//
you're reading...
Uncategorized

HAKEKAT BELAJAR

Kata ‘belajar’ tidak asing lagi bagi kita. Barangkali sudah ribuan kali kita mendengarnya, mungkin kata itu mendatangkan nuansa kegembiraan ke diri, tetapi juga ada kemungkinan membawa kemurungan, kebosanan , ketegangan dan sebagainyaseribu rasa. Namun demikian, pernahkan kita mempertanyakan ke diri kita, apa sebenarnya makna kata belajar itu ? Mengapa selama hidup kita disarankan untuk belajar , belajar dan belajar? Apakah hakekat belajar semasa kanak-kanak sama dengan saat dewasa? Apakah semua manusia melakukan hal belajar? A dakah perbedaan antara belajar dan berlatih? Apa yang dihasilkan dari belajar; Apakah belajar membuat orang jadi pin tar, jadi baik, dan atau jadi bijak? Dst.

Pada tulisan ini, kita akan membahasnya secara umum, supaya sedikit bertambah wawasan kita, tetapi juga tidak pusing kepala karena seakan memperumit diri dengan sejuta tanya. Oleh karena itu, bahasan kita kelompokkan dalam beberapa subbagian, yaitu : (1) Pendahuluan ini, (2) Belajar adalah panggilan hidup manusia sepanjang hayatnya (3) Instrumen belajar pada manusia (4) Belajar punya kadar (5) Pembelajaran dimulai di keluarga .

Belajar adalah Panggilan Hidup

Secara hakiki, sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa kehadiran kita di dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, dengan dibekali sejumlah potensi (lengkap) untuk menjadi seseorang yang dimaksudkan olehNya. Artinya, bila kita meminjam istilah teknik, cetak biru – ’blue print’ diri kita, ada pada Sang Pencipta; dan segala potensi serta perlengkapan yang diperlukan untuk menjadi ’yang tercetak di blue print tersebut’ telah dibekalkan dalam diri kita. Selanjutnya, tugas kitalah membangun diri ke arah tersebut. Tentu saja, kita perlu mengenali-mencari tahu apa sih yang dibekalkan kepada kita masing-masing; seperti apakah blue-print nya; perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk membangunnya? Hal-hal apa yang masih perlu ditambahkan, dari mana bisa diperoleh, bagaimana mendapatkannya?

Mengapa disainnya demikian, untuk keperluan apa, untuk kepentingan siapa, dst, dst. Upaya ’mengenali dan mencari tahu’ ini menjadi amat penting, sebab merupakan prasarat untuk upaya ’menjadi’ orang yang sesuai dengan yang dimaksudkan Pencipta. Menurut saya, ’upaya mengenali dan mencari tahu’ ini merupakan dasar hakikinya belajar, Seyogyanya upaya itu berlangsung terus menerus sepanjang hidup kita, sambil memonitor diri apakah sudah dalam ’track’ yang sesuai blue print, apakah ada kesalahan yang kita bangun, bagaimana menyesuaikannya kembali, dst.

Secara logika kita perlu senantiasa mengkonsultasikannya dengan Perancangnya. Jadi, belajar adalah panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa pun, tetapi merupakan konsekwensi logik dari kehidupan . Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai kehendak-Nya, yang saya yakin baik adanya.

Instrumen Belajar Pada Manusia

Manusia diciptakan dengan sungguh menakjubkan. Apabila kita mencermati tubuh manusia, coba Anda cermati tubuh Anda, sungguh luar biasa. Betapa lengkap dan canggihnya instrumen yang dibekalkan dalam tubuh manusia agar bisa belajar. Instrumen untuk menangkap informasi, untuk mengolahnya, untuk menanggapinya, untuk memberi respon, dsb.

  1. Instrumen menangkap informasi

Instrumen untuk menangkap informasi yang kita miliki, sungguh kompleks, baik ragam, mekanisme, maupun fungsinya. Kita memiliki sekurangnya panca indera, indra penglihatan, pendengaran , penciuman, pengecapan dan perabaan. Mari kita melakukan telaahan sepintas pada kelima indra tersebut.

Indra penglihatan merupakan indra utama yang menolongkita me ngenali dan memahami dunia sekeliling kita. Bahkan Leonardo da Vinci, pelukis terkenal dunia pernah berdecak kagum, hampir tidak bisa percaya bagaimana ruang begitu kecil bisa berisi semua citra di alam semesta? Sungguh menakjubkan. Itu semua bisa kita alami, karena instrumen mata kita yang luar biasa. Indra penglihatan manusia merupakan jaringan kom pleks dari ratusan juta sel yang beragam bentuk dan fungsinya, yang memungkinkan kita dapat menangkap dan membedakan cahaya, bentuk dan warna secara rinci. Gabungan sekitar 120 juta sel batang dan 7 juta sel kerucut memungkinkan kita menerima dan merekam cahaya, menangkap citra fisik dari luar yang berhenti di retina; untuk kemudian ditransfor masi kedalam pesan elektonik dan dilanjutkan ke sekitar satu juta serabut saraf di otak kita, yang akhirnya melemparkannya ke dalam visual kortex dan …………… muncullah keajaiban penglihatan. Sementara kerja kortexpun sungguh di luar yang dapat kita bayangkan; sekitar

satu milyar pesan per detik diterimanya dari retina untuk diolah dan menghasilkan image penglihatan kita.

Indra pendengaran tidak kalah dahsyat rancangannya. Alat pendengaran manusia relatif kecil dengan kepekaan yang relatif kurang, dibandingkan beberapa machluk lainnya ( misal nya gajah, anjing,dst). Akan tetapi kita dapat menangkap nuansa perbedaan ragam suara yang ada di sekeliling kita dengan begitu rinci. Kita bersyukur, dengan keterbatasan kepekaan tersebut. Tidaklah terbayangkan betapa menderitanya kita bila sedikit saja pendengaran kita lebih peka, sebab gerakan molekul udara akan selalu terdengar berdesis ditelinga kita. ( Ban-ding kan dengan ketergangguan kita ketika ada setitik air masuk di telinga).

Seperti halnya indra penglihatan, organ instrumen pendengaranpun luar biasa. Ketiga tulang mungil di telinga (Martil, Landasan dan Sanggurdi) bekerja keras berkolaborasi dalam berbagai irama dan tempo meneruskan sambil memperbesar getaran yang mereka terima dari gendang telinga ke organ Corti di telinga tengah. Sungguh indah transformasi dari molekul udara di luar ke getaran gendang telinga; kemudian hantaman mekanik ketiga tulang mungil dan berakhir di pusaran cairan, diterima sekitar dua puluh lima ribu sel receptor bunyi, yang bila terkena akan mengirimkan sinyal elektrik ke bagian auditory di otak, yang akan memberi makna dan emosi. Maka muncullah suara dengan makna dan perasaan iringannya. Lebih menakjubkan lagi setelah beberapa waktu berlalu, saya masih bisa kembali mendengar serangkaian nada bunyi yang pernah saya dengar lama sebelumnya, lengkap dengan makna dan perasaan iringannya ; Seakan masih sedang berlangsung mekanismenya.

Tidak kalah mencengangkan adalah indra penciuman , yang sanggup memberi dorongan untuk bertindak. Itu sebabnya ketika kita serius berkonsentrasi belajar, selalu mungkin terganggu hanya oleh harumnya bau makanan yang singgah di hidung, dan bisa membuat kita bertindak meninggalkan belajar dan pergi mencari arah datangnya keharuman tersebut; atau sebaliknya kala kita mencium bau busuk. Penciuman beroperasi melalui aksi kimiawi langsung yang dilakukan receptor olfaktori. Sel-sel tersebut melakukan pengujian kimiawi atas molekul apapun yang mengapung ke dalamnya. Dengan begitu kita dapat membedakan bau sesuatu dari bau lainnya, dan katanya kapasitas kemampuan manusia untuk membeda – bedakan, berkisar sekitar sepuluh ribu bebauan yang berbeda. Meski demikian, setiap orang berbeda-beda mengembangkan kemampuan tersebut.

Disamping itu, sama halnya dengan pendengaran, penciuman kitapun dapat bernostalgia, mencium bau tertentu yang berasosias i dengan pikiran kita. Itu sebabnya kita dapat membayangkan enaknya kopi, sekali gus menghirup harumnya aroma kopi tersebut. Ketika kita mengingat kembali kenangan kunjungan kita di tepi pantai, di perkampungan nelayan, segera bau menyengat jemuran ikan kering tercium kembali.

Demikian pula halnya dengan pengecapan, meski sedikit berbeda cara kerjanya, tetapi amat mengesankan. Dalam keseharian, pengecapan ini nampaknya berkaitan erat dengan penciuman. Ketika hidung kita tersumbat, maka pengecapan kita juga tidak terlalu bisa merasakan lezatnya makanan Papil pengecapan pada lidah menunjukkan struktur yang menarik, yang dilukiskan dengan sangat indah oleh Brand & Yansey, versi terjemahan bahasa Indonesianya saya kutipkan :

” Papil pengecapan lidah meng ungkap struktur yang mengagumkan: bukit dan lembah-lembah yang dramatis, bungan-bunga kaktus, kumpulan tangkaitangkai tinggi yang berayun-ayun, dedauanan eksotik. Mereka bekerja cukup baik untuk menjangkiti sebagian besar dari kita dengan selera makan yang bermacam –

macam dan ngidam yang tidak kenal puas.” (Brand & Yansey, 2001b :134 )

Namun demikian, untuk memicu papil pengecapan yang elok itu, dibutuhkan jumlah zat, dua puluh lima ribu kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk memicu receptor penciuman. Lebih lanjut umur -nyapun tidak lama, hanya bisa bertahan tiga sampai lima hari, lalu mati. Dengan begitu satusatunya ’pengalaman’ rasa hanya ada di dalam otak. Itu sebabnya pengalaman pengecapan tetap dapat merangsang enzim percernaan , seperti halnya aroma ikan yang sedang dibakar dapat membangkitkan rasa lapar.

Indra peraba, dengan organ kulit sebagai agen utamanya, juga luar biasa perancangan Nya. Kulit banyak membe ri informasi tentang keberadaan tubuh seseorang. Misalnya, adanya gangguan penyakit, dapat dikenali melalui warna warni yang sesuai dengan penyakitya., ataupun melalui sinyal-sinyal lain. Ketika Anda baru ’begadang’, maka kulit Anda akan mengekspresikannya, begitu pula kulit akan mengumumkan apakah si pemiliknya rajin mandi atau tidak. Selain itu kulit juga memberi informasi tentang dunia dalam kita, tentang kegundahgulanaan ataupun kebahagiaan kita. Dalam hal ini seakan kulit kurang bisa diajak komprom i untuk menyembunyikan perasaan. Berat kulit hanya sekitar empat kg, hadir dalam konfigurasi yang utuh membungkus tubuh, tetapi sebenarnya terdiri dari sambungan aplikasi beragam macam kulit sesuai posisi dan perannya. Gurat-gurat halus melintang di kulit kita memberi tekstur dan kekuatan untuk daya cengkeram. Satu hal menarik dengan guratan halus di ujung-ujung jari kita, tidak ada manusia yang punya guratan yang sama, padahal hanya selebar kurang lebih dua cm persegi, sejagat raya tidak ada yang sama . Setiap

individual manusia punya konfigurasi guratan tersendiri, seakan stempel dari Penciptanya. Jadi kehadiran kulit selain untuk mengemas tubuh, tetapi juga memberi informasi vital yang kita dapat dari dunia luar.

Betapa aneka ragamnya informasi yang datang dan merangsang kulit, seperti angin, partikel, parasit, suhu dan perubahannya, cahaya dan radiasinya, dstnya. Itu sebabnya di seluruh permukaan kulit tersebar receptor, yang kapasitas penerimaannya diperkuat oleh bulu bulu yang menyelimuti seluruh kulit.; dan juga terdapat sekitar setengah juta transmiter mungil, yang akan mengubah rangsang menjadi pesan siap kirim ke otak. Indra peraba ini, merupakan indra yang paling siaga selama kita tidur, dan paling menggugah emosional kita. Juga merupakan indra yang paling bisa diandalkan Menjadi jelas dari uraian kelima indra kita, bahwa perlengkapan, instrumen yang dibekalkan kepada kita untuk melakukan upaya mencari tahu dan menelaah menelusuri dunia, sangatlah mengagumkan, canggih , dahsyat. Dengan demikian, daya cerap yang kita miliki untuk belajar cukup besar, tinggal

lagi apakah kita mempergunakannya  ataukah tidak. Sebab kelenturan dan kepekaan alat-alat canggih tersebut, efektifitasnya tergantung dari pemanfaatan oleh yang bersangkutan.

  1.  Instrumen Pengolah Informasi

Kita baru saja selesai membahas instrumen untuk menangkap informasi, sekarang kita coba membahas instrumen pengolah informasi tersebut yaitu otak dengan segala perlengkapannya. Pertama, otak dibentengi dengan suatu ’kubah’ yang amat kokoh, kuat , nyaris tidak bisa ditembus,

tertutup rapat dari berbagai gangguan dari luar; Padahal, didalam otak inilah tersimpan seluruh pengetahuan pemiliknya tentang dunia luar. Mahasiswa kedokteran mungkin hafal bahwa otak ini dibungkus 3 selaput pembugkus ( Dura mater, Arachnoid dan Pia mater ). Otak yang nampak bergulunggulung, dengan lanskap melekuk berkelok-kelok, dilintasi banyak garis merah dan biru – saluran vital darah. Tampilan nya kelihatan lunak dan putih.

Otak tidak memiliki se nsasi sentuhan atau nyeri, tetapi dengan rangsangan elektrik di area tertentu, sensasinya akan dirasakan di bagian tubuh lain yang berhubungan dengan area otak tersebut. Dengan teknik semacam itulah, sedikit demi sedikit ahli anatomi bisa membuat peta otak yang cukup memadai. Banyak riset telah dilakukan, terutama pada lapisan

atas otak, korteks serebri. Ternyata kortex ini mengandung neuron-neuron yang menyaring, memilah, menggabungkan, dst yang pada dasarnya mengolah informasi yang masuk dari berbagai indra. Begitulah aktivitas belajar dan ingatan juga dilakukan pada kortex ini. Dengan perkataan lain, sejumlah besar populasi sel saraf hidup di lapisan ini. Sir Charles Sherrington mengelompokkan sel-sel saraf ini kedalam dua bagian, yaitu ’jalan masuk’- sel aferen , semua sel yang membawa impuls dari organ tubuh lainnya ke otak dan ’jalan keluar’- sel eferen., semua sel saraf yang membawa instruksi dari otak ke anggota tubuh.

Sebagai gambaran kerja otak, berikut ini disampaikan sejumlah data. Setiap detiknya ratusan juta pesan dimasukkan oleh serabut-serabut aferen kedalam otak, ditampung oleh se kitar hanya sepersepuluh dari satu persen sel-sel otak. Dua per sepuluh lainnya dari yang satu persen itu mengendalikan semua aktivitas motorik Selanjutnya diantara kedua kelompok – ’jalan masuk’ dan ’jalan keluar’ tersebut, terletak semua sel lainnya, yang bekerja sama dalam jaringan interkomunikasi maha luas 2, yang memungkinkan proses pikiran dan kehendak bebas.

Dibandingkan dengan jalur telepon, maka setiap sel saraf di otak memiliki sampai sepu-luh ribu jalur pribadi. Di sepanjang jalur ini, dendrit-dendrit menjulur keluar membentuk hubungan dengan neuron lain.

Secara fisiologik, seluruh proses mental berasal dari sepuluh milyar sel tersebut, yang saling menyemburkan bahan kimia terhadap satu sama lain melintasi sinapsis. Bayangkan dalam satu milimeter kubik, seukuran ujung jarum, terkandung satu mil yar hubungan antar sel; satu gram jaringan otak bisa mengandung sekitar empat ratus milyar sambungan sinaptik. Jadi setiap sel bisa berkomunikasi dengan sel lainnya dengan kecepatan kilat. Pada saat tidurpun komunitas sel saraf tidak pernah berhenti ’mengobrol’. Otak adalah pusaran awan listrik potensial, yang setiap detiknya melakukan sekitar lima trilyun operasi kimia. Segala sesuatunya berjalan cepat sekali, sehingga nyaris tidak kita sadari prosesnya. Misalnya saya memutuskan untuk menulis suatu kalimat, dalam sekejap otak mempertim bangkan pemikiran konsepnya, kosakata yang digunakan, lalu membuat instruksi ke organ-organ bersangkutan (otot-otot, tendon, tulang yang diperlukan), kemudian mengkoordinasi kannya, sehingga terjadilah kita menuliskan suatu kalimat. Dan seterusnya, tanpa kita sadari proses yang sebenarnya rumit.

Namun demikian, kapasitas kerja otak menjadi relatif dari orang ke orang, dipengaruhi oleh volume dan kualitas masuknya informasi yang disampaikan kepadanya untuk diolah. Semakin banyak dan variatif informasi yang perlu diolah, semakin berkembang perlengkapan otak terutama jumlah serabut dendritnya; semakin efisien pula kerja otak Sebaliknya otak yang tidak terlalu sibuk, memiliki dendrit -dendrit yang kurus – kerontang (Jensen ,1996 : 144)

Oleh karena itu tidaklah heran apabila otak menggunakan seperempat dari seluruh oksigen yang dihirup pemilik tubuh itu, dan tanpa oksigen selama lima menit saja, otak akan lumpuh total-mati. Wajar sekali apabila setiap kita makan, seyog yanya kita mempertimbang kan asupan untuk otak, dan menghindari asupan yang sekiranya mengganggu kerja otak. Dengan uraian tentang intrumen pengolahan informasi di otak kita, barangkali kita bisa sepakat bahwa perlengkapan untuk kita belajar sudah tersedia amat istimewa, tinggal lagi kita mau memanfaatkannya dengan sebaiknya, agar instrumen itu tidak mubajir.

  1. Instrumen Untuk Merespon

Pikiran saja tidak cukup, kita membutuhkan tubuh yang mau bekerja sama dengan pikiran untuk menjalankan respons pikiran. Tubuh yang sehat, memiliki saluran-saluran dari otak ke seluruh bagian tubuh, yang berfungsi baik; tetapi untuk bisa mengexpresikan diri dan berkomunikasi dengan lingkungan, tubuh masih membutuhkan komitmen dari sel-sel satuan untuk mau melakukan kehendak otak. Bila tidak demikian, timbul kerancuan. Tentu saja ada gerak lain yang bersifat refleksif, tetapi tanpa tujuan. Otak sehat menugaskan area-area tertentu untuk mengatur setiap bagian tubuh. Asosiasi antara area otak tersebut dengan bagian tubuh yang bersangkutan akan terjalain semakin baik, sehingga bagian otak tersebut akan berisi semua asosiasi dengan bagian tubuh tersebut. Apabila karena satu dan lain hal ada gangguan pada bagian tubuh tersebut, sehingga kita harus mempergunakan bagian tubuh lainnya ( misalnya tangan kanan ke kiri atau sebalik nya), maka perlu ada proses penyesuaian asosiasi baru. Setelah terbina asosiasi baru, akan kembali berlangsung dengan baik. Dengan perkataan lain, kita dapat membiasakan hubungan area otak tertentu dengan bagian tubuh kita, lewat pembelajaran.

Kita sudah secara sepintas membahas instrumen yang dibekalkan dalam tubuh kita, baik untuk mendapatkan informasi, mengolahnya dan juga untuk mengembalikan umpan balik dan respons. Dengan begitu menjadi jelas bagi kita betapa lengkap Sang Pencipta telah menyediakan segala sesuatunya untuk kita bisa belajar. Menjadi jelas pula sepanjang hidup kita tidak pernah bisa berhenti belajar. Terpulang kepada kita, kita mau belajar menjadi apa, atau menjadi siapa. Cetak birunya ada pada Yang Empunya kita, barangkali mencari tahu cetak biru merupakan langkah strategik (wisdom) apabila kita hendak hidup berhasil, sukses dipandanganNya.

Kadar dan Kualitas Belajar

Setelah kita memahami bahwasanya belajar adalah panggilan hidup, telah mengenali pula instrumen belajar yang dibekalkan di tubuh kita, kini kita telaah lebih jauh makna ’belajar ’ itu sendiri, apakah semua proses otak adalah ’belajar’, apa bedanya dengan latihan. Apa pula yang dihasilkan oleh proses belajar.  Sejak awal telah diuraikan bahwa seyogyanya kita mengisi hidup ini dengan berupaya menjadi orang ’untuk mana kita telah diciptakan’ , yang dalam bahasa psikologiknya Maslow kita berupaya untuk bisa ’ber-aktualisasi diri’. Bahkan lebih tepatnya seyogyanya kita berupaya meng -aktualisasi diri , yaitu berproses menjadi orang yang kita bisa menja di, yang menurut bahasa agama, menjadi orang sesuai fitrah, sesuai ’blue print’ yang sudah dirancang Pencipta . Jadi kata kuncinya adalah kita belajar dalam proses menjadi, belajar menjadi saya sebagaimana dimaksudkan dalam penciptaan saya. Kepada saya dibekalkan sejumlah potensi (bisa saya telusuri), sejumlah bakat/talenta (bisa saya kenali), sejumlah peluang (seringkali tidak saya kenali, sehingga tidak tertangkap). Lalu untuk apa semua itu dibekalkan kepada saya? Pertanyaan menggelitik kesadaran ini, bisa memandu kita untuk mencari tahu kita perlu belajar menjadi saya yang bagaimana.

Ignas Kleden mempertajam insight saya tentang belajar ketika ia menunjukkan kelebihan manusia dari binatang yaitu, bahwa manusia bisa belajar tentang sesuatu dan belajar menjadi dirinya sendiri. Sedangkan binatang hanya bisa ’belajar’, tetapi tidak bisa ’belajar tentang’ apalagi ’belajar menjadi’. Lebih jauh Kleden mengutarakan bahwa ’belajar’ berarti mempraktekan sesuatu, sedangkan ’belajar tentang’ untuk mengetahui sesuatu. Selama pengetahuan yang dihasilkan dari belajar belum diberi

nilai guna manfaat, dijadikan milik alaminya, maka selama itu masih merupakan hasil ’belajar tentang’. Sebagai ilustrasi dapat diutarakan sebagai berikut :

Saya belajar tentang ’permainan sepak bola’, berarti saya mempelajari teori permainan sepak bola, bahwa sepak bola dimainkan oleh dua kelompok yang saling berhadapan. Masing-masing kelompok terdiri dari sebelas orang, dengan sejumlah peran, bentuk lapangannya, aturan permainannya, dst dst. Hasil belajarnya adalah saya memiliki pengetahuan tentang permainan sepak bola. Saya juga bisa belajar tentang bagaimana bermain sepak bola ; berarti saya mempelajari bagaimana cara membawa bola, menendang bola agar bisa masuk ke gawang, dengan sudut tendang berapa derajat, dan kecepatan berapa. Apa dan bagaimana cara menjaga gawang supaya tidak kebobolan tendangan lawan, bagaimana cara menghalangi gerak lawan, bagaimana cara merebut bola dari kaki lawan, dst. Apabila saya mempelajari semua itu dari buku, atau dari penjelasan verbal seseorang, tanpa saya melakukannya sendiri, maka berarti saya masih tetap belajar tentang. Apabila

saya langsung praktek bermain sepak bola, sambil dikoreksi, dilatih, maka berarti saya belajar bagaimana bermain sepak bola. Namun demikian, tidak semua orang yang bermain sepak bola bisa

menjadi pemain sepak bola. , hanya mereka yang belajar menjadi pemain sepak bola-lah yang bisa

menjadi pemain sepak bola. Dalam hal ini bukan hanya wawasan (knowledge), dan atau keterampilan (technical know how ), tetapi disamping keduanya termasuk juga kebijaksanaan (wisdom), sikap mental ( mind-set ) dan moralitas, sportifitas, dll.

Selanjutnya, menurut Andrias Harefa ( Harefa, 2005) ’pengajaran’ membawa orang pada belajar tentang, sedangkan ’pelatihan’ memandu orang belajar, sementara ’pembelajaran’ memungkinkan orang belajar menjadi. Lebih jauh , lanjut Harefa, belajar tentang memerlukan mengetahui diri, belajar membutuhkan praktek, sedangkan belajar menjadi mensyaratkan perenungan diri.. Kita bisa ’belajar menjadi’, apabila kita mengetahui mau menjadi orang yang bagaimana. Hal ini bisa diketahui, apabila kita mau bertanya pertanyaan mendasar, mengapa saya dilahirkan, untuk maksud apa saya diciptakan, bagi siapa sebenarnya ke hadiran saya di dunia ini, dst; Mengingat hidup ini dipertanggung jawabkan kepada Yang Empunya. Dengan perkataan lain, kita perlu menentukan kedaulatan atas diri saya ada pada siapa ( Siapa – Sang Khalik) ? Jawaban atas pertanyaan ini, akan membawa kita menentukan tujuan hidup kita. Hal ini penting. Selanjutnya, tujuan hidup inilah yang akan memandu kita untuk mengisi kehidupan dengan berbagai kegiatan (action) yang pada hakekatnya adalah proses ’belajar menjadi’. Hanya apabila kita mempunyai kejelasan tentang tujuan hidup ini, maka kita bisa selektif dalam memilih apa yang seyogyanya kita belajar, apa yang perlu kita ’belajar tentang’, dan kesemuanya dalam rangka kita ’belajar menjadi’ apa yang kita tuju. Dengan begitu pula kita menjadi tahu bagaimana meletakan prioritasprioritas sehingga kitapun bisa mengatur alokasi waktu, dsb.

Pada intinya kata kunci untuk bisa belajar menjadi, kita perlu mengkolaborasikan ketiga ranah di diri kita, ranah spiritual, ranah mental dan ranah fisik. Kembali kepada hakekat belajar di perguruan tinggi , seyogyanya mencakup ketiga jenis belajar tersebut. Dengan demikian bisa dihasilkan alumni yang siap belajar menjadi. Basic Study skills, merupakan skill dasar untuk bisa melakukan belajar tentang, belajar dan belajar menjadi, siap mengikuti pembelajaran ( education).

Pembelajaran dimulai di Keluarga

Pada hakekatnya, pertumbuhan dan perkembangan manusia, merupakan hasil interaksi antara apa yang ia bawa sejak lahir (bakat, potensi) dengan apa yang ia peroleh dari tanggapannya terhadap lingkungan, yang seyogyanya terus menerus dimutahirkan ( ‘up-dated’). Kebanyakkan dari apa yang kita miliki saat ini, dasar (basic) nya merupakan hasil perolehan belajar kita di usia Balita (Fulghum, R, 1994). Itu sebabnya pentin g sekali proses belajar semasa Balita. Dalam suatu keluarga, kehadiran seorang anak (bayi), bahkan sejak kehadirannya sebagai foetus (janin), seluruh keluarga seyogyanya berada dalam proses pembelajaran, Calon Ayah belajar menjadi Ayah, calon Ibu belaja r menjadi ibu, kakak, nenek, kakek, semuanya melewati proses pembelajaran masuk kedalam posisi dan perannya.. Sayangnya, dalam kenyataan banyak orang tua yang tidak sempat melakukan proses pembelajaran menjadi orang tua, sehingga tentu saja berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Sedangkan proses belajar si anak, dari sejak masih dalam kandungan, lahir, masa bayi dilanjutkan masa kanak-kanak dan bahkan hingga masa remaja, banyak tergantung kepada orang-orang dewasa disekitarnya.

Perlu ada ‘Asih-Asah-Asuh’ . Selain itu, semasa Balita ini, perlu sekali kita belajar fleksible dan keterampilan untuk meng-updating’ hasil belajar yang kita punya. Artinya keluwesan, keterbukaan dan kelincahan dalam belajar. Lebih jauh, saya meyakini ( berharap Anda juga sama meyakini) bahwa kehadiran kita di keluarga kita masing-masing, bukanlah sesuatu yang kebetulan, tetapi merupakan kehendakpilihan Sang Pencipta – Yang Maha Arif, dalam kaitan kesesuaian dengan ’blue print’ kita. Tersirat pengertian bahwa keluarga dimana kita di’hadir’kan merupakan lingkungan pertama yang seyogyanya kondusif untuk proses kita belajar menjadi apa yang ada di ’blue print’ kita. Bila demikian halnya, maka institusi pertama dan utama dalam hal pembelajaran adalah keluarga.. Tanggungjawab pembelajaran anak-anak, sebelum mereka bisa mandiri adalah keluarga. Sekolah bisa menambahkan, melengkapi, tetapi tidak bisa menggantikan peran keluarga. Setelah anak tersebut akil-balik, maka mereka sudah mulai bisa bertanggung jawab atas upaya pembelajaran

dirinya. Mahasiswa seyogyanya telah mulai dewasa, sehingga tanggung jawab pembelajarannya ada pada mahasiswa sendiri. Fihak lain, orang tua, dosen, teman hanya bisa memberikan pendampingan dalam upaya pembelajaran tersebut. Namun pada kenyataannya banyak keluarga yang belum tuntas mengantar anak-anaknya untuk bisa bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya. Banyak orang, termasuk mahasiswa bahkan dosen yang belum sepenuhnya memiliki skill untuk belajar menjadi, banyak pula yang belum siap untuk be lajar dan masih canggung dalam belajar tentang.. Pelatihan Basic study skill merupakan salah satu upaya untuk melengkapi kita masingmasing dengan skill yang diperlukan. Asumsinya Anda telah memiliki sedikit modal untuk belajar menjadi, kemudian belajar

skill untuk keperluan belajar tentang. Harapan yang tersirat setelah paham pengetahuan akan skill tersebut, Anda mau mempraktekkannya. Dengan begitu, Anda akan memiliki skill tersebut. Dengan kelengkapan lainnya, sebagai hasil belajar tadi, Anda akan gemar belajar, lebih terarah lalu Anda akan semakin mahir dan lancar belajar menjadi diri Anda sebagaimana dimaksudkan Sang Pencipta dalam penciptaan Anda. Sebelum kita menutup bagian pertama ini, kiranya kita dapat selalu diingatkan bahwa jalannya pembelajaran seyogyannya bermula dari kebijaksanaan hakiki (wisdom) yang merupakan ranah spiritual, berlanjut pada pemahaman (understanding), yang bisa kita peroleh melalui memaknakan penginderaan kita dari karya Sang Pencipta, barulah kita mendapatkan pengetahuan ( knowledge.).

ooooo

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: