//
you're reading...
Uncategorized

HAKEKAT PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN

oleh ; Imam Mustaqim, S.Pd.I.,M.Pd 

  1. 1.                  Pengertian Pendidikan Secara Sempit

Mengapa manusia diciptakan Tuhan? Hanya Allah Swt yang yang tahu. Tetapi mengapa manusia lebih istimewa dari mahluk lain? Itu dia persoalannya. Manusia adalah satu diantara mahluk yang diciptakan Tuhan yang memiliki keistimewaan tersendiri dari mahluk yang lain seperti bangsa jin, iblis, setan, binatang dan tumbuhan, tetapi dalam hal ini kita tidak akan berdalam-dalam dengan mahluk Tuhan dari bangsa jin, iblis, setan, binatang dan tumbuhan. Yang jelas dengan mahluk didunia ini diciptakan Tuhan mempunyai perbedaan secara hakiki. Mereka disebutkan disini hanya sebagai perbandingan untuk mendalami persoalan utama uraian ini yaiitu manusia sebagai objek pendidikan.

Mahluk Jin, ibilis dan setan adalah mahluk gaib, semestara tumbuhan mahluk tampa roh, tetapi binatang dan manusia mempunyau dua jasad, jasmani dan rohani. Binatang yang lahir bisa langsung hidup mandiri karena secara fisik telah sanggup melanjutkan kehidupan sendiri. Ketika lahir hampir sempurna secara fisik, karena Tuhan telah memberikan instink (naluri) sebagai kemampuan tertinggi. Kalau manusia tidak, ia lahir dengan ketidakberdayaan, di mana instink yang diberikan Tuhan kepada manusia hanya kemampuan dasar tumbuh secara pelan-pelan sesuai dengan irama perkembangan masing-masing, yang memerlukan orang lain.

Ketidakberdayaan ini mengharuskan anak mendapatkan bantuan orang lain (orang dewasa) melalui pergaulan untuk dapat menjadi manusia, sebab kalau tidak, ia akan menjadi manusia dalam bentuk lain, seperti kisah Tarzan di India. Kalau binatang tidak akan ada kemungkinan untuk menjadi manusia walaupun ia dipelihara oleh manusia, tetapi berbeda dengan manusia yang mempunyai kemungkinan untuk itu.

Dan saya berani mengatakan bisa lebih dari binatang. Mengapabegitu?

Orang dewasa yang pertama yang bertanggung jawab untuk itu adalah kedua orang tuanya, dan orang dekat lainnya di rumah seperti nenek, datuk, kakak beradik, seterusnya tetangga, orang se kampung, se kecamatan, se kabupaten/kota, se propinsi, dan sermua orang di dunia yang tanpa batas. Baik secara langsung maupun tidak langsung seperti melalui media, radio, televisi, internet dan sejenisnya. Mereka semua punya kewajiban membantu anak agar tumbuh dan berkembangan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing, dalam suatu pergaulan yang sesuai dengan tuntutan agama, bangsa dan negara yang berlaku.

Karena keterbatasan waktu dan tenaga, tak selamanya orang tua mampu menjalankan tugas pendidikan yang semakin rumit, maka sebagiannya diserahkannya dengan lembaga pendidikan format atau disebut persekolahan dan apabila masih tersisa keinginan orang tua atau anak sendiri masih dapat disalurkan kepada lembaga pendidikan luar persekolahan (pendidikan luar sekolah) – yang tidak terikat oleh umur, waktu dan tempat.

Kalau di rumah anak berhubungan dengan orangtuanya dan keluarga dekat dan tetangga, tetapi kalau di sekolah yang bergaul/ berhubungan dengan guru, konselor dan tenaga lainnya, sementara kalau di pendidikan luar sekolah ia bertemu dengan pamong belajar. Baik guru maupun pamong belajar adalah wakil orang tua peserta didik – suka atau tidak suka harus menghadapi anak didiknya sesuai dengan hakikat pendidikan.

Instink pada mansuia adalah kemampuan awal (syarat) untuk terus berkembangan sedangkan pada binatang instink adalah kemampuan tertinggi yang diberikan Tuhan. Manusia memalui pergaulan dengan sesamanya akan dapat mengembangkan diri sampai batas luar biasa, maka bantuan yang diberikan kepada anak untuk itu harus bersifat paedagogis atau mendidik, yaitu usaha memimpin anak secara perlahan-lahan agar ia mampu berbuat dan menjadi dewasa pula serta sampai menjadi mahluk yang sempurna.

Fungsi mendidik ini hanya ada pada manusia, dan tidak ada pada mahluk lain. Karena itu pada binatang tidak akan ada perubahan kehidupan yang berarti oleh pengaruh pendidikan (pelatihan) karena ia tidak dikaruniai akal.

Dalam arti sempit, pendidikan dalam prakteknya identik dengan persekolahan (schooling), yaitu pengajaran formal di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol, dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan dalam arti sempit ditentukan oleh pihak luar individu peserta didik. Sebagaimana kita maklumi, tujuan pendidikan suatu sekolah atau tujuan pendidikan suatu kegiatan belajar-mengajar di sekolah tidak dirumuskan dan ditetapkan oleh para siswanya.
  2. Lamanya waktu pendidikan bagi setiap individu dalam masyarakat cukup bervariasi, mungkin kurang atau sama dengan enam tahun, sembilan tahun bahkan lebih dari itu. Namun demikian terdapat titik terminal pendidikan yang ditetapkan dalam satuan waktu.

Pendidikan dilaksanakan di sekolah atau di dalam lingkungan khusus yang diciptakan secara sengaja untuk pendidikan dalam konteks program pendidikan sekolah. Dalam pengertian sempit, pendidikan hanyalah bagi mereka yang menjadi peserta didik (siswa/mahasiswa) dari suatu lembaga pendidikan formal (sekolah/perguruan tinggi). Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar yang terprogram dan bersifat formal atau disengaja untuk pendidikan dan terkontrol. Dalam pengertian sempit, pendidik bagi para siswa terbatas pada pendidik profesional atau guru.

 

2. Pengertian pendidikan secara Luas

Dalam arti luas, sepanjang hidup manusia adalah pendidikan, dan pendidikan adalah hidup (life is education, and education is life). Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau perkembangan individu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989: 13) menyebutkan bahwa istilah pendidikan berasal dari kata didik yang mendapat awalan pen dan akhiran kan yang diartikan dengan proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaraan dan latihan”.

Dalam Bahasa Inggris, istilah pendidikan disejajarkan dengan “education” (Echols, 1975: 207), sedangkan menurut Hung (1986: 133) bahwa “education adalah (1) Pemindahan pengetahuan atau nilai-nilai secara formal dan informal; (2) Sosialisasi sistemik terhadap generasi muda oleh orang dewasa”

Pengertian yang lebih luas tertulis di dalam Dictionary of Education, (seperti yang dikutip di dalam buku program Akta IV, Buku II A, 1982: 19) bahwa pendidikan adalah:

a)      Proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana dia hidup;

b)      Proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khusus yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum.

Pendapat ini di katakan oleh Sir Godfrey Thomson, bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap (permanen) di dalam kebiasaan-kebiasaan tingkah lakunya, pikirannya, dan sikapnya”. Pasal 1, ayat 1, undang-undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003, tentang Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

 

3. Pendidikan Alternatif

Lahirnya pendidikan alternatif karena ketidakpuasan akan sistem pendidikan konvensional yang dilaksanakan di sekolah. Ahmad Makki Hasan (2009) berasumsi bahwa adanya beragam fakta yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.

Yusufhadi, Miarso (2009) menyebutkan bahwa salah satu tuntutan reformasi di bidang pendidikan adalah diberinya peluang, bahkan dalam batas tertentu diberinya kebebasan, kepada keluarga dan masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan warga belajar, serta sesuai dengan kondisi dan tuntutan lapangan kerja. Hal ini berarti bahwa campur tangan pemerintah yang ber-lebihan (etatisme) dalam penyelenggaraan pendidikan ditiadakan atau setidak-tidaknya dikurangi.

Istilah pendidikan alternatif merupakan istilah generik yang meliputi sejumlah besar program atau cara pemberdayaan peserta didik yang dilakukan berbeda dengan cara tradisional. Secara umum berbagai bentuk pendidikan alternatif itu mempunyai tiga kesamaan yaitu: pendekatannya yang lebih bersifat individual, memberikan perhatian lebih besar kepada peserta didik, orangtua/keluarga, dan pendidik, serta yang dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.

Menurut Yusufhadi, Miarso yang mengutif pendapat Jerry Mintz  (1994) berbagai ragam pendidikan alternatif itu dapat dikategorisasikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu:

1)      sekolah publik pilihan (public choice);

2)      sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (students at risks); Pendidikan Alternatif: sebuah agenda reformasi ;

3)      sekolah/lembaga pendidikan swasta atau independen; dan

4)      Pendidikan di rumah (home-based schooling).

Sekolah publik pilihan adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara atau dalam pengertian sehari-hari disebut sekolah negeri, yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan program regular atau konvensional, namun mengikuti sejumlah aturan baku yang ditentukan.

Perbedaan itu terutama pada komponen masukan, baik masukan mentah maupun instrumental, dan komponen proses.

Sedangkan pada komponen keluaran biasanya diikuti aturan baku yang ditentukan. Rambu-rambu keluaran diusahakan sama atau setara dengan rambu-rambu sekolah konvensional.

Meskipun demikian terbuka pula kemungkinan bahwa ramburambu keluaran itu diserahkan kepada masyarakat untuk menentukannya. Salah satu contoh sekolah publik pilihan adalah sekolah terbuka atau korespondensi (jarak jauh).

Sekolah ini diselenggarakan untuk memberi kesempatan kepada anak-anak yang karena mengalami hambatan fisik, sosial-ekonomi, dan geografi tidak dapat mengikuti sekolah konvensional/regular. Karena adanya hambatan itu maka dikembangkan bahan belajar yang dapat dikemas dan dikirimkan kepada siswa. Bahan belajar ini dapat berupa cetakan, rekaman suara, rekaman video, siaran radio, siaran televisi, disket atau bentuk lain. Proses belajar-pembelajaran juga berbeda dengan sekolah regular, yaitu dengan menerapkan konsep belajar mandiri, belajar berkelompok sebaya, belajar kooperatif, tutorial serta pada waktu dan tempat yang sesuai dengan kondisi dan situasi siswa. Namun ada sejumlah aturan baku yang sama atau setara dengan sekolah regular dan yang harus diikuti, seperti misalnya kenaikan kelas dan ujian akhir.

Contoh lain dari sekolah publik pilihan adalah sekolah unggulan atau bahkan program unggulan dalam sekolah regular. Bentuk terakhir ini dapat pula dikatakan sebagai sekolah dalam sekolah. Sekolah/program unggulan ini disebut juga magnet school (sekolah magnit) atau seed school (sekolah bibit).

Disebut sekolah magnet karena sekolah ini menawarkan program unggulan, seperti misalnya olahraga atau seni pertunjukka, yang menarik perhatian siswa yang berminat atau berbakat dalam bidang unggulan tersebut. Disebut sebagai sekolah bibit karena program pendidikan yang diselenggarakan menghasilkan siswa-siswa yang mempunyai keunggulan dalam program yang ditekuni.

Sekolah atau lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah juga mempunyai banyak bentuk. Pengertian “siswa bermasalah” meliputi mereka yang:

  1. Tinggal kelas karena lambat belajar;
  2. Nakal atau mengganggu lingkungan (termasuk mereka dalam lembaga pemasyarakatan anak;
  3. Pasangan suami-isteri yang masih berusia sekolah, terutama ibu-ibu belia yang tidak mungkin mengikuti sekolah regular karena harus mengurus anaknya
  4. Korban penyalah gunaan obat terlarang atau minuman keras;
  5. Korban trauma dalam keluarga karena perceraian orangtua, kekerasan, atau gelandangan;
  6. Menderita karena masalah kesehatan, ekonomi, etnis atau kebudayaan, termasuk anak-anak suku terasing dan anak gelandangan. Putus sekolah karena berbagai sebab;
  7. Belum pernah mengikuti program pendidikan sebelumnya.

Tidak termasuk dalam kategori siswa bermasalah ini adalah mereka yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental seperti tunarungu, tunanetra, tunadaksa, tunawicara, tunaganda dsb.; Program pendidikan bagi siswa bermasalah ini sulit, kalau boleh dikatakan tidak mungkin, untuk mengikuti standar atau berbasis pada sekolah regular/ konvensional. Mereka itu memerlukan program pendidikan yang bersifat fungsional bagi kehidupan mereka di masyarakat, dan yang bobotnya dinilai oleh masyarakat .

Sekolah atau lembaga pendidikan swasta mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam. Termasuk dalam kategori ini lembaga pendidikan yang memberikan program bercirikan agama, seperti pesantren dan sekolah Minggu; lembaga pendidikan dengan program bercirikan ketrampilan fungsional, seperti kursus dan magang; lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia dini, seperti penitipan anak, kelompok bermain, dan taman kanak-kanak; dan lembaga pendidikan swadaya masyarakat dengan program pembinaan khusus untuk mereka yang bermasalah. Sekolah atau lembaga pendidikan swasta ini juga lebih luwes dalam pengelolaan dan penentuan programnya dari pendidikan publik, karena biasanya mengikuti perkembangan pasar atau permintaan dan tidak harus mempertanggungjawabkan keuangannya kepada perbendaharaan negara.

Pendidikan di rumah yang termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah. Ketentuan tentang usia sekolah ini tergantung pada kebijakan negara yang bersangkutan. Indonesia dengan kebijakan Wajib Belajar Pendidikan dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas) menentukan usia sekolah itu antara 6 s/d 17 tahun. Pendidikan ini diselenggarakan sendiri oleh orangtua/keluarga dengan berbagai pertimbangan seperti misalnya: menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran atau falsafah hidup yang bertentangan

dengan tradisi keluarga (misalnya pendidikan yang diberikan oleh keluarga yang menganut fundalisme agama atau kepercayaan tertentu); menjaga anak-anak agar selamat atau aman dari pengaruh negatif dari lingkungan; menyelamatkan anak secara fisik maupun mental dari kelompok sebayanya; menghemat biaya pendidikan; memberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak secara individual; dan berbagai alasan lainnya.

Sampai sekarang di dunia pendidikan terjadi perdebatan yang panjang tentang apa yang harus dipelajari oleh sekolah (lihat aliran filsafat pendidikan di bawah ini) betapa orang berselisih paham dalam apa yang harus diberikan kepada anak di sekolah, sebab Dryden dan Jeannete (2000) mengingatkan bahwa belajar hanya 10% didapat dari membaca; 20% dari mendengar, 30% dari yang dilihat, 50% dari lihat dan dengar, 70% dari yang apa dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan lalu di lakukan.

 

4. Pengertian Ilmu Pendidikan

Banyak penulis dalam bidang pendidikan yang tidak terlalu banyak mem-persoalkan secara tersurat kaitan akan pendidikan, teori pendidikan , filsafat pendidikan, dan ilmu pendidikan. Mereka  lebih memperdulikan langsung proses pendidikan dan manfaatnya bagi perkembangan individu secara optimal. Oleh karena itu, menurut Engkoswara (1987) ada sebagian dari ahli pendidikan beranggapan bahwa sesungguhnya ilmu pendidikan itu adalah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek pendidikan. Jadi ilmu pendidikan itu bukanlah ilmu yang berdiri sendiri.

Pendidikan hanya menggunakan hasil-hasil penelitian antropologi, dan psikologi, yang menurut Engkowara hal ini kurang tepat, karena ilmu pendidikan mempunyai objek penelitiannya yang khas, yaitu fenomena atau situasi pendidikan dimana proses pengarahan perkembangan peserta didik terjadi interaksi antara pelajar atau peserta didik dengan pendidik, sedangkan metode pengamatan yang di pergunakan adalah perpaduaan dua pendekatan yang filosofis dan emperis.

Hasil dari kedua pendekatan ini akan berupa suatu teori pendidikan. Dari hasil peneropongan filosofis dan impiris itulah nantinya menjadi ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari makna pendidikan. Oleh karena itu, ilmu pendidikan dapat diartikan sebagai ilmu tentang pendidikan. Atau dengan perkataan lain, ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari hakekat serta seluruh upaya pendidikan dalam arti upaya pembibingan bagi peserta didik ke arah tujuan tertentu, yaitu dalam rangka mengarahkan perkembangan peserta didik seoptimal mungkin. Dalam rangka memahami makna ilmu pendidikan, Langeveld, seorang penganut fenomenologi dari Belanda dalam bukunya Beknopte Theoretische Paedagogiek, mengupas  secara cermat antara mendidik, filsafat pendidikan, ilmu pendidikan, pendidikan teoritis, ilmu pendidikan sistematis, ilmu pendidikan historis, serta seni perbuatan mendidik.

Langaveld menyebut ilmu pendidikan itu sebagai suatu ilmu pengetahuan praktis (practische wetenschap), karena ilmu itu membicarakan perbuatan atau perilaku manusia secara khusus, yaitu perbuatan mendidik, meskipun di dalamnya terdapat banyak pembahasan mengenai hal-hal yang bersifat teoritis.

Pembahasan tentang pendidikan dan ilmu pendidikan menyangkut tentang hakekat manusia yang menjelaskan kedudukan peserta didik dan pendidik dalam interaksi pendidikan, hal ini merupakan filsafat pendidikan yang diturunkan melalui pemikiran filsafat tertentu. Pemilihan

unsur-unsur serta cara bagaimana menerapkannya, sangat bergantung kepada keyakinan ahli ilmu pendidikan yang bersangkutan. Keyakinan itupun dapat dipengaruhi oleh pengalaman orang tersebut dalam pelaksanakan perbuatan pendidikannya. Perbuatan pendidikan yang praktis inipun tidak hanya mempengaruhi keyakinan seseorang, melainkan dapat terkumpul menjadi bahan untuk telaah (melalui penelitian ataupun renungan filsafat pula) yang langsung memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan yang telah mapan dalam upaya mengembangkan dirinya, juga memberikan tafsiran tertentu kepada bahan yang diperoleh dari pengalaman perbuatan mendidik.

Selain itu, ilmu pendidikan itu dapat memperkaya dan mengembangkan filsafat pendidikan yang mendasari pengembangan ilmu pendidikan itu sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditemukan unsur keilmuan dan pemikiran, antara lain: (1) Ilmu pendidikan teoritis; (2) Ilmu pendidikan praktis: (3) Perbuatan pendidikan yang dapat mempengaruhi; (4) Keyakinan seseorang dalam hal kependidikan; dan juga menjadi: (5) Bahan empirik yang berguna untuk mengembangkan ilmu pendidikan itu sendiri; (6) Filsafat, yang berdasarkan keyakinan tadi diterapkan dalam; (7) Filsafat pendidikan, yang juga mendasari pemikiran ilmu pendidikan. Menurut Pribadi (dalam Engkoswara, 1987), ketujuh unsur itu tampak suatu hubungan fungsional tertentu yang dapat tampak dalam jalur lingkaran pengaruh-mempengaruhi, di mana filsafat pendidikan yang dianut oleh perumus teori pendidikan kelihatan sebagai sumber utamanya.

Dalam hal ini, ada lima pandangan yang dominan dalam filsafat pendidikan, yaitu:

(1) Perenialisme, yaitu filsafat pendidikan yang memiliki keyakinan bahwa pengetahuan merupakan pokok dasar bagi pendidikan. Aliran ini menekankan keabadian, yaitu pengetahuan, keindahan dan kecintaan kepada kebaikan.

Aliran ini membuat kurikukum berisi materi yang konstan atau prereal dengan perinsif:

  1. Pendidikan bersifat pribadi, karena hakekat manusia yang tidak pernah berubah;
  2. Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan makhluk manusia yang unik, yaitu berpikir;
  3. Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal;
  4. Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.
  5. Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran pelajaran dasar. (Basic subject).

Menurut Tirtarahardja dan Sulo (2005) paham ini banyak dianut oleh perguruan swasta di Indonesia karena mengintegrasikan kebenaran agama dengan kebenaran ilmu. Karena keebenaran itu satu, maka harus ada satu sistem pendidikan yang berlaku umum dan terbuka kepada umum. Juga sebaiknya kurikuklum bersifat wajib dan berlaku umum yang mencakup: bahasa, matematika, logika, IPA, dan sejarah.

(2) Esensialisme, yaitu filsafat yang memandang fungsi sekolah sebagai lembaga penerus warisan budaya dan sejarah kepada generasi penerus. Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara eklektis.

Berdasarkan eklektisisme lersebut maka esensialisme tersebut memtikberatkan penerapan prinsip idealisme atau realisme dengan tidak meleburkan prinsipnya. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan fiiosofis bagi mata pelajaran sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan alam diajarkan berdasarkan tinjauan yang realistik. Matematika yang sangat diutamakan idealisme, juga penting artinya bagi filsafat realisme, karena matematika adalah alat menghitung penjumlahan dari apa-apa yang ml, materiil, dan nyata. Mazhab esensialisme mulai lebih dominan di Eropa sejak adanya semacam pertentangan di antara para pendidik sehjngga mulai timbul pemisahan antara peJajaran-pelajaran teoretik (liberal arts) yang memerdekakan akal dengan pelajaran-pelajaran praktek (practical arts).

Menurut mazhab esensialisme, yang termasuk the liberal arts, yaitu: (1) Penguasaan bahasa lermasuk retorika, (2) Gramatika. (3) Kesusasteraan. (4) Filsafat, (5) Ilmu kealaman. (6) Matematika, (7) Sejarah, (8) Seni keindahan). (3) Progresivisme, yaitu filsafat pendidikan yang menekankan pentingnya pemberian keterampilan dan alat kepada individu yang diperlukannya untuk berintegrasi dengan lingkungannya yang senantiasa berubah. Filsafat pendidikan ini menganut pendapat bahwa pendidikan itu adalah kehidupan itu sendiri dan bukan suatu masa persiapan untuk hidup. Aliran Pragmatisme sejalan dengan aliran Progresivisme.

Dikatakan (Tirtarahardja, dan Sulo,(2005) bahwha manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran.  Sekolah adalah suatu lingkungan khusus yang merupakan sambungan dari lingkungan sosial yang lebih umum. Sekolah merupakan lembaga masyarakat yang bertugas memilih dan menyederhanakan unsur kebudayaan yang dibutuhkan oleh individu, belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif dengan cara memecahkan masalah. Guru harus bertindak sebagai pembimbing atau fasililator bagi siswa. Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan did pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut: (a) Anak hams bebas untuk dapat berkembang secara wajar; (b) Pengalaman langsung mempakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar; (c) Gum hams menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar; dan (d) Sekolah progresif hams mempakan suatu laboratorium unluk melakukan refornasi pedagogis dan eksperimentasi.

Dengan belajar anak bertumbuh dan berkembang secara utuh. Karena itu, sekolah tidak mengajar anak, melainkan melaksanakan pendidikan. Pendidikan adalah untuk dapat hidup sepanjang hayat. Pendidikan bukan persiapan untuk hidup. Orang dapai belajar dari hidupnya, bahkan kehidupan itu adalah pendidikan bagi  setiap orang. (4) Rekontruksionisme, yaitu filsafat pendidikan yang berpandangan bahwa dalam suasana perkembangan teknologi yang amat cepat, pendidikan harus mampu melakukan rekontruksi masyarakat dan membangun  tatanan dunia baru selaras dengan perubahan teknologi itu. Pendidikan harus memandang ke masa depan. Mazhab rekonstruksiomsme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalamanpengalaman kemasya-rakatan masa kini di selotah, tetapi haruslah memelopori masyarakat ke arah masyarakat bam yang diinginkan. Dengan demikian, tidak setiap individu dan kelompok akan memecahkan masatah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai ekses progresivisme. Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan suatu tdeologi kemasyarakatan yang demokratis. Keunikan mazhab ini ialah teorinya mengenai peranan guu, yakni sebagai pemimpin dalam metode proyek yang memberi peranan kepada murid cukup besar dalam proses pendidikan. Namun sebagai pemimpin penelitian, guru dituntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterarahan pertumbuhan muridnya. (5) Eksistensialisme, yaitu filsafat pendidikan yang sangat menghormati martabat manusia sebagai makhluk individu yang unik dan memperlakukan individu sebagai pribadi.

Bila pemikiran pendidikan ingin dijadikan pemikiran ilmiah, maka menurut Driyarkara (dalam buku Akta V, buku II  A, 1983) dikatakan harus memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) Kritis; (2) Metodologis; dan (3) Sistematis. Lebih tegas lagi kalau Ilmu Pendidikan mau dikatakan suatu ilmu maka harus memiliki objek materi dan objek formal. Objek materi adalah manusia sedangkan objek formal adalah pembentukan kepribadian (Manullang, 2003).

Dengan demikian maka ilmu pendidikan dikatakan sebagai ilmu yang empiris, rohaniah, normatif, dan praktis. Berarti ilmu yang empirik, apabila objeknya dijumpai di dunia pengalaman, rohaniah karena suasana pendidikan itu didasarkan pada hasrat manusia untuk menafsirkan hakekat anak didik secara tepat, bukan benda. Hal inilah menjadikan pendidikan tergolong dalam usaha kebudayaan. Bersifat normatif karena didasarkan pada pemilihan antara yang baik dan tidak baik untuk anak didik dan untuk manusia pada umumnya. Sifat yang praktis karena ia memahami dan mendalami tindakan (proses) pendidikan serta pengarahan yang perlu ada di dalam usaha pendidikan itu. (imam/imustaqim60@yahoo.com)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

November 2011
S S R K J S M
« Mei   Des »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: