//
you're reading...
Uncategorized

Membangun Kembali Paradigma Pendidikan Islam Sebagai Jawaban Terhadap Tantangan Global

oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd

Kaum muslimin di mana saja  percaya, bahwa dengan pendidikan Islam maka ummat Islam akan semakin maju, mampu bersaing dengan umat lainnya. Akan tetapi pada kenyataannya anggapan itu belum seluruhnya terbukti. Negara-negara yang melaksanakan pendidikan yang berbasis  Islam ternyata masih kalah unggul dibanding dengan pendidikan yang tidak membawa nama Islam.

Selama ini temuan-temuan yang dihasilkan sebagai dasar kemajuan sebuah bangsa justru terjadi di negara-negara non muslim.  Kita  dapat melihat  dengan jelas  bahwa kemajuan teknologi informasi, komunikasi,  dan  transportasi ditemukan oleh para ilmuwan non muslim. Belum lagi, teknologi persenjataan yang memiliki daya hancur luar biasa, adalah hasil penelitian  para ahli yang berasal dari  negara-negara yang bukan mayoritas beragama Islam.

Justru negara-negara yang mayoritas  berpenduduk muslim masih menderita  kemiskinan,  dan keterbelakangan  bahkan  kebodohan.  Umat Islam, sekalipun menyebut dirinya sebagai produk pendidikan Islam, sebagian banyak keadaannya belum mampu bersaing di pentas  pergumulan kehidupan yang luas. Islam disebut sebagai ajaran yang unggul, luas, dan komprehensive, akan tetapi pada kenyataannya  belum berhasil  terbukti dalam kehidupan nyata.

Pertanyaan penting dan mendasar yang perlu dikemukakan adalah, apakah selama ini terdapat sesuatu yang salah dari pendidikan Islam. Kesalahan itu bisa jadi,  berasal dari pemahaman terhadap ajaran Islam sendiri yang terbatas, sehingga tidak mampu menjawab tantangan zaman, atau kesalahan umatnya yang tidak serius, atau bahkan kesalahan implementatif oleh lembaga pendidikan Islam sendiri.

Pemaknaan Pendidikan Islam

Selama ini di mana-mana umat Islam menyebut pendidikan Islam  hanya sebatas lembaga yang mengembangkan ilmu  Ushuluddin, Syari’ah, Adab, Tarbiyah, Dakwah dan Adab. Kelima bidang ilmu itu  dipandang sebagai rumpun  pengetahuan Islam. Selain itu, disebut sebagai  pelajaran  tentang  Islam  bilamana  terkait  dengan  ilmu  tafsir, hadits, tauhid, fiqh, akhlak dan tasawwuf, dan Bahasa Arab. Sedangkan bidang ilmu lainnya, seperti sains dan teknologi, psikologi, ekonomi, politik, dan lain-lain masih dianggap bukan berada pada wilayah Islam.

Beberapa bidang ilmu yang  disebut sebagai bagian  dari kajian Islam sebenarnya, jika direnungkan secara saksama, hanya memberikan bekal pada peserta didik  tentang  aspek yang bersifat ritual dan setinggi-tingginya adalah pengetahuan hukum atau fiqh. Paradigma seperti ini, menjadikan  seolah-olah Islam hanya berisi ajaran yang terkait dengan kegiatan ritual, seperti dzikir, shalat, puasa, dan haji. Islam tidak ubahnya  agama-agama lainnya, seperti Kristiani, Yahudi, Budha dan Kong Hucu. Islam hanya dilihat, sebagaimana agama-agama lainnya itu,  dari aspek agama dan belum sebagai sumber peradaban yang luas.

Padahal sebenarnya, jika dilihat dari sumbernya yang autentik, yaitu al Qurán dan hadits nabi,  Islam bukan sebatas  ajaran yang memberikan tuntunan tentang kegiatan ritual. Islam disebut sebagai ajaran  yang bersifat universal. Islam melalui al Qurán dan hadits memerintahkan ummatnya agar memikirkan ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi. Ummat Islam diperintahkan agar menggali ilmu pengetahuan dan akan ditingkatkan derajatnya beberapa lebih tinggi karena ilmunya itu. Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi kaum muslimin dan muslimat, dan bahkan dianjurkan hingga sampai negeri Cina sekalipun.

Misi Besar Kehadiran  Islam

Jika Islam dikaji  dari sumbernya,  yaitu  al Qur’an dan hadits, maka sedikitnya ada  limamisi besar  ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Misi besar tersebut semestinya dipahami secara baik dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kelima misi tersebut adalah sebagai perikut : Pertama, Islam membawa ummatnya kaya ilmu pengetahuan; Kedua, Islam mengantarkan ummatnya menjadi manusia ungul; Ketiga Islam memberi tawaran tentang kehidupan yang setara dan berkeadilan; Keempat, Islam memberikan tuntunan tentang bagaimana menjalankan ritual untuk memperkukuh kehidupan spiritual; Dan Kelima, adalah menawarkan konsep amal shaleh.

Namun selama ini yang  mendapat perhatian dari  pendidikan Islam baru  pada persoalan yang terkait dengan kegiatan  ritual, fiqh dan syariáh  dan sejenisnya. Sebagai akibatnya, tatkala berbicara tentang Islam, maka  pada umumnya  hanya sebatas  menyangkut agama,  dalam pengertian  ajaran tentang ritual. Pemahaman seperti itu berpengaruh luas pada tema-tema perbincangan Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti  sebatas persoalan jilbab, persoalan masjid, persoalan puasa, persoalan haji  dan sejenisnya.  Dalam hal-hal tertentu, umat Islam menjadi lebih bersifat emosional, dan kadang bahkan kehilangan rasionalitasnya.

Persoalan  nyata sehari-hari,  misalnya tentang lingkungan hidup, kebutuhan air bersih, pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain   tidak dianggap sebagai bagian dari Islam. Sebagai dampak dari pendidikan yang demikian itu, maka menjadikan umat Islam  hanya  peka terhadap persoalan ritual, ethic dan fiqh, akan tetapi sangat hirau  terhadap  persoalan ilmu pengetahuan, kemiskinan, kebodohan dan lain-lain.

Umpama  saja misi besar Islam ditangkap secara utuh, hingga menjadikan umat Islam kaya ilmu pengetahuan, menjadi manusia berkharakter unggul, mampu menciptakan tatanan social yang setara dan berkeadilan, memiliki kekuatan spiritual yang kokoh dan selalu bekerja secara professional, maka  umat Islam akan maju dan  mampu bersaing dengan umat lainnya di alam global sekalipun.

Andaikan Islam dipahami sebagai ajaran yang memuliakan  ilmu,  maka  tidak saja masjid yang dibangun, melainkan adalah pusat-pusat riset atau laboratorium  dan perpustakaan-perpustakaan. Sebagai upaya membangun manusia unggul, maka umat Islam akan berupaya membangun lembaga-lembaga  pendidikan Islam yang tangguh.  Selebihnya, untuk membangun tatanan sosial yang adil, maka pemuka  Islam akan merumuska konsep dan  doktrin-doktrin untuk  mewujudkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula, agar umatnya mampu bekerja secara professional, maka dibangun pusat-pusat pelatihan kerja yang diperlukan di tengah-tengah masyarakat.

Semua itu dilakukan atas dasar semangat  untuk mewujudkan  ajaran al Qurán dan hadits Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan dipahami sebagai  Yang Maha  Pencipta, menghendaki agar umatnya menjadi khalifah di muka bumi.  Tuhan menghendaki agar ummat Islam tidak kalah atau tertinggal dari ummat lainnya. Islam hendaknya menjadi yang terbaik dalam semua bidang kehidupan.  Menjadi Islam harus dimaknai sebagai menjadi maju, berada di depan dalam segala kebaikan di dunia ini. Islam tidak boleh sedikitpun kalah dari kelompok lainnya. Ummat Islam harus menjadi yang terbaik dan tauladan bagi lainnya.

Paradigma Baru  Pengembangan Pendidikan Islam

Kelima misi  besar Islam harus dijadikan sebagai dasar dalam menyusun pengembangan pendidikan Islam.   Sehubungan dengan itu, maka  harus ada keberanian untuk mengubah paradigma pendidikan Islam yang selama ini dikembangkan.  Pendidikan Islam yang hanya mengantarkan peserta didik mengenal berbagai ritual Islam dan juga fiqh, harus diubah menjadi Islam yang  mampu mengamtarkan  umatnya maju, dinamis, inovatif  dan terdepan dalam  segala segi kehidupan yang terbaik.  Manusia terbaik,  yaitu orang   paling banyak memberi manfaat bagi lainnya harus dipahami secara benar,  luas,  dan relevan dengan tuntutan zaman.

Pembagian ilmu secara dikotomik sebagaimana yang terjadi selama ini, yaitu ilmu agama dan Ilmu umum, harus segera diakhiri. Pembagian keilmuan seperti itu hanya akan menjadikan umat Islam tertinggal dari ummat lainnya.  Oleh sementara kalangan, sebagai akibat pembagian ilmu seperti itu,  menjadikan seolah-olah Islam tidak relevan dengan tuntutan zaman. Cara pandang Islam secara dikotomik, terbukti  hanya  akan mengantarkan para pemeluknya peka terhadap persoalan ritual, akan tetapi tidak peduli pada persoalan kehidupan nyata  sehari-hari  yang lebih luas.

Perubahan paradikmatik itu, menjadikan  kajian Islam tidak lagi  sebatas lingkup lmu fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf, tarekh dan sejenisnya.  Selain itu, bangunan keilmuan Islam juga tidak lagi  hanya meliputi ilmu  ushuluddin, syari’ah, tarbiyah, dakwah dan adab. Bangunan keilmuan Islam dengan paradigm baru akan memposisikan  al Qur’an dan hadits nabi  sebagai sumber ilmu utama selain sumber lainnya, yaitu hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis. Jenis dan atau pembidangan ilmu dalam pendidikan Islam, dengan paradigm baru, akan  memiliki kawasan lebih luas dari  yang dikembangkan oleh  ilmuwan  pada umumnya selama ini, yaitu ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Selanjutnya  yang membedakan di antara keduanya, adalah terletak pada   sumber ilmu yang digunakan. Pendidikan  berparadigma Islam tatkala mencari kebenaran selalu bersumber pada ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Kedua sumber tersebut dianggap sama-sama penting. Sebab Tuhan melalui al Qurán juga memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam, kehidupan  manusia, filsafat, bahasa  dan  seni. Semua itu adalah merupakan ayat-ayat kawniyah yang harus dikaji secara mendalam. Berbeda dengan itu, adalah ilmuan pada umumnya. Para ilmuwan pada umumnya dalam menggali kebenaran hanya mengedepankan hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis semata.

Sebuah Implementasi Pendidikan  Berparadigma  Islam 

Sebelum dilakukan peninjauan kembali, Universitas Islam Negeri Malang membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama.  Selain itu,  juga dibedakan pula antara mata kuliah ilmu umum dan mata kuliah ilmu agama. Melalui  cara pandang  itu dihasilkan sarjana agama selain juga sarjana ilmu umum.  Mereka yang mengambil program studi umum, sejalan dengan misi dan identitas  sebagai peguruan tinggi Islam, diberikan tambahan mata kuliah agama pada  program studi umum.  Sedangkan agama yang dimaksudkan  itu adalah pengetahuan tentang tauhid, fiqh, akhlak dan tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab.

Selanjutnya setelah Islam dijadikan sebagai paradigma pendidikan, maka pandangan dikotomis  terhadap ilmu pengetahuan ditinggalkan. Semua bidang ilmu dikembangkan dari  dua sumbernya  sekaligus, yaitu ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah. Semua mahasiswa bidang apapun yang menjadi kajiannya, harus menyertakan al Qur’an dan hadits nabi dalam semua kegiatan risetnya. Melalui pendekatan seperti itu, maka akan diperoleh penjelasan yang lebih utuh dan komprehensif terdahadap pengetahuan yang diperoleh.  Al Qur’an tidak lagi hanya dijadikan sebagai bacaan yang bersifat ritual, melainkan  dijadikan  sebagai hudan, furqan, tibyan dan lainnya.

Sebagai gambaran dari  implementasi itu, misalnya mahasiswa fisika dalam melakukan riset, selain mereka mengkaji lewat laboratorium,  juga mencari jawaban yang memungkinkan tersedia dari ayat-ayat al Qur’an maupun hadits Nabi.  Dengan demikian, setidak-tidaknya,  kitab suci al Qur’an dan hadits Nabi selalu dijadikan sebagai landasan  berpikir dan bahkan digunakan  sebagai premis mayor dalam berpikir deduktif. Selain itu, para mahasiswa  tidak hanya mengkaji al Qur’an dan hadits, melainkan juga mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas lewat-ayat-ayat kawniyah.    Para mahasiswa yang diberi identitas sebagai sarjana muslim akhirnya terlibat dalam mengembangkan sains dan teknologi sebagaimana para mahasiswa lain pada umumnya.

Sebagai wujud nyata dari hasil pendidikan yang berparadigma Islam, menjadikan mahasiswa memiliki sumber pengetahuan yang lebih utuh, yaitu al Qur’an dan hadits yang kemudian disempurnakan dengan hasil-hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis. Dengan melalui paradigma seperti itu, maka akan dihasilkan sarjana muslim yang  memiliki pengetahuan luas hingga mampu  bersaing bersama-sama para ilmuwan lainnya di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Inilah salah satu cara dalam upaya menjadikan ummat Islam lebih maju, progresif,  dan mampu menghadapi persaingan masa depan di tengah-tengah kehidupan yang semakin  berkembang  dan mengglobal. Wallahu a’lam.


Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: