//
you're reading...
Uncategorized

Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum

Oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd
Tulisan ini dimulai dengan meringkas konsep dasar dan paradigma epistemologi Islam dan metodologi penelitian. Selanjutnya membahas krisis terkini menyangkut pengetahuan dan pendidikan umat, yaitu rendahnya motivasi belajar, serta kurangnya rasa cinta dan penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Solusi
dari krisis pendidikan akan diawali dengan perbaikan epistemologis dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan. Perbaikan epistemologis didefinisikan sebagai identifikasi bias-bias paradigma dasar dan metodologi penelitian yang mencerminkan cara pandang dunia yang tidak tauhid. Hal ini diikuti pula dengan pembentukan kembali konsep dasar epistemologis dan paradigma dari berbagai disiplin ilmu dari paradigma tauhid yang bercirikan objektivitas, istiqamat al ma’arifat, dan penyeragaman, ‘aalamiyyat al
ma’arifat dari pengetahuan. Makalah ini mendeskripsikan dengan jelas pendekatanpendekatan penting dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan. Kesimpulan makalah ini adalah bahwa kualitas belajar dan penelitian akan tercapai setelah ada perbaikan epistemologis, yang dapat mendorong peserta didik dan pengajar untuk mengejar pengetahuan dalam bingkai tauhid yang membentuk cara pandang terhadap dunia dan nilai-nilai dalam diri mereka.

KONSEP EPISTEMOLOGIS DASAR
Apakah yang Dimaksud dengan Epistemologi Islam ?. nadhariyat al ma’arifat al islamiyyat
Epistemologi adalah ilmu pengetahuan, ‘ilm al ‘ilm. Mempelajari asal-usul, hakikat dan metode sebuah ilmu pengetahuan dengan tujuan mendapatkan keyakinan. Epistemologi Islam, nadhariyyat ma’rifiyyat Islamiyyat, didasarkan pada paradigma tauhid. Parameter tetapnya adalah dari wahyu, wahy. Parameter tidak tetapnya disesuaikan oleh keadaan waktu-tempat yang bervariasi. Sumbernya adalah wahyu (Al Qur’an dan As sunnah), observasi dan percobaan empiris, serta alasan kemanusiaan. Sekarang ini, tantangan
utamanya adalah meraih obyektivitas, al istiqamat, yaitu tetap pada jalan kebenaran dan tidak dapat digoyahkan oleh tingkah laku dan hawa nafsu. Istiqamat hanya datang setelah iman, seperti sabda Rasulullah qul amantu bi al laahi thumma istaqim’.1.2 Hakikat Ilmu Pengetahuan, tabi’at al ma’arifat al insaniyyat
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay,
dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur.
Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan
ghalabat al dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen,
dan haqq al yaqeen. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al
Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu
pengetahuan adalah akal dan kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas,
sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan
yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan
atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah
pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang
diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat al haqiqat. Hakikat
yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia
dan interpretasi dari fenomena fisik.
1.3 Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan, masadir al ma’arifat:
Wahyu, wahy, kesimpulan, akal, dan pengamatan empiric dari alam semesta, kaun,
adalah sumber-sumber umum dari pengetahuan yang diterima oleh orang-orang
beriman. Dalam pengertian kuantitas, yang pertama adalah pengetahuan empiric, ‘ilm
tajriibi. Dalam pengertian kualitas, yang pertama adalah ilmu yang diwahyukan ilmu dan
wahyu,. Ada hubungan erat dan ketergantungan antara wahyu, pengamatan empiris,
dan kesimpulan. Akal dibutuhkan untuk memahami wahyu dan mencapai kesimpulan
dari pengamatan empiris. Wahyu melindungi akal dari kesalahan dan menyediakan
informasi tentang suatu hal yang tidak kasat mata. Akal tidak bisa memahami secara
penuh dunia yang empiris tanpa bantuan.
1.4 Klasifikasi Ilmu Pengetahuan, tasnif al marifat
Pengetahuan bisa diwariskan atau dipelajari. Bisa aqli atau naqli. Bisa berupa
pengetahuan yang terlihat, ‘ilm al syahadat, dan pengetahuan yang tidak terlihat, ‘ilm al
ghaib. Yang tidak terlihat bisa mutlak, ghaib mutlaq, atau relative, ghaib nisbi.
Mempelajari ilmu pengetahuan bisa berupa kewajiban individu, fard ‘ain, sedangkan
yang lain adalah kewajinban kolektif, fard kifayat. Pengetahuan bisa sangat berguna,
‘ilmu nafiu, menjadi dasar, atau diaplikasikan. Ada banyak disiplin ilmu yang berbeda.
Disiplin-disiplin tersebut terus berubah seiring dengan pengembangan pemahaman dan
ilmu pengetahuan. Sebuah disiplin didefinisikan dan dibatasi oleh metodologinya.
1.5 Keterbatasan Pengetahuan Manusia, mahdudiyat al marifat al bashariyyat
Al Qur’an dalam banyak ayat telah mengingatkan manusia bahwa pengetahuan mereka
dalam semua lingkungan dan disiplin ilmu sangat terbatas. Akal manusia bisa dengan
mudah diperdaya. Kecerdasan manusia memiliki keterbatasan dalam
menginterpretasikan persepsi-persepsi sensorik yang benar. Manusia tidak bisa
mengetahui hal-hal tak kasat mata, ghaib. Manusia bisa berfungsi dalam waktu yang
terbatas. Masa lalu dan masa depan diyakini tidak dapat diketahui. Manusia menjalankan
fungsi dalam kecepatan yang terbatas baik pada level konseptual maupun sensorik. Ideide
tidak dapat dikeluarkan dan diproses jika mereka dihasilkan terlalu lambat atau
terlalu cepat. Manusia tidak mampu memvisualisasikan peristiwa-peristiwa yang sangat
lambat atau terlalu cepat. Peristiwa yang sangat lambat seperti revolusi bumi atau rotasi
bumi tidak dapat dirasakan kejadiannya. Memori manusia sangat terbatas. Pengetahuan
yang dipelajari bisa saja hilang atau mungkin lenyap secara keseluruhan. Manusia akan
menjadi sangat berpengetahuan jika mereka mempunyai memori yang sempurna.
2.0 METODOLOGI ILMU PENGETAHUAN, manhaj al ma’arifat

2.1 Konsep-Konsep
Metodologi dimulai dengan penamaan Adam dan pengklasifikasian semua benda yang
diikuti oleh penemuan hasil percobaan-percobaan dan investigasi metodologis sistematis
terkini. Terinspirasi oleh Al Qur’an, umat Muslim mengembangkan metodologi empiris
ilmiah yang menyebabkan timbulnya reformasi Eropa, Renaissance, serta revolusi ilmiah
dan teknologi yang dimulai pada awal abad 16. Francis Bacon (1561-1626), orang Eropa
yang pertama kali menulis secara sistematis tentang metodologi empiris yang diinspirasi
oleh kaum Muslim di Eropa pada masanya. Orang-orang Eropa meniru metodologi
empiris tanpa konteks ketauhidan, menolak wahyu sebagai sumber pengetahuan, dan
nantinya memaksakan hasil tiruan buruk berupa ilmu pengetahuan sekuler kepada umat
Islam di seluruh dunia. Ahli Muslim kuno telah menunjukkan bahwa wahyu, akal dan
pengalaman sangatlah tepat dan telah menggunakan peralatan metodologis dari Al
Qur’an untuk mengoreksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan Yunani sebelum
menyebarkannya ke Eropa. Mereka mengganti logika deduktif Aristoteles dan definisinya
dengan sebuah logika induktif Islam yang diinspirasi oleh Al Qur’an.
2.2 Metodologi dari Al Qur’an, manhaj qur’ani
Al Qur’an menyediakan prinsip-prinsip umum yang membimbing dan bukan pengganti
penelitian empiris. Kitab ini menggabungkan pengamatan empiris; membebaskan pikiran
dari keragu-raguan, taklid buta, ketergantungan intelektual, dan hawa nafsu. Paradigma
tauhidnya menjadi dasar dari hubungan sebab akibat (kausalitas), rasionalitas, perintah,
prediksi, penemuan, obyektivitas, dan hukum alam. Hukum bisa diketahui melalui
wahyu, pengamatan empiris dan eksperimen. Para ahli Qur’an mengajarkan metodologi
induktif, pengamatan empiris, nadhar & tabassur; interpretasi, tadabbur, tafakkur,
i’itibaar & tafaquhu; dan pengetahuan yang terbukti, bayyinat & burhan. Al Qur’an
melarang asal ikut-ikutan, taqliid, prasangka, , dhann; dan keinginan pribadi, hawa
nafsu. Konsep Al Qur’an dari istiqomat menghasilkan kepercayaan dan pengetahuan
yang tidak bias. Konsep Al Qur’an dari istikhlaf, taskhir, dan isti’imar adalah dasar dari
teknologi. Konsep dari ‘ilm nafei menggarisbawahi perintah untuk mengubah
pengetahuan dasar menjadi teknologi yang bermanfaat.
2.3 Metodologi dari Sains Islam Klasik
Ilmu pengetahuan klasik beserta konsepnya dapat diaplikasikan ke dalam IPTEK. Tafsir
ilmu dan tafsir mawdhu’e interpretasi data paralel pada penelitian empiris. ‘Ilm al nasakh
menjelaskan bagaimana data-data baru memperbaharui teori-teori yang lama tanpa
membuatnya tidak berguna sama sekali. ‘Ilm al rijaal dapat menguatkan keyakinan para
peneliti. ‘Ilm naqd al hadith menanamkan perilaku ‘membaca kritis’ literatur sains.
Qiyaas adalah analogi alasan-alasan. Istihbaab aplikasi berkelanjutan dari sebuah
hipotesis atau hukum ilmu pengetahuan sampai menemukan bukti. Istihsan dapat
dibandingkan dengan intuisi ilmiah. Istislah adalah penggunaan kepentingan umum
untuk membuat keputusan atas banyak pilihan, contohnya teknologi pengobatan. Ijma
adalah kesepakatan yang ditetapkan oleh para ilmuwan empiris. Maqasid as syari’ah
adalah alat konsep untuk menyeimbangakan penggunaan S&T. Qawaid as syari’ah
adalah aksioma yang menyederhanakan operasi logika kompleks dengan membangun
aksioma tanpa melewati derivasi detail.
2.4 Kritik Islami Mengenai Metode Empiris, naqd al manhaj al tajribi
Dengan alat metodologis berupa Al Qur’an dan Sains Islam klasik, umat Muslim
mengembangkan sebuah metodologi empiris dan induktif baru dalam bentuk qiyaas
usuuli dan juga mengawali metode empiris dengan eksperimen dan pengamatan
sistematis, seperti yang dicontohkan oleh hasil kerja Ibn Hazm tentang mata. Mereka
mengkritik metodologi Yunani Kuno adalah metodologi yang abstrak, hipotetis,
meremehkan pengetahuan mudah, dan berdasarkan logika deduktif. Mereka menerima
metode ilmiah Eropa dari pembentukan dan pengujian hipotesis, tetapi menolak asumsi

pengetahuan dan akal yang dibimbing tidak akan membawa perubahan yang baik.
Gagasan tanpa tindakan tidak akan merubah apapun. Tajdid mensyaratkan dan diikuti
oleh sebuah reformasi ilmu pengetahuan untuk menyediakan gagasan dan motivasi
untuk membangun. Semua reformasi sosial yang sukses dimulai dengan perubahan ilmu
pengetahuan. Masyarakat ideal tidak bisa diciptakan tanpa ada dasar pengetahuan.
Dasar pengetahuan harus benar, relevan, dan bermanfaat. Sejarah pergerakan
kebangkitan Muslim yang sukses selalu dipimpin oleh para akademisi.
4.2 Sebuah Strategi Pengetahuan Baru, nahwa istratijiyyat ma’arifiyyat jadiidat
Umat Muslim merupakan aset ekonomi dan politik yang mempunyai potensi besar
namun belum terealisasi. Perkembangan tajdid modern memiliki banyak kelebihan,
tetapi juga mempunyai kekurangan dasar yang harus diperbaiki. Krisis pengetahuan dan
intelektual masih menjadi sebuah penghalang. Pergerakan reformasi yang tidak
diarahkan oleh pengetahuan dan pemahaman yang benar akan lenyap dan gagal atau
disingkirkan dari jalan mereka. Perubahan sosial menuntut adanya perubahan perilaku,
nilai, kepercayaan dan tingkah laku dari sebuah massa kritis dalam populasi. Perilaku,
nilai, kepercayaan dan tingkah laku ditentukan oleh dasar pengetahuan. Visi dari strategi
pengetahuan adalah seorang manusia yang kokoh mengenal Sang Penciptanya,
memahami kedudukannya, perannya, haknya, dan kewajibannya dalam tata alam
semesta (cosmic order). Misi dari strategi pengetahuan adalah transformasi konseptual
sistem pendidikan dari TK hingga pendidikan pasca sarjana yang mencerminkan tauhid,
nilai moral yang positif, obyektivitas, universalitas, dan menyelesaikan masalah-masalah
kemanusiaan.
4.3 Menuju ke Arah Metodologi Islam, nahwa manhajiyyat ‘ilmiyyat islamiyyat
Tauhid yang universal, objektif, dan metodologi yang jelas harus menggantikan Eropasentris
dan konteks filosofi yang bias/semu, bukan metode praktis experimental.
Aturan-aturan dari ilmu tauhid adalah: persatuan pengetahuan, menyeluruh; hubungan
sebab akibat adalah dasar dari tindakan manusia, pengetahuan manusia yang terbatas,
investigasi hubungan sebab akibat yang didasarkan pada hukum alam yang konstan dan
sesuai, harmoni antara yang terlihat dan tidak terlihat, 3 sumber pengetahuan (wahyu,
akal, dan pengamatan empiris); khilafat; akuntabilitas moral; makhluk dan ciptaanNya
mempunyai tujuan, kebenaran adalah mutlak dan relatif, keinginan bebas manusia
adalah dasar dari akuntabilitas, dan tawakal.
5.0 REFORMASI EPISTEMOLOGI : KONSEP & PRAKTEK
5.1 Konsep Reformasi:
Reformasi pengetahuan adalah sebuah proses pemilihan kembali kumpulan pengetahuan
manusia agar sesuai dengan kepercayaan dasar dari ‘aqidat al tauhid. Proses reformasi
bukan untuk penemuan kembali roda pengetahuan, tetapi untuk perubahan, perbaikan,
dan reorientasi. Hal ini bersifat evolutif, bukan revolutif; serta bersifat korektif dan
reformatif. Ini adalah langkah awal dalam sistem pendidikan sebagai awal untuk
memperbaiki masyarakat.
5.2 Sejarah reformasi
Abad 2-3 H menjadi saksi kegagalan usaha transfer pengetahuan. Pengetahuan ilmiah
Yunani disalurkan kepada kamu Muslim bersamaan dengan filosofi Yunani dan pemikiran
yang menyebabkan kebingungan dalam aqidah. Ilmu Yunani lebih bergantung pada
deduksi filosofikal dari pada induksi yang berdasarkan eksperimen. Hal ini tidak
menguatkan tarbiyat ilmiah dari Al Qur’an yang menegaskan observasi akan hakikat
sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan. Pergerakan reformasi pengetahuan yang
terbaru pada akhir abad 14 H bertujuan pada pendirian sebuah sitem pendidikan yang
berdasarkan tauhid.

5.3 Reformasi Disiplin ilmu:
Reformasi harus mulai dengan menata ulang epistemology, metodologi, dan kumpulan
pengetahuan dari setiap disiplin ilmu. Harus pro-aktif, akademik, metodologis, obyektif
dan praktis. Visinya adalah pengetahuan yang objektif, umum dan bermanfaat dalam
konteks interaksi manusia yang harmonis dengan llingkungan fisik, sosial, dan spiritual.
Misi praktisnya adalah transformasi paradigma, metodologis, dan penggunaan disiplin
ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tauhid. Tujuan langsungnya adalah: (a)
perbaikan paradigma disiplin ilmu yang ada untuk merubah mereka dari sebatas ritual
sempit menjadi bertujuan luas (obyektivitas universal) , (b) rekonstruksi paradigma
yang menggunakan pedoman yang objektif dan universal, (c) Klasifikasi kembali disiplin
untuk mencerminkan nilai tauhid yang universal, (d) perbaikan metodologi penelitian
agar menjadi objektif, bermanfaat, dan mudah dipahami (e) pertumbuhan pengetahuan
dengan penelitian, dan (f) menanamkan aplikasi pengetahuan yang benar secara moral.
Al Qur’an memberikan prinsip umum yang membangun objektivitas dan melawanan
metodologi penelitian yang tidak jelas. Hal ini menciptakan cara pandang dunia yang
memperkuat penelitian untuk memperpanjang batas pengetahuan dan pemanfaatannya
bagi seluruh alam semesta. Ilmuwan didorong untuk bekerja dengan parameter Al
Qur’an untuk memperluas batas pengetahuan melalui penelitian, dasar, aplikasi.
5.4 Kesalahpahaman Mengenai Proses Reformasi
Reformasi telah salah dipahami sebagai bentuk penolakan dari sekumpulan pengetahuan
dan disiplin manusia yang sudah ada. Kesalahpahaman ini sebagai wujud sempitnya
pengetahuan kaum Muslim. Anggapan salah tersebut dikarenakan buku-buku teks yang
ada ditulis kembali dengan tema Islami tanpa pemikiran yang mendalam tentang
paradigma dan metodologi. Hal ini juga memenjarakan reformasi spiritual para pelajar,
para akademik, dan peneliti. Pendekatan luar berikut ini telah dicoba untuk reformasi
dan gagal: Menyisipkan ayat Al Qur’an dan Al hadist dalam tulisan orang-orang Eropa
dan sebaliknya, pencarian fakta ilmiah dari Al Qur’an, pencarian bukti Al Qur’an dari
fakta ilmiah, memperlihatkan mukjizat Al Qur’an, pencarian hubungan antara konsep
Islam dan Eropa, penggunaan Islam dalam terminologi / istilah-istilah Eropa, dan
penambahan gagasan untuk kumpulan ilmu pengetahuan Eropa.
5.5 Langkah-langkah Praktis / Tugas dari Proses Reformasi:
Langkah pertama adalah sebuah membuat pondasi yang baik dalam ilmu Islam
metodologis usul al fiqh, ‘uluum al Qur’an, ulum al hadith, dan ‘uluum al llughat. Diikuti
dengan membaca Al Qur’an dan sunnah dengan pemahaman perubahan dimensi ruang
dan waktu. Diikuti dengan klarifikasi masalah-masalah epistemologi dasar dan
hubungan-hubungan: wahyu dan akal, gaib dan shahada, ilmu dan iman. Diikuti oleh
sebuah kritik Islami dari paradigma dasar, asumsi-asumsi dasar, dan konsep dasar dari
berbagai disiplin ilmu yang menggunakan kriteria metodologi dan epistemologi Islami.
Penilaian Islami atas buku-buku teks dan materi pengajaran yang sudah ada, kemudian
berusaha mengidentifikasi paham-paham yang menyimpang dari pengertian dasar
tauhid dan metodologi Islami.
Hasil awal dari proses reformasi adalah pengenalan Islam dalam disiplin ilmu,
muqaddimat al ‘uluum, pembangunan prinsip-prinsip dasar Islam dan paradigma yang
menentukan dan mengatur metodologi, isi, dan pengajaran disiplin ilmu. Hal ini
berhubungan dengan ‘Introduction to History’ milik Ibn Khaldun, muqaddimat
mempresentasikan penyamaan dan konsep metodologis dalam peristiwa bersejarah.
Publikasi dan penilaian buku-buku teks baru dan pengajaran material lainnya adalah
sebuah langkah yang penting dalam reformasi, dengan menyerahkannya di tangan para
pengajar dan pelajar yang telah mengaalami reformasi. Pengembangan pengetahuan
dasar yang teraplikasi dalam IPTEK akan menjadi tahap terakhir dari proses reformasi,
karena pada akhirnya yang jelas-jelas membawa perubahan dalam masyarakat adalah
IPTEK.

6.11 DISIPLIN ISLAM KLASIK
6.1.1 Mungkin tampak mengejutkan bahwa beberapa ilmu Islam klasik yang didasarkan
pada wahyu juga membutuhkan analisis epistemologis. Bentuk ilmu ini di masa mereka
telah dipengaruhi oleh paradigma eksternal dan filosofi yang telah masuk perlahan-lahan
ke dalam mereka dan menciptakan bias-bias epistemologi yang membutuhkan
perbaikan. Selain bias-bias itu, kita perlu melakukan formulasi ulang dimensi ruang dan
waktu dalam ilmu-ilmu ini dengan memisahkan komponen tetap (konstan) yang tidak
berubah dari komponen tidak tetap (variabel) sebagaimana membuat formulasi
bagaimana komponen tidak tetap (variabel) dapat menyesuaikan perubahan waktu dan
faktor tempat.
6.1.2 Pertimbangan faktor ruang dan waktu dibutuhkan dalam uluum al Qur;an
dan‘uluum al hadiith. Fiqh dan usul al fiqh memiliki masalah sama yang timbul dari
pemahaman harfiah syari’at yang sempit dan perbedaan fiqih telah memecah belah
umat pada masa lalu ke dalam banyak masalah. Jika penyebabnya adalah fiqih,
solusinya akan bisa ditemukan dalam fiqih. Kita perlu meninjau kembali masyarakat dari
general bird eye view yang menggunakan tujuan-tujuan hukum yang lebih tinggi,
maqasid as syari’ah, setelah itu kita akan mampu membuat banyak kemajuan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2011
S S R K J S M
    Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: