//
you're reading...
Uncategorized

ASAL USUL DAN KARAKTER MADRASAH

Oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd

Artikel yang ditulis oleh A.L.Tibawi didasarkan pada artikel DR. Goerge Makdisi yang berjudul “Lembaga-lembaga Pendidikan Muslim pada abad 12 di Bagdad”. Menurut Tibawi artikel George Makdisi merupakan suatu kajian yang teliti, lebih dari sebuah catatan mosaik terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam. Artikel George Makdisi melampaui sebuah tesis atau sudah bisa dikategori sebuah tesis. Artikel ini membahas tentang karakter pendidikan madrasah pada umumnya dan khususnya madrasah yang didirikan oleh “Nizam al-Mulk” di Bagdad. Tetapi pada artikel tersebut Tibawi mempertanyakan beberapa hal dalam artikel tersebut, karena tidak ada dokumen (tidak ada bukti) yang mendukung dan sangat meragukan, untuk itu Tibawi menolak ada alasan untuk menolak beberapa hal yang dikemukakan George Makdisi dalam artikelnya. Tetapi dengan sangat rendah hati “George Makdisi”, mendesak Tibawi untuk menerbitkan pandangan saya dalam sebuah tulisan. Untuk memenuhi permintaan George Makdisi, maka Tibawi berusaha menulis sebuah artikel. Tibawi tidak bermaksud berpolitik-politik dalam pembahasan tetapi yang muncul dalam artikel adalah diskusi yang kelihatannya terbuka untuk menjadi pertanyaan-pertanyaan.

Artikel George Makdisi ini, kelihatan menganggap, pertama, bahwa perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Muslim pada abad ke-4 berjalan dengan baik, karena melalui penelitian yang terus menerus, dan mungkin ilmuan yang menghasilkan studi terhadap lembaga-lembaga pendidikan pada abad ke-5, kurang memperhatikan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Muslim pada abad ke-4. Kedua, artikel ini kelihatannya menganggap bahwa untuk menggambarkan kesimpulan terhadap lembaga-lembaga pendidikan muslim di kota atau negara tertentu pada periode yang terpisah atau terisolir dari lembaga-lembaga yang berkembang pesat pada saat yang sama di negara Naisabur dan Kordova. Menurut Tibawi, menggunakan pendekatan seperti ini mengandung resiko kesalahan terhadap karakter esensi dari pendidikan Muslim. Pernyataannya, apakah perbedaan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam dan pembelajaran pendidikan Muslim pada umum, merupakan fakta-fakta yang jelas untuk menarik rujuan kesimpulan yang umum. Kajian terhadap sejarah pendidikan Muslim merupakan salah satu wilayah yang belum jelas terhadap pengetahuan kita tentang budaya Muslim. Karena hal ini hanya merupakan sebagian yang berkenaan dengan sumber-sumber asli, dan sebagian besar materi yang ditulis oleh penulis-penulis asing dan orang muslim sendiri kurang lengkap. Seluruh usaha untuk menggambarkan pendidikan Muslim sebagai sebuah sistem organisasi dari tingkat dasar ketingkat universitas, telah dilakukan. Tetapi gambaran yang menyimpang tentang stratifikasi gaya modern dan sistem tata norma terhadap aktivitas informal, kurang mendapat penjelasan atau tidak ada pengaruh langsung terhadap era Dar-Ilm dan al-Madrasah pada Syi’ah dan Sunni tidak dilakukan secara berurutan. Menurut DR.Makdisi, bahwa dua lembaga utama hingga abad ke-4 adalah Maktab dan Majlis, yang dulunya juga disebut Kuttab telah menjadi tempat pemberantasan buta hurup dan pengajaran mengenai tata bahasa, sajak, sejarah (akhbar) dan yang penting al-Qur’an. Tambahan lain adalah ahl al-ilm (tradisi atau ilmu-ilmu agama secara umum), atau ahl-al hikmah (philosophy), dan ahl adab (sastra). Maktab bisa berlangsung di sebuah rumah pribadi, toko, atau beberapa tempat lainnya, semuanya di pimpin oleh seorang Muallim. Sedangkan Majlis prinsipnya adalah sebuah halaqah (lingkungan) yang dilaksanakan di Mesjid, tetapi bisa juga dilaksanakan di rumah pribadi, toko-toko buku, dan perpustakaan, yang dipimpin oleh mutatis mutandis, seorang alim, ustad, syekh, hakim, dan lain-lain. Seluruh unsur-unsur yang mengajar di maktab menuntut menerima gaji dari orang tua murid, baik yang mengajar pada pendidikan tingkat tinggi, dan juga yang menyampaikan materi-materi kesustraan dan aritmatika. Tetapi pada kedua tingkat yaitu Maktab dan Majlis, al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama lainnya di ajarkan kapan saja oleh guru alim yang umumnya yang tidak mau menerima imbalan. Maktab atau Majlis diurus oleh negara memperoleh dana dari dana-dana umum. Dalam pengajaran al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama merupakan sebuah tugas pelengkap yang merupakan tugas-tugas kenegaraan dari gubernur ke hakim. Karena negara sendiri tidak berusaha membuat sebuah departemen yang terpisah untuk ta’lim (pengajaran). Apa yang dilakukan ini bukan merupakan uapaya pada masa Umar atau masa Abd.Malik atau pada masa al-Ma’mun. Maka menurut Tibawi ada tiga peristiwa yang menjadi ukuran ; Partama, ketika sistem administrasi kenegaraan telah diperbaiki, Kedua, pemakaian bahasa Arab untuk dokumen-dokumen negara yang harus melibatkan pegawai-pegawai, Ketiga, ketika khalifah berusaha mengindoktrinasikan materi-materi terhadap generasi mudanya sebagai pengganti ahli-ahli ilmu agama. Meskipun begitu para khalifah, pejabat-pejabat tinggi dan anggota-anggota masyarakat yang mampu membuat usaha-usaha sporadis untuk memprakasai dan melindungi berbagai pusat studi serta lembaga pendidikan di samaping Mesjid. Seperti lembaga-lembaga yang menggunakan nama yang berbeda mulai dari perpustakaan al-Rasyid, al-Makmun dan lembaga penerjemahan seperti “Bait al-Hikmah”, “al-Hakim” dan “Dar al-Ilm”. Perpustakaan umum dan pribadi di mana para murid dan para ilmuan bertemu untuk berdiskusi dan studi, jumlahnya terus menerus bertambah. Pada akhir abad ke-4 beberapa lembaga tersebut menonjol dalam kehidupan intelektual di dunia Muslim, karena lembaga-lembaga tersebut mengembangkan berbagai macam konsentrasi, serta meiliki karakter-karakter tersendiri. Lembaga-lembaga tersebut memiliki sarana-sarana penunjang seperti bangunan gedung yang permanen, pegawai yang digaji, dan beberapa di anatara lembaga tersebut menyediakan alat-alat tulis-menulis secara gratis dan ruangan-ruangan balajar yang bebas, bahkan lembaga-lembaga tersebut memberikan atau menanggung biaya hidup para cendekiawan atau ilmuannya. Dengan demikian cikal bakal madrasah atau lembaga sejenisnya, dapat dikatakan telah ada sejak lama sebelum terjadinya perubahan, karena perkembangan secara alamiah yang telah berlangsung pada abad sebelumnya. Maka, seluruh karakter-karakter ditemukan dari sistem halaqah (lingkaran) di mesjid dan berbagai lembaga-lembaga yang mendapat bantuan maupun lembaga-lembaga swasta yang mendahuluinya. Makdisi, berpendapat bahwa madrasah khususnya yang didirikan oleh Nizam al-Mulk, adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk mengajar fiqh dengan mengenyampingkan ilmu-ilmu agama lainnya. “Permasalah Ini merupakan tesis utamanya”, dalam menelaah seluruh artikel dan bentuk-bentuk justifikasi terhadap pendapatnya. Pendapat Goldziher bahwa teologi ortodox atau Asya’ria diajarkan dilembaga-lembaga pendidikan tersebut. Tetapi menurut Tibawi, perlu diingat bahwa kita tidak mempunyai bukti langsung terhadap isi pelajaran yang telah diajarkan di lembaga ini dan lembaga-lembaga yang lainnya. Pendapat ini menyesatkan, oleh karena itu untuk menganggap atau berkesimpulan terhadap orang yang belajar berbagai spesialisasi ilmu-ilmu Islam mungkin bisa diibaratkan dengan orang belajar di al-Azhar pada masa kini. Seorang ‘alim pada abad ke-5 yang hanya mengerti dan mengajar bidang fiqh saja. Jadi punya tata cara sendiri dari materi yang saling berhubungan termasuk ilmu-ilmu agama pada saat itu, dan hal ini mungkin menjadi karakter madrasah. Satu hal yang jelas bagi kita dan masuk akal, bahwa madrasah merupakan simbol kemenangan teologi ortodox terhadap filsafat natural dan spekulatif dengan melarang pengajaran filsafat, dan akibat dari pelarangan ini menjadi kesempatan munculnya keseluruhan lapangan “ulum al-Din”. Susunan organisasi Madrasah sangat sederhana. Setiap guru utama yang diangkat juga diserah tugas tambahan sebagai pengelola, sedangkan tugas mengajar merupakan tugas suci. Madrasah tidak mempunyai kurikulum yang baku, tetapi tidak ada bukti bahwa madrasah meniadakan pengajaran yang berhubungan dengan materi-materi keagamaan, bahkan mata pelajaran bahasa hanya sebagai materi penunjang. Sebagai sebuah indikasi yang jelas tentang apa yang diajarkan ditemukan dalam catatan-catatan atau tulisan-tulisan para guru. Sebagai contoh guru-guru Nizamiyah sebagian besar karya-karyanya yang masih ada, terutama “al-Ghazali”, susunan karya-karyanya jelas dan merupakan sebuah karya ilmu yang komprehensif yang merupakan ringkasan dari seluruh ilmu-ilmu agama dan yang lainnya. Sebuah buku pedoman yang tulis setelah tulisan “Ihya Ulum al-Din” merupakan penuntut yang cukup untuk menunjukan hal di maksud dan penekanan terhadap seluruh ilmu agama sebagai pengajaran utama. al-Ghazali, menyesalkan semangat dibidang fiqh, di mana semangat fiqh cenderung membatasi hubungan ilmu yang luas menjadi suatu bidang yang sempit. Kemudian dengan mengemukakan hadits, bahwa mencari ilmu adalah tugas setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, dengan mengatakan bahwa fiqh hanyalah salah satu dari ilmu agama yang dipelajari yang merupakan tugas individu (fardu ain). Makdisi, mengganggap bahwa sistem yang baku dalam lembaga pendidikan tinggi pada abad ke-5 di Bagdad, di bedakan menjadi 2 (dua) type, yaitu ; (a) lembaga yang tertutup seperti jami’, pusat-pusat studi dan diskusi lainnya, (b) lembaga-lembaga eksklusif seperti madrasah dan akademi mesjid. Sementara menurut Tibawi bahwa bukti yang digunakan tidak jelas dan tidak lengkap, karena artikel yang dikumpul tidak cermat sehingga menghasilkan gambar yang tidak masuk akal, tidak meyakinkan. Karena bukti lain secara mudah dapat dibuat untuk menghasilkan sebuah gambar yang berbeda, tetapi juga dikarenakan gambaran “artifisial” dan tidak realistik terhadap mesjid sebagai sebuah lembaga terbatas yang fungsi utamanya adalah mengajarkan hukum. Dengan pendidikan yang dimaksud, mesjid digambarkan sebagai bentuk kecil jami’, yang hanya akan mengajar satu mata pelajaran saja. Mesjid, apakah jami’ atau Mesjid yang melayani masyarakat luas ataupun masyarakat kecil, selalu menjadi pusat kehidupan dan keagamaan masyarakat, karena keduanya merupakan Baitul Allah dan Baitul Ummah. Menurut teori dan juga dalam prakteknya gelar imam dari beberapa Mesjid adalah Khalifah sendiri sebagai pengganti Nabi. Fungsi ini didelegasikan kepada para Gubernur di propinsi, dan untuk menekankan pertalian yang berkelenjatan dengan Khalifah, untuk itu dalam khutbah selalu disembutkan namanya. Sebuah mesjid pada abad ke-5 di Bagdad mungkin menjadi milik penganut paham Syafi’i atau penganut faham keagamaan lainnya, dan mungkin hal ini yang membuat “exlusuf”, tapi ini hanya menyangkut dengan rasa ataufaham. Tetapi esensi kesatuan adalah hal-hal ritual berdasarkan faham Sunni ortodok. Berbagai cabang ilmu pengetahuan agama pada dasarnya satu sama lain saling berhubungan. Sedangkan ketertutupan (“exklusiveness”) hanya berdasarkan perbedaan faham yang dipaksakan dan tidak realistik. Setiap memulai pelajaran, secara tradisional dimulai dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an dan beberapa hadits yang dipilih dan berhubungan dengan materi pelajaran yang diajarkan. Sejumlah guru yang memberikan susunan belajar tidak saja berdasarkan prinsip-prinsip keahlian ilmunya, tapi bukan berarti melepaskan mata pelajaran pembantu seperti tata bahasa Arab. 000000 Tidaklah mesti dipahami bahwa halaqah (lingkaran) bagi murid di berbagai mesjid semata-mata diperuntukan atau hanya dihadiri oleh ilmuan yang berliant, tetapi selalu terbuka bagi siapa saja yang dapat mengambil manfaat dari halaqah tersebut. Terlepas dari batasan umur atau standar akademik, oleh karena itu halaqah dalam pendekatan belajarnya telah menjadi “Liberal”. Banyak istilah-istilah Inggris yang digunakan oleh Makdisi memperlihatkan sebuah kecenderungan untuk mensistimatis dan memformulasikan lembaga-lembaga pendidikan, dengan memberikan kesan bahawa lembaga-lembaga tersebut dibawah kontrol Negara atau penguasa yang mirip dengan akademi atau universitas negeri pada zaman sekarang ini. Istilah-istilah yang tidak layak tersebut seperti mesjid cathedral umum untuk “jami'”, akademi untuk “rilxil”, dan jabatan guru besar untuk halaqah, memunculkan sistem hirarki terhadap pengangkatan-pengangkatan jabatan, senioritas succeasion, mahasiswa S-1 dan S-2 dan lain lain. Tidak berarti bahwa hal ini merupakan bukti dari kekuatan pusat atau kontrol. Lembaga-lembaga tersebut lebih dikendalikan oleh sebuah kebiasaan yang elastis dari pada oleh teori yang baku. Sebenarnya pengajaran di mesjid yang merupakan kesadaran kolektif atau kelompok dari para murid adalah indikator yang benar bagi peraturan akademik. Mengingat pada hubungan ini praktek mengajar dari para guru-guru terkenal yang melaksanakan halaqahnya lebih dari satu mesjid dan praktek yang terjadual dari beberapa guru, tiap-tiap pelaksana halaqahnya di sebuah lembaga tidak melibatkan faham-faham atau majhab yang diantaranya. Berdasarkan kasus ini, memberikan kesan bahwa “informalitas” dan “toleransi” lebih baik dari pada formalitas dan persaingan bagi jabatan. Salah satu jasa DR. Makdisi adalah usahanya untuk memberikan definisi dan istilah-istilah pendidikan yang digunakan secara umum seperti madrasah, mudarris mu’id dan lain-lain. Penulis lain sebelumnya juga membuat istilah tersebut, perbedaan mereka dengan DR.Makdisi hanya pada kesimpulan-kesimpulan akhir. Sejarawan Muslim dan penulis lainnya memulai dengan al-Baladhuri, memakai kata-kata “jizyah” dan sampai pada kharaj, tidak akurat, al-Ghazali, memakai kata-kata “mudarris” dan “mu’allim”, terkenal karena konsisten dengan apa yang mungkin dianggap oleh sarjana-sarjana modern dengan istilah teknik. Tetapi DR.Makdisi tidak memberikan bantahan. Jika untuk contoh : arti “dars” baginya adalah mata pelajaran dalam hukum-hukum keagamaan, dan kata madrasah diambil dari akar kata yang sama, sehingga lembaga tersebut hanya mengajarkan hukum. Jelaslah bahwa DR.Makdisi tidak menyebutkan bukti pendukung lainya, tetapi hanya bukti yang berdasarkan pada asal kata bahasa atau akar kata yang tidak dapat diterapkan secara umum. Untuk itu, pendapat DR.Makdisi tentang asal mula dan fungsi madrasah harus dipertanyakan. Diskripsi DR.Makdisi tentang madrasah sebagai akademik khusus untuk hukum atau fiqh kelihatannya kontradiksi dengan pernyataanya pada (hal.16) bahwa sebuah akademi juga mengajarkan ajaran-ajaran ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, tata bahasa, sastra, teologi dokmatik, khutbah-khutbah dan lain lain. Sedangkan yang mengajar mata pelajaran tersebut jika tingkat akademi oleh seorang ahli hukum, seseorang yang hanya spesialisnya dalam bidang hukum, figur yang dapat dipercaya pada abad ke-5. Karena itu, bidang hukum (fiqh) mempunyai pengaruh yang tidak disangsikan dari sebagian besar peraturan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, seperti kata al-Ghazali, sebagai suatu ejekan terhadap para ahli teologi skolastik yang dicap sebagai fuqaha’, yang tidak disangsikan lagi. Kebenaran dari persoalan tersebut adalah semua mata pelajaran yang diajarkan di madrasah lakukan oleh guru utama dan juga oleh guru yang lainnya, Guru utama adalah seorang ahli hukum. Ada 2 (dua) pertimbangan, baik secara tradisional maupun praktek : (a) lembaga-lembaga pendidikan muslim telah menjadi kebiasaan selama lebih dari 4 abad dipimpin oleh seorang Muallim Utama di sebuah Maktab. Seorang Ustad utama baik itu penunjukkan atau diangkat bertugas di sebuah Majlis, dan seorang Mudarris Utama pada abad ke-5 bertugas di Madrasah, (b) Seorang Guru Utama umumnya berfungsi sebagai pengajar dan juga merangkap jabatan untuk mengatur sumbangan dan pengawasan terhadap bahan pelajaran di lembaga tersebut, maka dalam hal ini Guru Utama selalu mempunyai seorang pembantu atau lebih. Tetapi yang mungkin menjadi pertanyaan seorang Guru Utama juga sebagai seorang administrator Madrasah, maka administrasinya untuk kepentingan siapa, dan apakah perkembangan madrasah dapat dianggap sebagai kontrol dari negara? Ketentuan atau ketetapan bagi fungsi sebenarnya dari sebuah akademik sebenarnya di bawah kekuasaan atau kontrol negara, Seperti pada Madrasah yang didirikan oleh “Nizam al-Mulk” di Bagdad. Nizam seorang yang mandiri, lahir pada tahun 408 H, dia menitik karir sebagai seorang wazir sultan-sultan Bani Saljuk di Ald Arsaun pada tahun 455. Melalui surat pengangkatan dari Sultan. Nizam mempunya peran yang efektif terhadap perkembangan kerajaan, karena Nizam memperlihatkan kemampuan administratif yang luar biasa dalam menjalankan jabatannya. Nizam melakukan sejumlah pembaharuan dan perubahan, khususnya dalam bidang perpajakan dan penghargaan terhadap orang-orang yang belajar agama. Nizam, 2 tahun setelah menduduki jabatan Wazir mendirikan Madrasah Zizamiyah di Bagdad yang dibuka pada tahun 457 H. Sedangkan mengenai pembiayaan Madrasah Nizamiyah dan 8 Madrasah lainnya, atas usaha Nizam sendiri. Selama 2 tahun dalam memegang jabatannya tidak cukup untuk mendukung atau membiayai pendidikan tinggi di kota-kota propinsi Iraq dan Khurasan atas dari sendiri, karena tidak ada bukti bahwa untuk membiayai sekolah, biayanya datang dari siswa orang tua siswa. Nizam, mempunyai peran penting dalam hal pengembangan pendidikan, dan dalam hal yang lebih penting adalah sebagai administratur tertinggi kerajaan dengan otoritas delegasi dari Sultan atau khalifah, karena dalam hal pengurusan madrasah negara atau khalifah belum membentuk sebuah departemen yang khusus mengurus masalah ta’lim atau pengajaran. Maka lembaga-lembaga pendidikan umum pada saat itu tidak secara langsung dibiayai oleh negara tetapi dari sebagian besar dana yang bersifat waqaf masyarakat. Maka administrasi terhadap berbagai dana waqaf pendidikan dan pelaksanaan pengajaran berada dalam kekuasaan dan pengaturan ulama dengan pengawasan atau kontrol negara, karena para Ualama juga diberi wewenang oleh negara untuk mengurus hal tersebut. Untuk itu, pelaksanaan dana waqaf ditentukan dengan surat akte-akte yang diatur berdasarkan hukum agama. Para ulama bebas dari tugas mengajar dan para ulama bertugas mengontrol dan menyeimbangkan atau menyesuaikan materi pelajaran terhadap pembelajaran masyarakat. DR.Makdisi begitu bersemangat untuk menetapkan bahwa Nizam sebagai seorang pendiri lembaga-lembaga pendidikan dan menunjukkan bahwa Madrasah Nizamiyah merupakan salah satu dari beberapa lembaga yang sama di kota Bagdad pada waktu yang sama. Nizam, memberikan sumbangan yang sangat berguna terhadap ilmu pengetahuan dengan mencatat lembaga-lembaga tersebut berdampingan dengan Nizamiyah. Pembaca perlu mencermati secara teliti dan bertanya mengapa DR.Makdisi begitu bersemangat untuk membahas persolan Madrasah, karena dalam berbagai hal DR.Makdisi sendiri sedikit sekali memberikan nama dan data atau dokumentasi yang terkait. Tetapi perlu memperhatikan pernyataan DR.Makdisi bahwa Nizam tidak dimotivasi oleh keikhlasan untuk mendirikan lembaga-lembaga tersebut. Jadi pertanyaannya apa yang menjadi mitivasi Nizam? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah berkenaan dengan persoalan internal yaitu pembaharuan-pembaharuan administrasi yang secara umum dilakukan oleh Nizam. Sedangkan persoalan eksternal kenegaraan yaitu apa yang terjadi dalam persaingan Khalifah Fatimiyah. Nizam, menulis surat bahwa dalam administrasi kehakiman atau pengadilan berhubungan erat dengan profesi orang yang terpelajar. Apa yang ditulis oleh Nizam merupakan pengalaman panjangnya sebagai perdana menteri dan peraturan ini mengatur posisi orang yang terpelajar dalam masyarakat yang mungkin bisa dipakai sebagai petunjuk bagi kegiatan pendidikan di masa depan dan juga sebagai sebuah generalisasi berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan. Posisi hakim dan para khatib dalam herarki administratif diakui secara penuh. Sedangkan orang terpelajar diharapkan berkewajiban memberikan nasihat atau pertimbangan kepada Sultan, baik diminta atau tidak dan juga terhadap pejabat-pejabat yang mengatur masalah kenegaraan yang berdasarkan hukum. Pendapat lain dari DR.Makdisi, bahwa sesuai dengan pengertian lembaga-lembaga tersebut, walaupun pemikiran yang dia tulis DR.Makdisi kurang didukungan oleh sejumlah dokument. Untuk itu, kesimpulan dari artikelnya, DR.Makdisi melihat sebuah “lingkaran” dan “kecenderungan” (trend) dalam perkembangan lembaga-lembaga pendidikan. Menurut DR.Makdisi, lingkaran tersebut berasal dari jami’ yang tertutup yang diterapkan oleh semua sekolah hukum. Bagi Mesjid yang “exulusive” dan “Madrasah exulusive” masing-masing menerapkan sekolah hukum khusus. Kemudian Madrasah tertutup juga didirikan oleh al-Mustansir pada tahun 634 H. al-Mustansir adalah salah seorang khalifah bani Abbasiyah yang terakhir. Sedangkan “trend” rujukan pendirian Madrasah oleh khalifah Aldih yang berbentu sebuah lembaga “exelusive” tapi sepertinya lebih berbentuk “jami'” yang tertutup. Sudah tentu jika para pembaca mempunyai pandangan bahwa perlindungan dan kontrol dari negara muncul bahkan lebih dulu dari masa Nizam, tentunya teori DR.Makdisi tidak dapat dipertahankan. Pembaca mungkin mempunyai pendapat bahwa lembaga-lembaga pendidikan muslim sama dengan lembaga-lembaga pendidikan lain selalu berkembang dalam garis-garis yang berhubungan dengan Mesjid, sehingga kesatuan dan kelengkapan dari dunia pendidikan bahkan ketika kesatuan politik sudah tidak ada lagi dapat diobservasi. Kecepatan perkembangan ide-ide dan sarjana pada waktu itu, informasinya berjalan lamban sehingga selalu timbul penafsiran yang meremehkan. Abdul Rahman III dan al-Hakam II di Kordova, al-Aizi dan al-Hakim di Kairo mempunyai rasa tanggung jawab yang sama seperti Nizam pada zamannya. Namun tanggung jawab pendidikannya dengan cara-caran pengelolaannya berbeda. Naisabur, Bagdad, Jerusalem, Kairo, Qairman dan Kordova meskipun berjauhan tapi bersama-sama tidak hanya dalam warisan umum teori tapi juga dalam perwujudan praktiknya. Pada abad ke-4 dan ke-5, merupakan era persaingan antara Sunni dan Syi’ah demi supermasi politik, tapi persaingan ini kurang berpengaruh. Walaupun kurang jelas, tetapi persaingan kedua belah pihak lebih pada supermasi intelektual. Fatimiyah di Kairo dan Umayyah di Kordova masing-masing mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, yang essensinya sama dengan yang didirikan oleh Nizam pada zamannya dan pendahulunya di Bagdad dan di manapun di bawah kekuasaan Khalifah Timur, apakah Abbasiyah, Fatimiyah atau Umayyah di Timur Tengah, secara umum negara-negara ini memperlakukan sama dengan membiayai pendidikan dasar pada tingkat Maktab sebagaimana pembiayaan dari swasta. Tetapi setelah mengalami beberapa percobaan, praktek perlindungan negara terhadap pendidikan tinggi, baik langsung maupun tidak langsung, tidak dapat dipungkiri berkembang paling tidak dari pertengahan abad ke-4 hingga pertengahan abad ke-5. Hal ini membuktikan bahwa secara umum al-Nizamiyah dan al-Azhar adalah prototypenya. Sebagai sebuah istilah dan lembaga, Madrasah telah ada sebelum Nizam lahir. Beberapa perubahan muncul dalam Maktab, tapi dengan munculnya Madrasah maka sistem Mesjid dan Halaqah telah menyatu dengan praktek penyedian perumahan dan pemberian biaya hidup terhadap para sarjana. Dengan demikian, Madrasah hanya merupakan tambahan belaka, meskipun begitu Mesjid sebagai lembaga pendidikan tidak pernah diganti. Tetapi secara bertahap Madrasah memperoleh perlakuan status sendiri yaitu tidak lagi banyak campur tangan dari Mesjid, sedangkan para guru dan murid dapat berpindah secara bebas dari satu tempat ke tempat lain berdasarkan kebutuhan dan kecenderungan mereka sendiri. Ada dua point atau dua hal penting lain yang dikemukakan oleh DR.Makdisi adalah ; tujuan-tujuan dari Madrasah dan pengajaran Asysariaisme di dalamnya. Menurut Tibawi, bahawa pada pembahasan awal dari artikel DR.Makdisi memunculkan harapan, bahwa surveinya akan memberikan beberapa pengetahuan dan wawasan tentang agama, sosial, ekonomi dan faktor-faktor politik yang terjadi. Klimaknya, tentu akan memperkaya pengetahuan kita tentang lembaga-lembaga tersebut, tetapi pembahasannya tentang politik, ekonomi dan bidang agama sangat sedikit atau sangat terbatas. Karena aspek-aspek utama tersebut mungkin bagi DR.Makdisi merupakan sumbangan pada masa-masa yang akan datang. Tetapi pada pembahasannya terlalu asik dengan hal-hal yang hanya bersifat laporan. Dengan demikain DR.Makdisi, belum atau tidak memperlihatkan atau menggambarkan kepada kita tentang jasa-jasa yang berharga dari Madrasah terhadap masyarakat. Pada halaman terakhir kembali pernyataan-pernyataan DR.Makdisi tanpa pembahasan dan tanpa didukung oelh dokument. Exclusivisme dari madrasah yang membicarakan peran ulama dalam rangka mengontrol umat. Penyelidikan lebih lanjut terhenti pada pertanyaan ini. Kita mungkin akan mengatakan bahwa tujuan-tujuan Nizam, sebagai mana disimpulkan dari risalah atau makalah tentang pemerintahan dan juga dari kamus-kamus biografi dan karya-karya lain, merupakan campuran keinginan untuk menyaingi Fatimiyah, atau untuk mendapatkan pujian dan penghargaan dari para ulama. Tetapi pada prakteknya, untuk melaksanakan perubahan-perubahan administrasi dengan membutuhkan personil khususnya hakim-hakim dan pegawai-pegawai jurutulis. Personil yang dibutuhkan tersebut sebagian dipilih berdasarkan peraturan dan undang-undang, dan sebagian lagi dipilih berdasarkan kemampuan atau prestasinya. Tampaknya tidak ada bukti yang bahwa kandidat yang direkrut dari pengikut-pengikut mazhab Syafi’i dan dari alumni-alumni sekolah hukum yang bermazhab Syafi’i. Point yang kedua mengenai aliran Asyari’ah, DR.Makdisi membantah pernyataan “Coldziher” bahwa faham atau aliran Asyari’ah diajarkan di lembaga-lembaga Nizam dengan persetujuan pejabat adalah hal yang negative, bahkan jika valid dasarnya maka Nizamiya adalah merupakan akademi hukum yang exclusif bukan akademi teologi, DR.Makdisi, mengakui bahwa Nizam tidak menerima aliran Asyari’ah dan membiacarakn kegagalan faham Asyariah masuk dalam Nizamiya di Bagdad. Dalam hal ini, sebanarnya yang perlu untuk digambarkan adalah perselisihan intelektual pada saat itu. Sifat ortodoks dibincangkan secara luas, meskipun terjadi perpecahan didalamnya, tetapi mereka bersatu melawan para “rasionalis Mu’tazilah” dan “Filsafat Hellenistic” yang merupakan akar yang lebih berbahaya. Menurut data ini bid’ah telah ada sebelum era Madrasah. Lembaga-lembaga Nizam sendiri merupakan bukti yang meyakinkan terhadap kekuatan sifat ortodoks dan kemampuannya untuk menghapus dua element rasional Mu’tazilah dan Filsafat Hellenistic dalam sistemnya. Pada al-Ghazali adalah merupakan simbul dari perkembangan ini. al-Ghazali, menggambarkan sosok yang sejuk dan lebih sempurna, sedangkan Hambali adalah sosok yang keras dan tertutup dari sifat ortodoks. Faham Asy’ariah lebih meresapi pemikiran ortodoks dan pemikiran al-Ghazali tentang pengajaran yang menjadi acuan dasar dari pada pemikiran yang lain pada zamannya. Tetapi aliran Asya’riah telah ada pada zaman Nizamiya di Bagdad sebelum al-Ghazali. Guru utama di lembaga ini, yang karangannya diketahui menjunjung faham Asya’riah dan mencela faham Hambali. Pada tahun 469 H. “Abu Nasr al-Qusha’ri” memuji faham Asya’riah di depan umum, di Nizamiyah. Pengikut Hambali membuat keributan dan menuduh Shirazi berusaha untuk membubarkan Mazhab Hambali. Perselisihan ini diselesaikan oleh Khalifah sendiri dengan mengundang para pemimpin partai untuk bertemu di istananya. Selain itu Subki menulis, bahwa pengikut Hambali menyebar berita bahwa Syekh Abu Ishaq telah dipecat dari sekolah yang bermazhab Asya’riah, ini membuat syekh begitu murka sehingga tak seorangpun yang dapat menenangkannya, dan dia menulis surat kepada Nizam al-Mulk, bahwa dia telah siap untuk meninggalkan kota Bagdad, tetapi khalifah membujuknya untuk tetap tinggal. Dari apa yang dipaparkan, ditemukan data yang akurat mengenai Nizam sebagai negarawan besar dan seorang Sunni yang toleran. Kebijakan sultan dan dokumen pengadilan yang ditulis, tidak mengarahkan pada kesuatu mazhab untuk menghapuskan mazhan yang lain. Nizam, bahwa kami tidak membangun Madrasah ini kecuali hanya untuk perlindungan bagi orang yang terpelajar dan dalam rangka kepentingan umum, dan tidak untuk perselisihan dan perpecahan, dan Nizam, tidak bermaksud untuk merubah kesetian pengikut Hambali di Bagdad dan sekitarnya. Ibn al-Jauzi, mengatakan bahwa pengikut-pengikut Hambali pmenyambut baik hal tersebut. Dengan demikian, ciri-ciri atau karakter Nizamiya adalah sebagai sebuah institusi umum yang mengabdi kepada “ahl-al-ilm” dan “maslahah”, studi-studi ilmu agama dan pelatihan bagi pejabat negara lebih ditekankan pada insitusinya. Penggunaan istilah “siyasatu Sultan” merupakan sebuah indikasi yang istimewa bahwa Nizam adalah seorang yang dipengaruhi oleh pemikiran Barat Khatolik, tetapi tujuan pendidikan lembaga ini di Bagdad tidak ada hubungannya dengan pemikiran dari Gereja.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

%d blogger menyukai ini: