//
you're reading...
Uncategorized

TIPOLOGI PEMIKIRAN PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

oleh : Imam Mustaqim, S.P.d.I.,M.Pd

  1. Pendahuluan

Tipologi adalah ilmu watak  golongan-golongan menurut tipe, corak watak masing-masing . Pemikiran sering diartikan sebagai produk  pikir yang secara sadar dan tegas. Pembaruan merupakan proses cara perbuatan membarui. Sedangkan pendidikan  merupakan sistem untuk meningkatkan kwalitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Dari pengertian diatas Tipologi  Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia adalah golongan-golongan tipe, corak sebagai pilihan dari beberapa kemungkinan yang secara sadar dan tegas diungkapkan untuk memperbaharui pendidikan Islam di Indonesia. Adapun tujuannya adalah untuk memberikan  sumbangan pemikiran pembaruan pendidikan Islam dan diharapkan dapat meningkatkan kwalitas hidup manusia Indonesia  dalam segala aspek kehidupan , mampu menciptakan kehidupan masyarakat Indonesia, yang notabene mayoritas Islam, dapat  memelopori, menjadi uswah, menyumbangkan kebudayaan-kebudayaan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang akan menjadi sentral figur, baik bagi masyarakat muslim Indonesia,  maupun seluruh masyakat, bangsa Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika.

Wacana ini akan mencoba menyajikan golongan tipe , corak  sebagai  Pemikiran Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia,  namun disadari bahwa tulisan ini belum mampu menampung seluruh pemikiran dari tokoh-tokoh intelaktual muslim. yang diduga memiliki perhatian terhadap masalah pendidikan. Hal ini terjadi disamping masih terbatasnya sumber-sumber yang dapat digunakan sebagai rujukan, juga agar dapat memberikan kesempatan kepada penulis dan peneliti lain untuk mendalami masalah Pendidikan Islam.

  1. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pendidikan Islam  telah diakui sebagai salah satu bidang Studi atau Kajian dalam Islam. Hal ini terbukti adanya Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam didalam setiap Jenjang pendidikan baik tingkat dasar, menengah ,maupun pendidikan tinggi, yang ditandai adanya Fakultas Tarbiyah pada Universitas Islam Negeri, maupun Perguruan Tinggi Islam Swasta. Namun Pendidikan Islam dalam kenyataannya terkesan lambat baik  dalam pertumbuhan maupun perkembangannya , bahkan  M. Syafi`i Anwar  mengatakan kaum Muslim kini tidak mampu melakukan dialog intelektual yang seimbang dengan barat, hingga pada akhirnya mereka hanya menjadi konsumen- konsumen ideologi barat  .

Harapan K.H. Ahmad Dahlan yang merintis Pendidikan yang integrallistik    dengan menyandingkan pendidikan agama dengan pelajaran umum untuk melahirkan individu dengan kepribadian yang utuh : menguasai ilmu agama dan ilmu umum sekaligus. Atau dengan kata lain melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama“  sepertinya belum berhasil. Bahkan sering diungkapkan oleh Drs.H. Hujair  Abdul Halik Sanaky, M.S.I. dalam kuliahnya di MSI UII Yogyakarta, bahwa pendidikan agama islam adalah merupakan (second class), baik dalam pola berfikir maupun dalam  metodologi. Sehingga dewasa ini Pendidikan Agama Islam belum  mampu menciptakan manusia yang  berkepribadian, berakhlaq, berwatak dan berkeyakinan muslim. Pendidikan Agama Islam di setiap jenjang pendidikan hanyalah sebagai sarana menyampaikan ilmu pengetahuan semata (kognitif), tidak berbeda dengan mata pelajaran yang lain seperti matematika,sejarah,fisika dan ilmu- ilmu yang lain, bahkan nampaknya Pendidikan Agama Islam bisa dikatakan terlambat, yang menyebabkan hingga saat ini Pendidikan Agama Islam belum mempunyai Pakar yang ahli dalam bidang Pendidikan Agama Islam. Dalam realita kehidupanpun sangat terlihat bahwa pola dan cara berkehidupan  masyarakat muslim kita hanya terjadi di tempat -tempat ibadah saja, apabila mereka sudah terjun dalam dunia kehidupan mereka seperti  dunia kerja, pasar , bermasyarakat, berpolitik,  bernegara  dan kehidupan lainnya mereka sudah lupa akan kepribadian ,akhlaq, watak dan keyakinan muslimnya. Kenyataan ini terjadi karena kurangnya sentuhan-sentuhan pemikiran yang berlian demi pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Pendidikan Islam, “Pendidikan Agama Islam bisa dikatakan terlambat dan hal ini sepertinya bukan hanya terjadi dimasa sekarang,  tetapi juga terjadi pada masa yang lalu“. Dan ternyata sampai sekarangpun masih belum banyak para Ilmuwan Islam yang meneliti  masalah pendidikan islam. Kondisi Ilmu Pendidikan Islam yang demikian itu harus segera diatasi dengan mengembangkan dan merubah paradigma pemikiran-pemikiran Pendidikan Islam melalui penulisan-penulisan, dan penelitian-penelitian guna memunculkan dan menumbuhkan ide- ide berlian yang teruji sehingga, kesalahan dan kekurangan apa yang selalu menggelisahkan khususnya dalam dunia pendidikan Islam dapat segera diperbaiki, demi tercapainya Pendidikan Islam yang dapat betul-betul melahirkan manusia, masyarakat, dan bangsa yang  berkepribadian, berakhlaq, berwatak dan berkeyakinan muslim.

  1. Sintesis Sekolah/madrasah dan Pesantren sebagai Alternatif Pendidikan Islam

Sekolah/madrasah dan pesantren adalah dua kebudayaan yang mempunyai banyak perbedaan. Sekolah/madrasah merupakan gejala yang lebih identik dengan kemodernan, sedangkan pesantren lebih Identik dengan ketradisionalan, kalau sekolah lebih menekankan yang bersifat liberal dan umum, sedang pesantren lebih bersandar pada figur pengasuh/kyai.  Pandangan seperti tersebut diatas sepertinya sudah tidak begitu tepat karena, pada era baru sekarang ini ,banyak juga pesantren yang sudah melakukan perubahan, yaitu ditandai dengan munculnya pesantren modern, sehingga meninggalkan kesan yang selama ini dilihat bahwa pesantren dinilai terbelakang. Maka kalau sekolah /madrasah sering dinilai lebih modern bukan berarti sekolah lebih unggul dari pesantren , dari realita output pelajar dimasyarakat bahwa  seorang anak dapat menulis dan membaca Alquran, shalat dan berakhlaq mulia itu bukan semata- mata pendidikan sekolah saja, akan tetapi jangan-jangan sekolah hanyalah semacam formalitas, dan yang lebih mempengaruhi adalah pendidikan diluar sekolah (pesantren/ Kyai). Dilihat dari perkembangan pendidikan islam diIndonesia, ternyata pesantren merupakan Embrio lahirnya pendidikan Islam di Indonesia. Dalam pandangan umumpun telah diakui bahwa pesantren mempunyai keunggulan apabila dibandingkan dengan sekolah / madrasah, terutama peranan Pesantren yang identik dengan pluralitasnya seperti diungkapkan oleh Muhammad Guntur Romly, bahwa pesantren yang identik dengan,

NU klasik adalah Konservatif tetapi saat ini mengalami perubahan sejak munculnya liberalisme pemikiran di diri NU .tetapi penggunaan “konservatif“ dan “liberal“ ini juga bermasalah. Memang ketika NU lahir memperjuangkan isi-isu konservatif , seperti hak bemadzhab, membaca barzanji, ziarah kubur , tahlilan dan lain –lain. tetapi sebagai bentuk dari ekspresi kebebasan beribadah, toleransi, keseimbangan dan penghargaan terhadap tradisi merupakan sikap moderat yang dalam kasus ini, sikap Nu bisa dibenarkan

Selain itu pesantren mempunyai keunggulan baik dalam bidang moral maupun keilmuannya. Seperti diungkap  oleh Nurcholis Masjdid.

Pertumbuhan sistem pendidikan di Indonesia akan mengikuti jalur pesantren –pesantren itu Sehingga perguruan tinggi tidak berupa UI,IPB,UGM,Unair, Brawijaya, dan lain –lain , tetapi mungkin Universitas Tremas, Krapyak,Tebu Ireng, Bangkalan, Lasem, Gontor dan sebagainya…setelah melihat dan membuat kiasan secara kasar dengan sistem pertumbuhan sistem pendidikan dinegara –negara barat yang terkenal adalah berasal dari cikal bakal perguruan –perguruan keagamaan.

Dengan mempertimbangkan kelebihan yang dimilikinya bukan tidak mungkin pesantren akan dilirik sebagai Alternatif ditengah pengapnya pendidikan formal di Indonesia . Hal ini  dapat terjadi karena  dalam Managemen Berbasis  Sekolah / Managemen Berbasis  Masyarakat lebih menekankan pendekatan dengan lokasi masyarakat, Dan yang lebih dekat serta mengetahui seluk -beluk masyarakat dilingkungan bawah adalah pesantren.

Sedangkan sekolah / madrasah  dewasa ini sangat terlihat kekurangan- kekurangannya yang antara lain:

  1. Visi dan misi, tak jarang kepala sekolah / madrasah belum faham Visi dan Misi ,sebagai titik  arah dan pengerucutan dari setiap langkahnya, “Segenap manusia yang terlibat dalam proyek pendidikan harus mengacu ke arah di ejawantahkannya visi dan misi diatas“, tidak sedikit kepala  sekolah/madrasah yang tidak memiliki “ Visi dan Misi yang Jelas kemana pendidikan mau akan dibawa dan dikembangkan“. Hampir dapat dikatakan bahwa Madrasah pada dewasa ini hanya merupakan/tidak lebih sebagai sekolah Umum yang bercirikan Islam, akhirnya madrasah  memberikan beban  berat yang harus dipikul siswa, pembelajaran menjadi tumpang tindih dan sarat dengan pemaksaan ,tanpa mengetahui arah yang  jelas mau dibawa kemana.
  2. Managemen  yang belum Profesional, sekolah/ madrasah belum mampu menyelenggarakan Pembelajaran dan Penyelenggaraan Pendidikan yang Efektif dan Berkwalitas.  Terjadinya berbagai macam bentuk  manipulasi nilai , administrasi menunjukkan betapa lemahnya managemen sekolah/ madrasah, sehingga menimbulkan suasana tidak sehat dan jauh dari tujuan pendidikan. “Semua pihak harus merasa prihatin dan segera melakukan perubahan manakala perkembangan menunjukkan sebaliknya“.“ Ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan,Oleh sebab itu.maka ilmu diIndonesiasukar berkembang selama kita suka berbohong“
  3. Kompetensi dan figur Guru yang kurang memadai ,guru adalah merupakan unsur yang terpenting dalam kegiatan belajar mengajar, disini kompetensi guru seharusnya tidak hanya, mumpuni dalam bidang materi,metodologi dan ketrampilan dalam mengajar tetapi juga dituntut harus dapat dijadikan teladan dalam sikap sehari- hari (digugu dan ditiru) .
  4.  Kurikulum dan Waktu sangat terbatas, yang akan menghambat sekolah/ madrasah dalam memberikan  keleluasaan mengaplikasikan dalam kehidupan konkrit di muka bumi, “pemikiran keislaman jangan selalu bersifat transendental eskapis, tetapi juga mempertautkan dan menyentuhkan pemikiran transcendental tersebut kearah sosial budaya yang konkret dan kontestual“ .Untuk mewujudkan Pendidikan Agama Islam yang mampu menciptakan manusia yang  berkepribadian, berakhlaq, berwatak dan berkeyakinan muslim, harus menjauhi batasan dan keterkungkungan yang selalu menghimpit setiap gerak dalam menentukan kemana arah dan tujuan pendidikan, diluar batasan waktu tersebut seharusnya dapat digunakan untuk memperbanyak pembiasaa-pembiasan dan mengaplikasikan  ilmu yang didapat kedalam kehidupan sehari-hari yang akan menuju kearah kepribadian, akhlaq, watak dan keyakinan yang mantap.

Akan tetapi walaupun pesantren mempunyai keunggulan dari sekolah/ madrasah bukan  berarti lepas dari kelemahan. Maka untuk menjadikan Pesantren sebagai tipe ,corak alternatif pemikiran pembaruan pendidikan Islam di Indonesia perlu diadakan pembenahan- pembenahan. Karena justru dalam perkembangan zaman yang di tandai dengan cepatnya perubahan disemua sektor dewasa ini, pesantren menyimpan berbagai macam kelemahan, dalam merespon perkembangan zaman .Kelemahan pesantren tersebut akan menjadi hambatan untuk menuju pesantren sebagai tipe, corak  alternative pemikiran pembaharuan   pendidikan Islam di Indonesia. Hambatan –hambatan tersebut adalah :

  1. Faktor Kepemimpinan, secara kukuh pesantren masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik, yang berpusat pada seorang Kyai.hal menyebabkan managemen yang otoriter, “tertutup untuk menerima perubahan sehingga amat susah untuk mengikuti perkembangan yang terus bergerak“, pembaruan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan, pola semacam ini pun menjadi prospektif bagi kesinambungan pesantren dimasa yang akan datang, sehingga banyak pesantren yang sebelumnya popular tiba-tiba hilang begitu saja karena sang Kyai meninggal dunia
  2. Kelemahan dibidang metodologi , telah umum bahwa pesantren mempunyai tradisi yang sangat kuat dibidang transmisi keilmuan Klasik, namun karena kurang adanya perkembangan metodologi  dan prases transmisi tersebut hanya akan melahirkan penumpukan keilmuan sehinga “alumni pesantren umumnya memiliki pikiran yang sempit dan tidak percaya diri ketika bersentuhan dengan kehidupan riil di masyarakat yang selalu berkembang sejalan dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi“.
  3. Disorientasi ,yaitu pesantren kehilangan kemampuan mendefinisikan dan memposisikan dirinya ditengah realitas sosial yang sekarang ini mengalami perubahan begitu cepat.“tidak melengkapi para santrinya dengan berbagai skill yang patut diandalkan untuk menghadapi tantangan hidup dizaman modern ini“ Sehingga belum mampu melahirkan manusia yang intelek  ditengah tengah masyarakat yang semakin mengglobal.
  4. Kesimpulan

Dari Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Islam sebagai agama yang membawa misi rahmat bagi seluruh alam memerlukan sarana untuk menerapkannya secara efektif dan efisien .  Sarana tersebut salah satunya adalah pendidikan, dengan demikian setiap langkah dalam  pendidikan di Indonesia, harus mengacu pada visi dan misi Islam, dan selain sekolah/ madrasah, pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang boleh dikatakan sebagai embrio pendidikan agama islam ini dapat dilirik sebagai Tipe ,Corak  dari pemikiran pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia, walaupun untuk tipe ,corak  tersebut Pesantren masih harus berjuang keras untuk melakukan pembenahan pembenahan. Dengan tipe ,Corak  tersebut diharapkan bahwa pendidikan Islam  tidak hanya sebagai tempat penyampaian Ilmu Agama semata tetapi juga dapat mewujudkan Pendidikan Islam yang dapat betul-betul melahirkan manusia, masyarakat, dan bangsa yang  berkepribadian, berakhlaq, berwatak dan berkeyakinan muslim. Sehingga tujuan pendidikan Islam untuk meningkatkan kwalitas hidup manusia Indonesia   dalam segala aspek kehidupan dan mampu menciptakan kehidupan masyarakat Indonesia, yang notabene mayoritas Islam, dapat  memelopori, menjadi uswah, menyumbangkan kebudayaan-kebudayaan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang akan menjadi sentral figur, baik bagi masyarakat muslim Indonesia maupun seluruh masyakat, bangsa Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika dapat terwujud , Amin yaa rabbal `alamin.

————— 0 ————-

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: