//
you're reading...
Uncategorized

PERENCANAAN DESAIN PEMBELAJARAN

A. Desain pembelajaran

Disain pembelajaran adalah suatu prosedur yang terdiri dari langkah-langkah, dimana langkah-langkah tersebut di dalamnya terdiri dari analisis, merancang, mengembangkan, menerapkan dan menilai hasil belajar (Seels & Richey, AECT1994). Hal tersebut juga dikemukakan oleh Morisson, Ross & Kemp (2007) yangmendefinisikan desain pembelajaran sebagai suatu proses desain yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori-teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bidang pendidikan, dan metode-metode manajemen.

Tujuan sebuah desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.

Menurut Morisson, Ross & Kemp (2007) terdapat empat komponen dasar dalam perencanaan desain pembelajaran. Keempat hal tersebut mewakili pertanyaanpertanyaan berikut:

  1. Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa atau peserta ajar)
  2. Anda ingin siswa atau peserta ajar mempelajari apa? (tujuan)
  3. Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik untuk dipelajari? (strategi pembelajaran)
  4. Bagaimanakah cara anda mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai? (prosedur evaluasi) Lembar Informasi

 

B. Identifikasi masalah

Sebelum kita memulai desain pembelajaran, kita harus bertanya terlebih dahulu mengapa kita memerlukan pengajaran? Dalam kondisi seperti apakah yang disarankan untuk melakukan pengajaran itu? untuk lebih jelasnya, mari kita tinjau contoh berikut:

Nilai rata-rata yang diperoleh kelas tujuh dalam mata pelajaran matematika di kota Bandung dibawah rata-rata nilai yang telah ditetapkan. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa siswa tidak memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, untuk membantu meningkatkan nilai mereka, banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu dengan menambahkan satu atau dua unit pengajaran lagi. Tetapi, apakah dengan menambah pengajaran itu dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi?

Disinilah tahap pengidentifikasian masalah dilakukan, untuk mengetahui apakah pengajaran yang dilakukan bisa dijadikan bagian dari solusi masalah yang ada. Sekali kita tahu akar permasalahannya, maka kita dapat mengetahui pengajaran seperti apakah yang dapat memecahkan persoalan tadi, dan seorang desainer pembelajaran harus sudah dapat menentukan cara yang paling sesuai dan tepat. Untuk itu para desainer dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari ketiga bentuk pendekatan yang berbeda-beda berikut dalam mengidentifikasi masalah, yaitu:

a. Analisis Kebutuhan

Dalam konteks pengembangan kurikulum, John McNeil (1985) mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses yang menentukan kebutuhan dalam pendidikan dan apa yang menjadi prioritasnya. Kebutuhan yang diartikan sebagai suatu kondisi dimana terdapat suatu kesenjangan antara apa yang diterima oleh siswa dengan apa yang diharapkan diterima oleh siswa.

Pengertian tersebut sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Seels dan Glasgow (1990) yang menyatakan bahwa analisis kebutuhan adalah proses mengumpulkan informasi tentang kesenjangan dan menentukan prioritas dari kesenjangan tersebut untuk dipecahkan. Berdasarkan pengertian di atas disebutkan bahwa analisis kebutuhan adalah suatu proses artinya ada rangkaian kegiatan dalam pelaksanaannya. Proses yang diawali dengan perencanaan, mengumpulkan data, menganalisa, dan berakhir pada mempersiapkan laporan akhir.

Menurut Morisson, Ross & Kemp (2007) proses tersebut mempunyai empat fungsi, diantaranya adalah:

  1. Proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan tugastugas tertentu, yaitu masalah apa yang mempengaruhi performance.
  2. Proses untuk mengidentifikasi kebutuhan yang bersifat kritis, termasuk kebutuhan yang mempengaruhi dari segi financial, keselamatan, atau mengganggu stabilitas lingkungan pendidikan.
  3. Proses untuk menyusun prioritas guna menyeleksi suatu intervensi.
  4. Proses yang menyediakan data dasar untuk menguji efektifitas suatu pembelajaran.

b. Analisis Tujuan

Kadang-kadang pendekatan analisis kebutuhan tidak praktis dan realistis, oleh sebab itu biasa digunakan pendekatan alternatif lainnya untuk mendefinisikan masalah, yaitu analisis tujuan. Mager (1984a) mendeskripsikan analisis tujuan sebagai suatu metode untuk mendefinisikan yang tidak terdefinisikan. Beberapa desainer menganggap analisis tujuan sebagai suatu bagian penting dalam proses analisis kebutuhan. Tidak seperti analisis kebutuhan yang dimulai dengan mengidentifikasi masalah, analisis tujuan dimulai dengan memberikan saran berupa suatu permasalahan. Misalnya, seorang kepala sekolah memintamu untuk mengatur suatu pelatihan internet bagi guru di sekolahnya. Ketika anda tidak mengenal para guru, anda dapat menghadiri pertemuan fakultas keguruan misalnya dan mengadakan analisis tujuan untuk menentukan apa yang para guru inginkan dalam pelatihan itu.

Analisis tujuan juga dapat menggunakan data dari analisis kebutuhan untuk menyusun prioritas. Misalnya, analisis kebutuhan mengidentifikasi kebutuhan untuk melaksanakan pelatihan internet bagi para guru. Dari data tersebut, analisis tujuan akan menggunakan kebutuhan tersebut serta mewawancara kegiatan pelatihan itu untuk menentukan tujuan pengajaran.

Sejalan dengan Klein, dkk (1971) dan Mager (1984a), Morisson dkk (2007) memaparkan ada enam tahapan dalam analisis tujuan, diantaranya: (1) identifikasi tujuan, dengan mengikutsertakan para ahli yang memahami permasalahan yang sedang dihadapi untuk menentukan satu atau dua tujuan yang berhubungan dengan kebutuhan tadi. Suatu tujuan yang mengarahkan kita pada permasalahan yang ada; (2) menyusun hasil yang ingin dicapai, artinya membiarkan para ahli tadi untuk membuat sejumlah hasil yang ingin dicapai untuk setiap tujuan yang sudah dibuat. Hasil tersebut harus mengidentifikasikan sikap yang ditunjukkan siswa; (3) memperbaiki hasil, tahap ini adalah tahap utama penyeleksian, seperti sorot semua hasil yang ada dan hapus jika ada yang double, kombinasikan hasil yang serupa dan lain sebagainya untuk memperjelas pernyataan hasil akhirnya; (4) mengurutkan hasil, urut dan pilihlah hasil yang paling penting. Mengurutkannya itu bisa berdasarkan manfaatnya, hal-hal yang dapat menyebabkan masalah jika hal tersebut diabaikan, atau criteria-kriteria yang relevan lainnya. (5) memperbaiki hasil kembali, tahap ini memverifikasi kebutuhan yang ada dan hasil yang ingin dicapai memiliki saling keterkaitan dengan tugasnya, yaitu dengan cara mengidentifikasikan kesenjangan antara hasil yang ingin dicapai dengan kenyataan yang ada. (6) membuat final ranking, maksudnya mengurutkan kembali urutan hasil yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan seberapa penting hasil yang ingin dicapai itu dapat mendukung pengajaran, kemudian mempertimbangkan pula efek

secara keseluruhan dari hasil tadi.

c. Analisis performance

Mager (1984b) mendeskripsikan analisis performance sebagai suatu bantuan untuk mengidentifikasi masalah performance. Rosetti (1999) mendeskripsikan proses ini sebagai pencarian sumber masalah. Analisis ini membantu untuk memutuskan apakah hasil pelatihan itu benar-benar dialamatkan pada masalah agar diselenggarakannya pelatihan atau karena adanya intervensi lain yang lebih mengena.

Kebutuhan atau masalah individu ataupun suatu organisasi sering berubahubah, masalah hari ini belum tentu sama dengan masalah yang akan dihadapi satu atau enam bulan yang akan datang. Oleh sebab itu, analisis kebutuhan, analisis tujuan dan analisis performance sering dibatasi oleh waktu dan harus selalu diperbaharui.

Pertanyaan selanjutnya, kapan desainer pembelajaran melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada? Roseti (1999) mengidentifikasi ada 4 peluang untuk mengidentifikasi masalah yang muncul, diantaranya pada saat memperkenalkan atau menyambut suatu produk baru. Kesempatan kedua yaitu pada saat merespon permasalahan yang terjadi. Ketiga, pada saat menyadari adanya kebutuhan untuk mengembangkan kompetensi sumber daya manusia, sehingga mereka selalu dapat berkontribusi kepada pertumbuhan suatu organisasi. Dan yang keempat adalah pengembangan strategi, dimana suatu analisa dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk membuat keputusan dalam merencanakan suatu strategi.

C. Analisis Karakteristik Siswa

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, komponen dasar pertama dalam suatu perencanaan desain pembelajaran adalah siswa. Proses pembelajaran pada hakikatnya bertujuan untuk membelajarkan siswa agar memperoleh tujuan yang ingin dicapai, oleh sebab itu siswa harus dijadikan pusat dari segala kegiatan. Dengan demikian, analisis siswa merupakan suatu hal yang sangat penting sebelum merencanakan suatu desain pembelajaran untuk mengetahui kondisi siswa, seperti informasi apa saja yang harus diterima ataupun yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum? Masalah apa saja yang mereka hadapi dalam proses belajar? dan lain sebagainya. Kemudian keputusankeputusan yang diambil dalam perencanaan dan desain pembelajaranpun disesuaikan dengan kondisi siswa yang bersangkutan, baik sesuai dengan kemampuan dasar, minat dan bakat, motivasi belajar, dan gaya belajar siswa itu sendiri.

Diawal analisa, tugas yang paling penting dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik mereka yang paling krusial terhadap pencapaian tujuan pelatihan. Heinich, Molenda, Russell, dan Smaldino (1999) menyarankan kepada para desainer untuk mempertimbangkan tiga buah karakteristik siswa diawal proses analisa, yaitu: karakteristik umum, karakteristik yang spesifik dan gaya belajar.Karakteristik umum merupakan variable yang luas, seperti jenis kelamin, usia, pengalaman kerja, pendidikan, dan suku bangsa. Kemudian karakteristik yang spesifik meliputi kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa untuk mengikuti pelatihan. Sedangkan gaya belajar lebih kepada sifat perorangan dalam melakukan tugas belajarnya dan memproses informasi. Sebagian dari mereka suka mencari metode-metode tertentu yang paling sesuai untuk belajar. Selama ini, telah diketahui bahwa daripada menghadiri kuliah dan membaca teks materi, beberapa individu lebih nyaman belajar dari media visual, dan ada pula yang lebih nyaman lagi belajar dari aktifitas fisik dan manipulasi objek.

D. Tujuan Pembelajaran

Dalam konteks pendidikan, tujuan merupakan persoalan tentang misi dan visi suatu lembaga pendidikan. Artinya, tujuan penyelenggaraan pendidikan diturunkan dari visi dan misi lembaga, dan sebagai arah yang harus dijadikan rujukan dalam proses pembelajaran. Komponen ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Kalau diibaratkan, tujuan pembelajaran adalah jantungnya, dan suatu proses pembelajaran terjadi manakala terdapat tujuan yang harus dicapai.

Setiap guru perlu memahami dan terampil dalam merumuskan tujuan pembelajaran, karena rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektifitas keberhasilan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala siswa dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan pencapaian tujuan merupakan indikator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran juga dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan kegiatan belajar siswa dalam melaksanakan aktifitas belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, guru juga dapat merencanakan dan mempersiapkan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk membantu siswa belajar.

Tujuan pembelajaran membantu dalam mendesain sistem pembelajaran. Artinya, dengan tujuan yang jelas dapat membantu guru dalam menentukan materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, alat, media dan sumber belajar, serta dalam menentukan dan merancang alat evaluasi untuk melihat keberhasilan belajar siswa. Selain itu, tujuan pembelajaran juga dapat digunakan sebagai control dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran.

Artinya, melalui penetapan tujuan, guru dapat mengontrol sampai mana siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan sesuai dengan tujuan dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Lebih jauh dengan tujuan dapat ditentukan daya serap siswa dan kualitas suatu sekolah.

E. Strategi Pembelajaran

Desain pembelajaran dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu strategi penyampaian dan strategi pembelajaran. Strategi penyampaian menggambarkan lingkungan belajar secara umum. Lingkungan belajar ini mulai dari presentasi pengajaran biasa hingga ke interaksi multimedia mutakhir atau pengajaran bebasis web.

Strategi ini sering di klasifikasikan sesuai dengan tingkat pemahaman perindividu. Pengajaran perindividu ini menunjukkan isi materi atau tujuan pembelajaran yang disesuaikan untuk setiap individu pelajar. Sehingga hal ini memungkinan adanya seorang pelajar yang masih mempelajari unit satu sementara pelajar yang lain sudah ke unit lima. Sedangkan pendekatan kelompok adalah tipe pengajaran dimana ketika ujian semua peserta ajar mengikutinya sesuai jadwal yang ditetapkan.

Tingkatan kedua adalah strategi pembelajaran, yang menjelaskan serangkaian formula dan metoda pembelajaran untuk mencapai tujuan. Dimana, tujuan utama kita adalah mendesain suatu pembelajaran yang efektif dan efisien, sehingga pelajar dapat menunjukkan hasil yang reliable setiap waktu. Formula tadi mendeskripsikan metoda yang paling optimum untuk setiap tipe isi pembelajaran, membimbing dalam merancang urutan pembelajaran dan merealisasikannya ke dalam strategi penyampaian. Biasanya metode ini dibuat berdasarkan pada penelitian atau pengalaman. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat strategi pembelajaran:

  • Apakah cara terbaik untuk mengajarkan fakta, konsep, peraturan, prosedur,kecakapan individu, atau sikap?
  • Bagaimana saya dapat membuat pembelajaran yang bermakna?
  • Bagaimana saya dapat mengajarkan tujuan pembelajaran yang berfokus pada kecakapan individu?
  • Cara terbaik apakah untuk menyajikan isi materi sehingga setiap pelajar dapat mencapai tujuan pembelajaran?

Belajar adalah sebuah proses aktif dimana pelajar menggagas hubungan yang bermakna antara pengetahuan yang baru diterima dengan pengetahuan yang dimiliki pelajar sebelumnya. Strategi perancangan pembelajaran yang baik akan memotivasi pelajar untuk secara aktif membuat hubungan antara apa yang diketahui pelajar dengan informasi yang baru diterima.

Menurut Hamzah (2006), setidaknya ada tiga jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yaitu:

  1. Strategi pengorganisasian pembelajaran
  2. Strategi penyampaian pembelajaran
  3. Strategi pengelolaan pembelajaran

Strategi penyampaian pengajaran menekankan pada media apa yang dipakai untuk menyampaikan pengajaran, kegiatan belajar apa yang dilakukan pelajar, dan dalam struktur belajar mengajar yang bagaimana. Strategi pengelolaan menekankan kepada penjadwalan penggunaan setiap komponen strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian pengajaran, termasuk pula pembuatan catatan tentang kemajuan belajar peserta ajar.

Rumusan Strategi Pembelajaran

Rumusan berikut adalah berguna sebagai panduan pembuatan strategi pembelajaran guna mencapai tampilan isi masing-masing.

  1. Rumusan untuk Fakta Pengajaran

Fakta adalah asosiasi pernyataan hubungan antara dua hal tertentu. Untuk  fakta yang nyata, di awal presentasi sebaiknya pelajar dihadapkan pada pengalaman langsung dengan objek pembelajaran. Misalnya untuk menyampaikan fakta bahwa isi buah manggis itu berwarna putih, maka kita harus membuka atau membelah buah manggis tersebut dan membiarkan pelajar mengetahui warna isi buah tersebut. Ketika mengajarkan fakta yang abstrak, maka pengajar pertama-tama mencari representasi yang mewakili fakta, misalnya dengan menampilkan gambar dari artefak.

2. Rumusan untuk Konsep Pengajaran

Konsep adalah kategori yang digunakan untuk gagasan atau sesuatu yang serupa untuk mengorganisir pengetahuan. Rekomendasi strategi pemanggilan kembali untuk konsep adalah semacam pengulangan, latihan,  peninjauan dan membantu mengingat kembali.

3. Rumusan untuk Prinsip dan Peraturan Pengajaran

Prinsip atau aturan adalah pernyataan yang menyatakan hubungan antara konsep-konsep.

4. Rumusan untuk Prosedur Pengajaran

Prosedur adalah bagian dari langkah-langkah pelajar untuk memenuhi tugas. Seperti konsep dan prinsip, prosedur dapat pula diambil dalam bentuk pemanggilan kembali (recall) atau aplikasi. Menampilkan kembali menuntut pelajar untuk membuat daftar urutan atau menggambarkan langkah-langkah  dalam prosedur, sedangkan aplikasi menuntut pelajar untuk mendemonstrasikan prosedur tersebut.

5. Rumusan untuk Kecakapan Individu Pengajaran (Interpersonal Skills)

Interpersonal skill selaras dengan membangun kemampuan berkomunikasi. Penampilan untuk Interpersonal skill ini dapat berupa recall ataupun aplikasi, dengan tekanan pokok pada aplikasi.

6. Rumusan untuk Sikap Pengajaran

Sikap terdiri dari kepercayaan dan asosiasi behavior atau respon. Strategi untuk mengajarkan perubahan sikap adalah sama dengan strategi untuk tujuan interpersonal. Rumusan untuk sikap adalah model behavior, membangun model verbal dan imaginasi, menggunakan latihan mental.

F. Evaluasi Pembelajaran

Proses evaluasi berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrument yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan data tersebut guru dapat mengembangkan dan memperbaiki program pembelajaran. Sedangkan tugas desainer, selain menentukan instrument juga perlu merancang cara menggunakan instrument beserta kriteria keberhasilannya.

Hal ini perlu dilakukan, sebab dengan kriteria yang jelas dapat ditentukan apa yang harus dilakukan siswa dalam mempelajari isi atau bahan pelajaran.

Dalam perencanaan dan desain pembelajaran, rancangan evaluasi merupakan hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Melalui evaluasi yang tepat, maka kita dapat menentukan efektivitas program dan keberhasilan peserta belajar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, sehingga informasi dari kegiatan evaluasi seorang desainer pembelajaran dapat mengambil keputusan apakah program pembelajaran yang dirancangnya perlu diperbaiki atau tidak, bagian mana yang dianggap memiliki kelemahan sehingga perlu diperbaiki.

Ada beberapa pengertian evaluasi. Pengertian evaluasi yang yang dikemukakan oleh Worthen dan Sanders (1987) adalah proses pengumpulan informasi untuk membantu pengambil keputusan dan didalamnya terdapat perbedaan mengenai siapa yang dimaksudkan dengan pengambil keputusan. Tyler (1949) memfokuskan evaluasi pada upaya untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada hasil belajar (behavior). Hasil belajar tersebut umumnya diukur dengan tes. Guba dan Lincoln (Hamid Hasan, 1988) mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluation). Sesuatu yang dipertimbangkan tersebut dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau sesuatu kesatuan tertentu.

Dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. tujuan pengukuran,
  2. ada objek ukur,
  3. alat ukur,
  4. proses pengukuran,
  5. hasil pengukuran kuantitatif.

Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:

  1. Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
  2. Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah
  3. berdasarkan atas tujuan yang jelas.
  4. Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.

Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran.

Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, pengajar akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:

  1. perencanaan,
  2. pengumpulan data,
  3. verifikasi data,
  4. analisis data, dan
  5. interpretasi data.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai. Evaluasi pembelajaran adalah hal yang penting dilakukan dalam proses perencanaan dan desain pembelajaran. Setelah memahami karakteristik pelajar, kita mengidentifikasi tujuan pembelajaran dan memilih strategi pengajaran untuk menyempurnakannya. Pada akhirnya kita harus menguji instrumen dan materi untuk mengukur tingkat pengetahuan pelajar, kemampuan dan perubahan sikap pelajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui evaluasi yang tepat bukan saja kita dapat menentukan keberhasilan pelajar mencapai tujuan pembelajaran, akan tetapi juga sekaligus dapat melihat efektivitas program desain yang kita rencanakan. Dalam hal ini evaluasi berarti proses penggunaan pengukuran atau taksiran untuk membuat pendapat /penilaian tentang sesuatu.

Dalam tahap ini kita menguji tujuan dan bagian utama dari evaluasi serta memperhatikan konsep penting peran evaluasi dalam proses perencanaan pengajaran. Hamalik (2003) menjelaskan pentingnya perencanaan evaluasi sebagai berikut:

  1. Rencana evaluasi membantu kita untuk menentukan apakah tujuan-tujuan telah dirumuskan dalam artian tingkah laku. Hal ini akan memudahkan perencanaan suatu tes untuk mengukur prestasi peserta ajar. Penulisan suatu tes akan membantu kita untuk memeriksa tujuan-tujuan dan jika perlu mengadakan revisi sebelum kita merancang pengajaran.
  2. Berdasarkan rencana evaluasi yang telah ada, selanjutnya kita dapat menyiapkan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Dengan informasi tersebut dapat kita ketahui apakah peserta ajar telah memahami tujuan, apakah mereka telah mencapainya, dan sebagainya.
  3. Rencana evaluasi memberikan waktu yang cukup untuk merancang tes. Untuk menyusun tes yang baik, diperlukan persiapan matang yang mungkin akan menyita waktu yang cukup banyak.

Berdasarkan ketiga hal tersebut kemampuan untuk mengembangkan alat

evaluasi merupakan suatu keharusan bagi seorang desainer pembelajaran.

Karakteristik Evaluasi

Ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi, yaitu:

  1. Evaluasi merupakan proses

Dalam suatu pelaksanaan evaluasi seharusnya terdiri dari berbagai macam tindakan yang harus dilakukan. Dengan demikian, evaluasi bukanlah hasil atau produk, akan tetapi rangkaian kegiatan. Evaluasi dilakukan untuk menentukan judgement terhadap sesuatu.

  1. Berhubungan dengan pemberian nilai atau arti.

Berdasarkan hasil pertimbangan evaluasi apakah sesuatu itu memiliki nilai atau tidak. Dengan kata lain, evaluasi dapat menunjukkan kualitas yang dinilai.

Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Evaluasi bertujuan untuk merumuskan apa yang harus dilakukan, mengumpulkan informasi, dan menyajikan informasi yang berguna bagi menetapkan alternatif keputusan. Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1)             Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2)             Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.

3)             Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.

4)             Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Evaluasi dapat menentukan efektivitas kinerja dan memberikan informasi untuk perbaikan. Ada beberapa fungsi evaluasi, yaitu:

  1. Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi peserta ajar. Melalui evaluasi peserta ajar akan mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran yang dilakukannya.
  2. Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian peserta ajar dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan.
  3. Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum, khususnya untuk perbaikan program selanjutnya.
  4. Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh peserta ajar secara individual dalam mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan dan pengembangan karir.
  5. Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai. Misalnya, apakah tujuan itu perlu diubah atau ditambah.
  6. Evaluasi sebagai umpan balik penentuan kebijakkan untuk semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan Evaluasi sering dianggap sebagai kegiatan akhir dari suatu proses kegiatan.

Siswa dievaluasi setelah ia selesai melakukan suatu pelajaran, apakah ia berhasil atau tidak. Kurikulum dievaluasi setelah diimplementasikan, apakah kurikulum tersebut telah mencapai tujuan yang diharapkan atau belum, bagianbagian mana yang perlu dievaluasi. Fungsi evaluasi seperti contoh diatas diformulasikan oleh Scriven (1967) dalam istilah formatif dan sumatif.

Evaluasi Formatif

Formatif adalah fungsi evaluasi untuk memberikan informasi dan pertimbangan yang berkenaan dengan upaya untuk memperbaiki suatu pembelajaran dalam proses pengembangan atau belum selesai. Evaluasi formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk melihat kemajuan belajar peserta ajar. Fungsi formatif suatu evaluasi hanya dapat dilaksanakan ketika evaluasi itu berkenaan dengan proses dan bukan berfokus pada hasil. Bahkan ahli perencana pembelajaran handal pun tidak begitu menyukai untuk membuat pengajaran yang sempurna pada saat pertama. Terlihat luar biasa ketika konsep atau gagasan tidak berjalan seperti yang direncanakan ketika diterapkan di dalam kelas. Evaluasi formatif menjadi bagian penting proses perencanaan pangajaran, hal ini berfungsi untuk menginformasikan nsruktur/pengajar atau tim perencana, seberapa besar kemajuan program pengajaran disajikan sesuai tujuan pembelajaran. Evaluasi formatif lebih berguna ketika dilakukan selama pembuatan dan ujicoba. Dapat dilakukan ketika proses. Jika rencana pengajaran berisikan kelemahan, hal ini akan dapat diidentifikasi dan di eliminasi sebelum penerapan keseluruhan.

Hasil tes, reaksi pelajar, observasi kerja pelajar, tinjauan oleh ahli materi pelajaran, dan saran-saran dari kolega dapat menjadi indikator kekurangan dalam sekuen, prosedur atau material pembelajaran. Evaluasi formatif adalah kontrol mutu dari proses pembuatan perencanaan pengajaran. Dalam hal ini kita belajar bagaimana mengevaluasi kemajuan sesuai dengan perencanaan.Tes formatif dan revisi adalah penting untuk keberhasilan perencanaan desain pembelajaran. Biasanya berhubungan tidak hanya kesesuaian tujuan pembelajaran, isi materi, strategi pembelajaran dan material tapi juga untuk peranan individu, penggunaan fasilitas dan perlengkapan, jadwal, dan faktor lain yang secara bersamaan mempengaruhi penampilan optimal dalam pencapaian tujuan. Perlu diingat, proses perencanaan adalah interaksi berkelanjutan, dimana setiap elemen mempengaruhi elemen yang lain.

Perencana pengajaran dan pengajar perlu menggunakan evaluasi formatif. Untuk perencana, biasanya fokus pada keefektifan materi. Sehingga jika pelajar berpenampilan buruk, kesimpulannya adalah materi, tidak hanya pelajar yang disalahkan (Hellebrandt & Russel, 1993,p.22). Untuk pengajar, fokus kepada pelajar. Jika pelajar tidak menampilkan perubahan yang berarti seperti yang diharapkan, dan keefektifan pembelajaran telah didemonstrasikan, kesimpulannya adalah pelajar, bukan materi yang disalahkan. Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat digunakan oleh perencana pengajaran untuk mendapatkan data selama evaluasi formatif:

  1. Memberikan tujuan pembelajaran untuk setiap unit atau pelajaran, apakah tingkat pembelajaran dapat diterima? Apakah kelemahan yang jelas terlihat/nyata?
  2. Apakah pelajar dapat menggunakan pengetahuannya atau menampilkan kemampuan pada tingkatannya? Adakah yang menunjukkan kelemahan?
  3. Berapa lama waktu pengajaran dan pembelajaran yang dibutuhkan? Apakah dapat diterima?
  4. Apakah kegiatannya terlihat sesuai dan teratur untuk pengajar dan pelajar?
  5. Dimana materi nyaman dan mudah untuk ditempatkan, digunakan dan diarsipkan?
  6. Apakah reaksi pelajar terhadap metode pelajaran, kegiatan, materi, dan metode evaluasi?
  7. apakah setiap tes perunit dan hasil yang lain mengukur taksiran kepuasan tujuan pembelajaran?
  8. Apa perbaikan dalam program terlihat penting ( isi, format dsb.)?
  9. Apakah keadaan pembelajaran telah sesuai?

Evaluasi Sumatif

Fungsi sumatif adalah apabila evaluasi itu digunakan untuk melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan. Fungsi ini berhubungan dengan pencapaian suatu hasil yang dicapai suatu program. Fungsi sumatif tidak dapat diterapkan ketika perencanaan pengajaran masih berproses. Dimana fungsi ini memberikan pertimbangan terhadap hasil mengembangan dapat berupa dokumen rencana pembelajaran, hasil belajar, ataupun dampak pembelajaran lingkungan belajar. Evaluasi sumatif dilakukan selama menilai tingkat dimana hasil utama tercapai diakhir pembelajaran. Apakah akan dilakukan postes perunit dan ujian akhir untuk pengajaran. Untuk mengukur keefektifan pelajar, evaluasi sumatif juga sering mengukur hal-hal sebagai berikut.

–       Ketepatgunaan pembelajaran

–       Biaya dari pembuatan program

–       Kelangsungan biaya

–       Reaksi terhadap program pembelajaran

–       Keberlangsungan keuntungan suatu program

Kelangsungan keuntungan suatu program dapat ditetapkan mengikuti pelajar yang menyelesaikan program pembelajaran untuk menutupi dimanapun dan kapanpun mereka menggunakan pengetahuannya, kemampuannya, dan sikapnya. Berdasarkan fungsi sumatif ini maka akan dihasilkan suatu pertimbangan apakah perlu dilanjutkan karena keberhasilannya dan masih dianggap relevan dengan perkembangan serta tuntutan, atau harus diganti karena ketidaksesuai dengan tuntutan.

Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memutuskan penilaian atau keberhasilan seseorang atau sesuatu (misalnya pelajaran, program, proyek). Sebelum melakukan evaluasi, kita harus menentukan tujuannya. Dari keseluruhan tujuan kelengkapan pelatihan dan pendidikan adalah untuk menetapkan keberhasilan pelajar dalam pembelajaran. Apakah hasil evaluasi akan digunakan untuk meningkatkan bagaimana pelatihan diajarkan? Apakah hasil evaluasi digunakan untuk menilai bahwa pengajaran telah dilakukan? Atau telah dialihkan untuk suatu waktu. Hal yang menarik ini saling membantu, tetapi biasanya pendekatan evaluasi dilakukan sesuai/ tergantung kepada hal yang lebih berguna, yaitu evaluasi formatif, sumatif, atau pendekatan konfirmatif.

 

Evaluasi Konfirmatif

Di dunia bisnis pelatihan seringkali ditawarkan kepada karyawan setelah permasalahan yang terjadi selesai diatasi. Evaluasi konfirmatif adalah rancangan pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui apakah pelatihan atau pembelajaran sesuai dengan apa yang telah dilakukan (permasalahan yang telah diatasi).

Peranan Tujuan Pembelajaran

Desain pembelajaran berkaitan erat dengan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan aspek yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya pada pencapaian tujuan tersebut. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kompetensi, yakni kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta ajar. Kompetensi yang harus dicapai dirumuskan dalam bentuk perubahan perilaku yang terukur yang selanjutnya dinamakan objective. Perubahan perilaku sebagai objective dikembangkan oleh Merger dalam format ABCD, yaitu Audience (siapa yang harus memiliki kemampuan), Behavior (perilaku yang bagaimana yang diharapkan dapat dimiliki), Condition  (dalam kondisi dan situasi yang bagaimana subjek dapat menunjukkan kemampuan sebagai hasil belajar yang telah diperolehnya), Degree (kualitas atau kuantitas tingkah laku yang diharapkan dicapai sebagai batas minimal).

Bentuk perumusannya dapat dilihat pada contoh berikut ini. Disampaikan tentang Teknik presentasi dengan powerpoint (C), diharapkan peserta belajar (A), dapat mengoperasikan (B) tools dalam powerpoint dengan tepat sesuai fungsinya (D).

Dalam rumusan tujuan pembelajaran diatas, yakni dapat mengoperasikan.

Perilaku tersebut merupakan perilaku yang terukur yang dapat diobservasi.Kata mengoperasikan merupakan perilaku yang spesifik atau yang kita sebut sebagai kompetensi. Oleh karena tujuan pembelajaran atau kompetensi merupakan tujuan pembelajaran yang harus dicapai, maka desainer pembelajaran harus segera merumuskan item tes sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Perumusan tes setelah perumusan tujuan bukan hanya berguna dalam menentukan indikator keberhasilan, akan tetapi juga berfungsi untuk mengecek ketepatan rumusan tujuan (Sanjaya Wina 2008). Perhatikan contoh berikut.

Rumusan Tujuan Evaluasi

Setelah Kegiatan Belajar Mengajar berakhir, diharapkan peserta ajar dapat mengemukakan perbedaan pengertian antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

Coba anda kemukakan, apa perbedaan pengertian antara evaluasi formatif dan evaluasi

sumatif. Dari rumusan tersebut, tampak jelas bahwa perubahan perilaku yang terkandung dalam tujuan itu dapat diukur, karena memang melalui alat evaluasi yang dapat ditentukan keberhasilannya. Artinya, apabila diakhir Kegiatan Belajar Mengajar, kemudian peserta belajar dapat menjelaskankan pengertian evaluasi formatif dan membedakannya dengan evaluasi sumatif, maka Kegiatan Belajar Mengajar dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, jika peserta belajar tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, maka dapat dikatakan Kegiatan Belajar Mengajar tidak berhasil.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

%d blogger menyukai ini: