//
you're reading...
Uncategorized

HAKIKAT MORAL DALAM PENDIDIKAN

oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd

Pendidikan moral berperan penting dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia yang utuh. Pendidikan agama dapat menjadi sarana ampuh dalam menangkal pengaruh-pengaruh negatif, baik pengaruh yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejalan dengan derap laju perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta arus reformasi sekarang ini, pembinaan moral semakin dirasa penting sebagai salah satu alat pengendali bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional secara utuh.

Sekarang ini tampak ada gejala dikalangan anak muda bahkan orang tua yang menunjukan bahwa mereka mengabaikan moral dalam tata krama pergaulan,yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang beradab. Dalam era reformasi saat ini seolah-olah orang bebas berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. Misalnya perkelahian masal, penjarahan, pemerkosaan, pembajakan kendaraan umum, penghujatan, perusakan tempat ibadah, dan sebagainya yang menimbulakan korban jiwa dan korban kemunusiaan.

Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya mengalami proses pendangkalan nilai yang dimiliki serta dihayati dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai itu kini bergeser dari kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan, kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan. Dengan pergeseran fungsi dan kedudukan nilai itu, hidup dan kehidupan bermasyarakat dan berbahasa dirasakan semakin hambar dan keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, dan merasa tidak aman.

Arti Moral

Menurut Poespoprodjo (1999), Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk,. Moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia.
Kata amoral, nonmoral berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral atau tidak mempunyai arti moral. Istilah imoral artinya moral buruk (buruk secara moral) moralitas dapat obyektif atau juga subyektif. Moralitas obyektif memandang perbuatan semata sbagai suatu perbuatan yang telah dikerjakan, bebas lepas dari pengaruh-pengaruh sukarela pihak pelaku. Moraliatas subyektif adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi pengertian dan persetujuan si pelaku sebagai individu.

Pendidikan Tanpa Moralitas

Mutu pendidikan jangan hanya dinilai seorang siswa berprestasi dari sisi akademis saja. Lebih dari itu, sisi moral juga perlu diperhatikan. Tanpa dibarengi akhlak yang baik, kemampuan pendidikan seorang siswa menjadi percuma saja. Mutu pendidikan saat ini memang tertingal, namun kita harus bersama-sama yakin dengan dasar religi dan budaya yang kuat mampu mengangkat ketertingalan.

Kalau kita berbicara tentang pendidikan, sesunguhnya itu tidak dapat dilepaskan dari moralitas. Pendidikan yang baik terdiri dari moralitas yang baik. Barangkali itulah yang disadari para pendidik tempo dulu. Oleh karena itu, pelajaran budi pekerti menjadi salah satu pelajaran utama.

Apa yang terjadi kini ? nampaknya bagi sebagian orang, pendidikan hanyalah sebuah teori tanpa tindakan, simbol tanpa makna. Mari kita ambil contoh kongkret, beberapa minggu yang lalu kita saksikan tayangan sebuah Televisi swasta tentang jalanya pendidikan di IPDN, yaitu lembaga yang mencetak calon-calon pemimpin.beberapa adegan diantaranya adalah ketika senior ingin mendidik junior yang diangap bersalah dengan cara memukul, menendang, atau dengan cara benturan fisik lainya. Tidak heran jika puluhan Praja meninggal dunia, korban dari pendidikan yang tidak bermoral itu. Ironis memang dimana tindakan tersebut dilakukan dengan mengnakan pakaian seragam, lengkap dengan pangkat dari praja tersebut. Perilaku seperti apakah yang diharapkan dari alumni yang dididik seperti itu.

Selanjutnya mari kita melihat UN sebagai cerminan pendidikan kita. Apa yang yang tejadi disana? Tahun lalu, beberapa harian ibu kota telah melaporkan adanya berbagai kecurangan dan kebohongan. Seorang guru di wilayah bogor juga telah melaporkan adanya pertemuan para guru dengan seorang pejabattertentu didaerahnya. Dalam pertemuan tersebut diintruksikan agar semua guru dan pengawas menolong siswa-siswa ketika mengikuti UN. Pemberian respons berbagai kecurangan tersebut, berbagai wacana dimunculkan. Akan tetapi setelah melakukan hal itu, kita patut bertanya : apakan wacana tersebut benar benar ditindak lanjuti ? apakah petingi pendidikan di Republik ini dan setiap pihak terkait telah menyatakan perang terhadap semua tindakan penyelewengan dengan segala hukuman yang mengikutinya ?

Fakta yang sangat menyedihkan, apa yang terjadi pada Ujian Nasional tahun ini? Sejak dimulainya UN di hari pertama, kita kembali kecewa membaca laporan berbagai media akan adanya berbagai kecurangan dalam pelaksanaan UN tersebut. Sebuah media ibu kota melaporkan adanya kelompok di medan, yaitu ”Kelompok Air Mata Guru”, yang membongkar adanya kecurangan-kecurangan pelaksanaan UN di rayon medan.
Hal itu dilakukan secara terencana dan sistematis, dan telah dilakukan selama tiga tahun. Karena itu, kelompok kelompok yang dikoordinasi Deni Boy Saragih tersebut menuntut agar UN diulang. Kelompok tersebut tentu saja tidak dapat diabaikan, seolah-olah mereka hanya menyebar fitnah. Sebab kelompok yang berjumlah 36 pendidik tersebut terdiri dari 18 pengawas, seorang kepala sekolah, dan 17 guru yang bertugas mengawasi jalanya UN di daerah tersebut. Dengan perkataan lain, mereka adalah pelaksana langsung dari UN.
Bagaimana reaksi kita membaca berita itu? Disatu sisi, kita bersyukur karena ternyata masih ada orang-orang yang berani buka suara membongkar segala bentuk kejahatan, khususnya dibidang pendidikan yang merupakan salah satu tiang pancang dan penopang bagi republik ini. Untuk itu mereka rela membayar harga.

Mari kita simak kalimat berikut; “kami semua siap dipecat sebagai guru maupun pegawai negeri sipil”.dan memang salah satu dari anggota kelompok tersebut yaitu Muri Manik, seorang guru matematika telah dirumahkan karena menolak permintaan kepala sekolah untuk membuat kunci jawaban bagi siswa yang akan ujian. Selanjutnya mari kita amati apa yang menjadi kepedulian utama mereka.

Kecurangan yang dilakukan oleh para guru dan pengawas ini bukan hanya membodohi siswa, melainkan juga mendidik mereka tidak jujur, dan itu artinya pendidikan yang kita berikan tidak ada artinya sama sekali. Disisi lain kita sangat sedih menyaksikan bagaimana para pendidik mendemonstrasikan sesuatu yang sungguh bertentangan dengan esensi pendidikan itu sendiri. Mereka secara sadar, terencana, dan terus menerus selama tiga tahun, telah melakukan sesuatu kecurangan, kebohongan yang merupakan pelanggaran hukum. Yang lebih menyedihkan adalah hal itu mereka lakukan sendiri di depan murid-murid mereka, yang selama bertahun-tahun telah mereka didik. Dengan demikian , mengakhiri perjuangan mereka di hadapan murid-murid dengan suatu tindakan yang tidak bermoral! Tanpa keteladanan.

Rupanya banyak pendidik di Negara ini lupa bahwa mendidik murid yang masih murni dan polos itu tidak cukup hanya di otak, melainkan terutama di dalam hati. Pendidikan yang sesungguhnya tidak hanya menghasilkan orang pintar, melainkan terutama menghasilkan siswa yang bermoral

Pentingnya Moral Dalam Pendidikan

Manusia sebagai makhluk individu dan sosial diharapkan mampu menjadikan dirinya sebagai subyek bukan obyek; produktif bukan konsumtif; kreatif bukan kompromis; dan berani bukan penakut. Tentu saja beberapa aspek tersebut labih efektif lagi sekiranya terbangun dalam diri pribadi bersama-sama secara fungsional. Bila demikian ia dapat terhindar dari rasa ketergantungan pada pihak lain yang tidak perlu dan harus terjadi.
Disadari pula bahwa seseorang dalam kondisi apa pun lebih bermakna, sekiranya semua perilaku yang muncul dari dirinya searah dengan pribadinya. Dengan kata lain, setiap perilaku seyogyanya dilandasi komitmen diri yang teguh, sehingga terhindar dari sikap hipokret ( munafik). Dengan demikian, setiap perilaku lebih mudah untuk dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini pendidikan moral diharapkan mampu mengantarkan masyarakat menjadi individu yang sanggup mandiri serta siap mempertangung jawabkan dirinya di hadapan Tuhan, serta menjadikan individu yang lebih bermartabat.

 000000

Iklan

Diskusi

2 thoughts on “HAKIKAT MORAL DALAM PENDIDIKAN

  1. sumbernya komplit, mulai dari nma penulis dan tanggl postingan, sehingga bsa d jadikan referensi terimakash 🙂

    Posted by dewi | Desember 7, 2013, 2:48 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2011
S S R K J S M
    Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: