki kontribusi positif dalam bidang ilmu psikologi. Sistem ini mendorong psikologi menjadi ilmu pengetahuan. Wundt mendeklarasikan sebuah disiplin formal yakni psikologi yang didasarkan pada formulasi-formulasi ilmiah sehingga psikologi diakui sebagai ilmu pengetahuan.

 

  1. psikologi fungsionalisme

Secara singkat, psikologi fungsionalisme adalah orientasi dalam psikologi yang menekankan proses mental dan menghargai kebermanfaatan psikologi.

Ironisnya, psikologi fungsionalisme di kemukakan oleh titchener pada tahun 1898, hal ini di lakukan untuk membedakan pandangan-pandangan fungsionalisme dari psikologi stukturalisme yang sejati.

Menurut Boring (1950), psikologi fungsionalisme berbeda dengan psikologi strukturalisme tentang alasan dalam melakukan eksperimen. Para fungsionalis ingin mengetahui cara kerja pikiran dan apa saja kegunaan pikiran, bukan sekedar isi dan struktur apa yang terlibat dalam proses-proses mental.

Hal ini sesuai dengan filsafat pragmatisme yang menciptakan pemahaman bahwa dalam menciptakan atmosfer intelektual, yang dilakukan bukanlah mempelajari apa yang dilakukan individu, tetapi bagaimana individu mempelajari tersebut.

Psikologi fungsionalisme menghargai pentingnya adaptasi spesies dan individu terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan. Adaptasi sebagai mekanisme untuk bertahan hidup, hal ini sesuai dengan pengalaman bangsa amerika dalam menanamkan peradaban terbaik eropa dan menaklukkan benua liar tersebut.

Tokoh lain yang sangat berpengaruh dalam psikologi fungsionalisme yaitu William James (1842-1910) dan Charles Sanders Peirce (1839-1914). Keberpengaruhan mereka dalam kontribusi pemikiran pragmatisme tentang kesadaran, proses mental dan empirisisme membawa formulasi-formulasi baru psikologi yang menjadi awal munculnya sistem amerika berikutnya.

Fungsionalisme amerika adalah gerakan yang relatif tidak bertahan lama. Fungsionalisme membuka jalan bagi  pendefinisian ulang psikologi dengan pendekatan behavioristik yang dengan cepat mendominasi psikologi amerika.

Fungsionalisme dapat dipandang sebagai tahap transisional antara strukturalisme dan behaviorisme di amerika. Di sisi lain, psikologi tertanam kokoh dan menunjukkan kebernilaiannya, baik dalam akademik maupun terapan di amerika, semua karena upaya intensif yang dilakukan oleh para fungsionalis. Sehingga para fungsionalis ini disebut sebagai pembawa kemajuan yang memasukkan unsur amerika dalam psikologi dan tetap dipertahankan hingga kini.

 

  1. Psikologi behaviorisme

Psikologi behaviorisme ini merupakan transisi dari sistem sebelumnya. Psikologi behaviorisme memaknai psikologi sebagai studi tentang perilaku dan sistem ini mendapat dukungan kuat dalam perkembangannya di abad 20 Amerika Serikat.

Dalam buku Sejarah dan Sistem Psikologi oleh James F. Brennan pada tahun 2006, pandangan psikologi behaviorisme mengatakan bahwa perilaku yang dapat diamati dan dikuantifikasi memiliki maknanya sendiri, bukan hanya berfungsi sebagai perwujudan peristiwa-peristiwa mental yang mendasarinya.

Gerakan ini secara formal diawali oleh seorang psikolog Amerika bernama John Broadus Watson (1878-1958) dengan makalahnya berjudul “Psychology as the Behaviorist Views It” dan dipublikasikan pada tahun 1913.

Watson mengusulkan peralihan dari pemikiran radikal yang membahas perkembangan psikologi bedasarkan kesadaran dan proses mental. Watson mendukung perilaku tampak yang dapat diamati sebagai satu-satunya subjek pembahasan yang masuk akal bagi ilmu pengetahuan psikologi.

Sistem Watson yang memfokuskan pada kemampuan adaptasi perilaku terhadap stimuli lingkungan, menawarkan ilmu psikologi yang positif dan objektif dan pada tahun 1930 behaviorisme menjadi sistem dominan dalam psikologi Amerika.

Watson sangat berhasil dalam mengawali perubahan perkembangan psikologi. Sehingga behaviorisme secara bertahap berkembang dari definisi awal watson menjadi behaviorisme yang mencakup rangakaian aktivitas manusia dan infra manusia yang luas dan dipelajari melalui beragam metodologi empiris.

Psikologi behaviorisme sebagai disiplin empiris yang mempelajari perilaku sebagai adaptasi terhadap stimuli lingkungan. Inti utama behaviorisme adalah bahwa organisme mempelajari adaptasi perilaku dan pembelajaran tersebut dikendalikan oleh prinsip-prinsip asosiasi.

Pendekatan empiris berdasarkan pengkajian asosiasi dalam psikologi behavioristik yang secara umum mengikuti pendapat para filsuf inggris dan juga konsep locke tentang kepasifan mental yang bermakna bahwa isi pikiran bergantung pada lingkungan.

Psikologi behaviorisme juga berfundamental pada refleksiologi. Meskipun penelitian tentang perolehan refleks dilakukan sebelum diterbitkannya tulisan-tulisan Watson, karena penelitian ini sebagian besar dilakukan oleh peneliti berkebangsaan rusia seperti Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).

Tetapi kelompok ilmuwan rusia tersebut memberikan dampak besar bagi behaviorisme setelah publikasi tulisan-tulisan Watson dan berperan sebagai kekuatan untuk memperluas formulasi aslinya.

Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomenon. Dalam pengalaman tersebut sinar yang tidak bergerak dipersepsi sebagai sinar yang bergerak. Walaupun secara objektif sinar itu tidak bergerak. Dengan demikian, maka dalam persepsi itu ada peran aktif dalam diri perseptor. Ini berarti bahwa dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif saja, tetapi ada aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya. Apa yang semula terbatas pada persepsi, kemudian berkembang dan berpengaruh pada aspek-aspek lain, antara lain dalam psikologi belajar.

Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu hal yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder, bagian-bagian hanya memiliki arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya, keseluruhan ada terlebih dahulu kemudian disusul oleh bagian bagiannya. Jika kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai suatu keseluruhan, sebagai Gestalt, kemudian menyusul kita lihat adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.

  1. Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam teori psikologi Gestalt disebut sebagai fenomena (gejala). Fenomena adalah data yang paling dasar dalam psikologi Gestalt. Dalam hal ini psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat fenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu fenomena terdapat dua unsure, yaitu objek dan arti. Objek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, objek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada objek itu.

  1. psikoanalisis

Psikoanalisis merupakan sistem psikologi yang paling dikenal luas meskipun tidak secara universal dipahami.  Dalam buku Sejarah dan Sistem Psikologi oleh James F. Brennan pada tahun 2006, Pendiri aliran psikoanalisis tidak lain adalah Sigmund Freud, sudah pasti merupakan salah satu tokoh yang paling terkenal di abad terakhir. Di sisi lain, gerakan psikoanalisis tidak banyak memiliki kesamaan dengan berbagai pandangan psikologi lainnya.

Psikoanalisis jelas terkait dengan tradisi jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah entitas yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Freud dididik dalam bidang sains, namun sistemnya tidak banyak menggunakan emipirisisme sistematik.

Sebagai dokter, Freud menggunakan kekuatan observasinya yang cermat untuk mengembangkan sistemnya dalam rangka medis, mendasarkan teorinya pada berbagai studi kasus individual.

Ia tidak mengubah pemahamannya tentang ilmu pengetahuan pada abad 19 dalam upaya mengorganisasi observasinya. Ia tidak berusaha menguji hipotesisnya secara teliti, melalui verifikasi independen. Sebagaimana yang dikatakan olehnya, ia adalah psikoanalasis dan ia tidak menoleransi penyimpangan pandangan-pandangan ortodiksnya.

Konsisten dengan posisi gestalt, psikoanalisis secara teguh mendasarkan pada model aktif proses-psoses mental, namun kurang memiliki komitmen pada empirisisme seperti halnya psikologi gestalt. Freud tidak hanya konsisten pada aktivitas proses mental yang dikemukakan oleh Leibniz dan kant, tetapi juga dengan keyakinan pada abad 19 tentang tingkat aktivitas mental sadar dan tidak sadar.

Psikoanalisis memperkenalkan studi tentang proses-proses ketidaksadaran yang mempengaruhi aktivitas manusia. Psikoanalisis menekankan tujuan keseimbangan homeostatik energi-energi ketidaksadaran dalam kepribadian.

Psikoanalisis mengembangakan konsep aktivitas mental lebih luas dari pada sistem psikologi manapun. Sebagai representasi utama dari kebergantungan ekstrim pada aktivitas mental untuk menjelaskan kepribadian, psikoanalisis terpisah dari berbagai gerakan lain dalam psikologi kontemporer.

Selain itu, psikoanalisis tidak lahir dari penelitian akademis, sebagaimana sistem-sistem lain, namun merupakan produk konsekuensi terapan praktik klinis. Penyusunan obeservasi yang dilakukan freud bertujuan untuk menyusun berbagai pendekatan-pendekatan terapi yang sangat dibutuhkan.

Formulasi-formulasi inilah yang diperluas ke teori psikodinamika perkembangan kepribadian yang bergantung pada pengurangan ketegangan.

Para teoritis lain memodifikasi teori freud dan memasukkan pengaruh budaya (Jung) dan kebutuhan sosial (Adler dan Horney). Selain itu, para cendikiawan juga mengitegrasikan model psikoanalisis dengan pendekatan lapangan (Sullivan) dan asumsi eksistensial (Fromm).

Sebagai sebuah gerakan kontemporer, psikoanalisa masih berpengaruh besar dalam psikiatri dan psikologi klinis, meskipun akhirnya, gerakan ini terpecah karena tidak adanya kesepakatan metodologis.

 

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Desember 2012
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: