//
you're reading...
Uncategorized

PERSOALAN UMAT

oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I.,M.Pd

Kalau kita mencermati realitas ummat, kekayaan yang menonjol pada saat sekarang ini adalah justru berupa problem yang menghimpit mereka dan sangat sulit dipecahkan. Oleh karena itu, tatkala kita mau berbicara perihal problem umat , maka yang sulit adalah justru memilih mana yang perlu diperbincangkan dan kalau mungkin yang dapat dipecahkan. Hampir semua bidang kehidupan, baik persoalan politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, lingkungan hidup dan lain-lain, umat Islam terasa tertinggal. Belum lagi akhir-akhir ini, dengan munculnya isu terorisme di mana-mana, lagi-lagi yang ditunding sebagai sumbernya adalah umat Islam, walaupun pada kenyataannya tidak pernah ada bukti yang signifikan terhadap tudingan tersebut.

Islam dilihat dari ajarannya yang bersumber dari al-Quran dan hadits memuat konsep kehidupan yang amat ideal. Al-Quran dan hadits memberikan tuntunan tentang bagaimana membangun komunikasi dengan Tuhan lewat ibadah (ritual) seperi dzikir yang harus dilakukan pada setiap saat, sholat, puasa, zakat dan haji. Al-Quran memberikan tuntunan hidup agar kehidupan manusia dipenuhi oleh suasana berkeadilan, kejujuran, kesetaraan dan kesamaan; keharusan berpeduli kepada orang miskin dan anak yatim. Bahkan, disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mempedulikan orang miskin dan anak yatim disebut sebagai pembohong terhadap agamanya. Islam juga mengajarkan bagaimana hidup hemat, selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah, sabar, selalu menjaga hawa nafsu, memperkukuh silaturrahmi, menjauhi tingkah laku yang merusak (mungkar). Islam juga mengajarkan agar umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Manusia diperintah untuk berfikir tentang ciptaan-Nya pada lingkup yang tidak terbatas. Hanya Dzat Allah saja yang diberikan sinyal untuk tidak dijamah oleh pikiran manusia. Hal itu dikarenakan, manusia tidak akan mungkin mampu memahami dzat Allah. Al-Quran juga mengajarkan tentang keselamatan mealui konsep iman, amal shaleh dan akhlak yang mulia. Islam juga mengajarkan untuk memelihara agama, akal, keturunan, jiwa dan harta benda. Selain itu Islam memberikan ajaran mulia dan luhur yang tidak mungkin kita sebutkan satu per satu pada tulisan yang terbatas ini.

Berkaitan dengan hal di atas, persoalan yang muncul kemudian adalah mengapa umat Islam selalu tertinggal dari umat lainnya? Bukankah umat Islam disebut-sebut dalam Al-Quran sebagai umat yang terbaik (khoirul ummah), umat yang beruntung, umat yang terpilih dan seterusnya. Akan tetapi pada kenyataannya, dari sisi ekonomi banyak negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim, pada umumnya masih diliputi oleh suasana kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. Negara-negara Islam masih banyak disebut sebagai negara berkembang (under development country) dan belum sampai pada taraf sebagai negara maju. Begitu juga dalam bidang pendidikan, sampai hari ini tidak pernah ada negara muslim yang mampu melahirkan lembaga pendidikan yang dianggap unggul sehingga dibanjiri oleh anak-anak dari negara-negara lain untuk menimba ilmu disana— kecuali pengetahuan agama. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anak muda dari negara mayoritas muslim banyak bermigrasi ke negara-negara Barat yang pada umumnya non-muslim untuk menempuh pendidikan dengan jumlah yang tidak terhitung banyaknya. Demikian juga dalam hal pengelolaan lingkungan hidup, umat Islam masih ketinggalan jauh dengan negara lain. Hal ini tidak perlu kita lihat jauh-jauh, di Indonesia misalnya, negara kita sendiri, sebagai sebuah negara yang disebut memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanahnya amat subur, tumbuh-tumbuhan apa saja dapat tumbuh dan berbuah jika ditanam.

Namun pada kenyataannya, penduduknya tak mampu menanam dan memelihara dengan baik. Kita saksikan sekarang ini, hutan menjadi gundul, gunung-gunung menjadi gersang, hutan ditebang habis, mata air menhilang, sungai-sungai menjadi mati dan hampir-hampir tanpa air. Akibatnya, yang terjadi serba mala petaka. Tatkala datang musim hujan, maka bencana banjir yang terjadi. Dan sebaliknya, jika datang musim kemarau, maka di mana-mana kekeringan dan tanamanpun mati dan tidak dapat dipanen. Potensi alam yang melimpah saja ternyata tidak cukup, jika orang-orangnya tidak berkemampuan mengelolanya dengan baik. Sebaliknya, yang terjadi justru sebaliknya, dirusak yang berakibat malapetaka. Persoalannya tidak hanya berhenti di sini, lebih dari itu juga menyangkut perilaku dan sikap hidup sebagian masyarakat Islam. Lagi-lagi diIndonesiayang berpenduduk mayoritas muslim dikenal banyak terjadi korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku buruk lainnya. Pertanyaan yang selalu diajukan adalah mengapa hal itu semua terjadi ?

Jawabannya tentu tidak tunggal, tetapi banyak variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskannya. Pada kesempatan yang sempit dan terbatas ini coba kita lihat dari aspek bagaimana pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya. Selama ini, menurut pengamatan, Islam lebih banyak hanya dipahami sebatas dari aspek spiritualnya. Baru akhir-akhir ini mulai berkembang kajian Islam dari berbagai aspeknya, baik dari politik, pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi dan lain-lain, sehingga muncul konsep-konsep tentang ekonomi Islam, manajemen Islam, bank syariah dan lain-lain. Akibat keterbatasan pemahaman itu, Islam tidak lebih hanya dipahami sebagai tuntunan spiritual. Gejala itu tampak terekspresi dalam kehidupan keagamaan sehari-hari, maupun juga dalam bentuk kelembagaan dan juga lebih jelas lagi pada materi pendidikan agama Islam.

Lembaga Pendidikan Tinggi Islam yang disebut modern, seperti IAIN/STAIN/PTAIS hanya mengembangkan Fakultas-fakultas Ushuluddin, Syariah, Tarbiyah, Dakwah, dan Adab. Kajian-kajian di luar itu dipandang bukan berada pada lingkup Islam, dan menyebutnya sebagai fakultas/ilmu umum. Begitu pula jenis mata pelajaran agama di sekolah, biasanya diformat menjadi mata pelajaran tauhid, fiqh, akhlak/tassawuf dan tarikh dan Bahasa Arab. Selain itu sekalipun sesungguhnya merupakan implementasi perintah Al-Quran untuk dipelajari, semisal berkenaan dengan biologi, fisika, kimia, berhitung dan lain-lain, belum disebut sebagai bagian dari mempelajari Islam. Melalui cara berpikir dikotomis seperti ini, jangan berharap proyek-proyek raksasa membangun jembatan untuk menghubungkan antar pulau, menelitian untuk mencari tahu isi perut bumi, gejala Tsunami misalnya, masuk disebut dalam kategori amal shaleh yang merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam.

Selain itu, cara pandang Islam seperti itu, disadari atau tidak, sesungguhnya akan berakibat mempersempit lingkup ajaran Islam itu sendiri. Islam hanya akan berada di masjid-masjid, di tempat-tempat kegiatan spiritual, di seputar upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Tokoh Islam dipersonifikasi sekedar sebagai ahli doa, bukan penemu salah satu bidang ilmu pengetahuan dari kegiatan risetnya, dan juga bukan pengusaha besar dan kelompok-kelompok profesional, dan tidak juga orang yang berada di kancah politik yang sesungguhnya sehari-hari memikirkan dan memperjuangkan umat dan kemanusiaan. Cara pandang seperti ini menjadikan Islam memiliki lingkup yang amat sempit dan berakibat pula pada adanya kesalahpahaman yang sangat serius terhadap Islam.

Jika kita mau mengkaji secara seksama isi kandungan Al-Quran dan juga hadits Nabi SAW, sesungguhnya ajaran ini memiliki lingkup yang sedemikian luas dan oleh karenanya disebut sebagai ajaran yang bersifat universal. Sebagai sifatnya yang universal itu Al-Quran dan hadits tidak akan memberikan tuntunan hal-hal yang bersifat detail, melainkan yang bersifat garis besar kecuali hal-hal tertentu. Hal-hal tertentu yang dimaksudkan misalnya, Al-Quran juga berbicara tentang waris, tentang siapa yang boleh dan yang tidak boleh dinikahi. Universalitas ajaran Islam kemudian disebut Islam bukan semata-mata agama, melainkan juga peradaban (Islam is indeed much more than a theology, its complete civilization). Pandangan seperti ini dapat kita uji sendiri dalam Al-Quran dan hadits. Al Quran dan hadits memberi informasi konsep tentang ketuhanan, tentang penciptaan, tentang manusia, tentang alam, tentang bagaimana manusia agar selamat, baik selamat di dunia maupun di akhirat. Tentang ketuhanan, Islam memberikan tuntunan secara jelas. Islam hanya menuhankan Allah yang Esa. Manusia dilarang menuhankan makhluk-Nya.

Manusia, dengan pemahaman konsep ini, memiliki kedudukan yang sederajat atau setara yaitu sama-sama sebagai mahluk penyembah Tuhan. Tentang penciptaan, Al-Quran menjelaskan baik penciptaan manusia maupun penciptaan jagad raya. Tentang manusia, Al-Quran menjelaskan secara luas, baik secara fisik, akal, jiwa maupun nafsu. Al-Quran juga berbicara tentang alam, mulai dari bumi, langit, gunung, tumbuh-tumbuhan, hewan, samudera/lautan, angin, petir, air, tanah dan seterusnya. Al-Quran juga bicara tentang keselamatan, sesuatu keadaan yang didambakan oleh seluruh manusia kapan dan dimanapun mereka hidup. Agar mencapai keselamatan di dunia dan akhirat, Al Quran mengajarkan iman, Islam, ihsan, amal shaleh dan akhlak yang mulia (akhlaq al-karimah). Pemahaman Islam seperti ini menjadikan lingkup ajarannya sedemikian luas, seluas kehidupan itu sendiri. Hanya lagi-lagi, pada kenyataannya Islam baru dipahami dari aspek ritualnya, sehingga menjadikan Islam terkesan sempit, bahkan hanya memuat ajaran yang sekedar menyiapkan kehidupan akhirat dan ajaran itu tidak menjamah pada persoalan keduniaan yang luas. Cara pandang seperti ini sesungguhnya berdampak luas, sehingga bisa jadi, persoalan-persoalan umat Islam yang muncul saat ini bersumber dari cara memandang Islam yang serba terbatas ini.

Pemahaman Islam yang parsial, menurut pendapat saya, menjadi salah satu sumber persoalan umat Islam selama ini. Cara pandang dikotomis sebagaimana dikemukakan tersebut melahirkan pribadi terpecah (split personality). Seseorang yang memandang agama seperti itu, ia bisa jadi rajin menjalankan agamanya dalam pengertian beribadah ritual, tetapi sehari-hari masih menampakkan perilaku yang tidak sejalan dengan pandangan agamanya itu, seperti korupsi, nepotisme, kolusi maupun penyimpangan sosial yang sesungguhnya dilarang oleh Islam. Orang seperti ini beragama sebatas tatkala di masjid, di upacara kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian. Sedangkan tatkala berekonomi, berpolitik, menyelenggarakan pendidikan, kegiatan sosial dan lain-lain tidak merasa perlu menghadirkan Tuhan, baik dalam pikiran maupun perasaannya. Sikap mendua inilah sesungguhnya yang perlu diupayakan untuk dibenahi secara serius. Saya berkhayal, tatkala seseorang sedang bekerja di pasar, di sawah, di kantor, di perusahaan seperti di Indosat ini, berangkat dengan mengucap basmallah dan mengakhiri kerja dengan hamdallah, bekerja dengan penuh tanggungjawab, mengedepankan kualitas agar tidak merugikan konsumen, di sela-sela bekerja tatkala masuk waktu sholat, tatkala adzan dikumandangkan seesegera berhenti memenuhi panggilan sholat berjamaah dan seterusnya. Suasana kehidupan menjadi saling mengenal secara mendalam, saling kasih sayang antar-sesama, saling menghargai dan membantu.

Semua itu dilakukan untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera dan menyelamatkan dalam rangka menuju ridha Allah SWT. Saya yakin, jika kehidupan ini sudah diwarnai oleh nilai-nilai sebagaimana yang ditawarkan oleh Al-Quran dan hadits itu, maka berbagai problem umat ini dapat terselesaikan dengan sendirinya. Akan tetapi pertanyaan besar yang ada di depan kita adalah, bagaimana mewujudkan keadaan yang amat ideal itu. Muhammad SAW. memberikan tuntunan dengan sabdanya: ibdah binafsika, mulailah dari dirimu sendiri. Untuk mengubah masyarakat di manapun dan kapanpun harus dimulai dari siapa saja yang memiliki ide perubahan itu. Oleh karena itu, jika kita sebagai seorang Muslim menginginkan nilai-nilai Al-Quran dan tauladan Nabi yang kita cintai mewarnai kehidupan keluarga kita, kantor kita, lingkungan kita, maka tidak ada cara lain, kecuali kita mulai dari diri kita sendiri. Allahu alam bishowab.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: