//
you're reading...
Uncategorized

KONSEP PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

Oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd

1. Watak Ilmu Pengetahuan Islam Era Pertengahan

Awal mula dan tersebarnya ilmu pengetahuan Islam pada masa-masa awal Islam berpusat pada individu-individu dan bukannya sekolah-sekolah. Kandungan pemikiran Islam juga bercirikan usaha-usaha individual. Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari hadits dan membangun sistem-sistem theologi dan hukum mereka sendiri di seputarnya, menarik murid-murid dari daerah lain, yang mau menimba ilmu pengetahuan dari mereka. Karena itu, ciri utama pertama dari ilmu pengetahuan tersebut adalah pentingnya individu guru. Sang, guru, setelah memberikan pelajaran seluruhnya, secara pribadi memberikan suatu sertifikat (ijazah) kepada muridnya yang dengan demikian diizinkan untuk mengajar. Ijazah tersebut kadang-kadang diberikan untuk suatu mata pelajaran tertentu (Fihq atau Hadits), Kadang-kadang ijazah tersebut meliputi beberapa mata pelajaran dan kadang-kadang berlaku untuk kitab-kitab khusus yang telah dibaca muridnya. Tetapi ketika madrasah-madarasah mulai munculan, sistem ujian sering diadakan. Tetapi peranan dan prestise guru secara individual adalah sedemikian besarnya sehingga, bahkan sesudah perngorganisasian madrasah-madrasah.

Pada akhir abad pertengahan, mayoritas ilmuwan-ilmuwan yang termasyhur bukanlah produk madrasah-madrasah, tetapi adalah bekas-bekas murid informal guru-guru individu. Berkaitan erat dengan pentingnya guru secara senteral ini adalah fenomena yang dikenal sebagai mencari ilmu (thalabul ilm). Mahasiswa-mahasiswa pengembara melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh, kadang-kadang dari ujung ke ujung dunia Islam. Inilah merupakan fenomena studi atau mencari ilmu pengetahuan pada abad pertengahan.

Sistem madrasah ; yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran ini, walaupun mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut. Sebenarnya dari penurunan kualitas ilmu pengetahuan Islam adalah kekeringan yang gradual dari ilmu-ilmu keagamaan karena pengucilannya dari kehidupan intelek-tualisme awam yang juga kemudian mati.Paraulama menentang kaum Mu’tazilah dan Syi’ah, para ‘Ulama telah memperoleh pengalaman dalam mengembangkan il-mu-ilmu mereka sendiri dan mengajarkannya dengan cara sedemikian rupa yang bisa mengokohkan pertahanan ilmu-ilmu tersebut. Sistem sekolah secara fisik jadi terisolir dari oposis. Lebih penting lagi adalah cara di mana isi dari ilmu-ilmu ortodoks tersebut dikembangkan, hingga dapat diisolir dari kemungkinan tantangan dan oposisi.

Susunan dalam ilmu-ilmu keagamaan dibuat sedemikian rupa hingga mem-buatnya tampak mutlak swa-sembada (self-sufficient); ilmu-ilmu keagamaan tersebut menurut Rahman mengisi dan menempati semua bidang ilmu pengetahuan, sehingga semua ilmu pengetahuan yang lain adalah tambahan-tambahan yang tak diperhitungkan, atau sama sekali dikutuk. Pernyataan yang dikutip dari ahli hukum al-Syathibi, menyatakan bahwa mencari ilmu apapun juga yang tidak langsung berhubungan dengan amal adalah terlarang, pandangan ini merupakan ciri khas pandangan ulama zaman pertengahan. Pernyataan ulama-ulama Islam zaman pertengahan, mengesampingkan filsafat, tetapi sebenarnya juga matematika, kecuali ilmu berhitung dasar. Sikap ini diambil untuk memberikan kedudukan yang mutlak kepada ilmu hukum-fiqh. Sedangkan mengenai theologi dogmatis bersaing dengan ilmu hukum untuk merebutkan kedudukan puncak dalam skema ilmu pengetahuan Islam, ia menegakkan dirinya sebagai pengganti filsafat-rasional.

Sejak abad ke-6 H/12 M, Fakhruddin al-Razi, memperluas ruang lingkup dengan mencakup logika dari sistem-sistem filosofis, dengan cara menambah teorinya tentang fisika dan filsafat kealaman, dan juga mengganti metafisika filosofisnya dengan thesis-thesis theologi dogmatisnya. Maka, seorang mahasiswa tidak perlu mempelajari semua karya-karya filosofis, karena theologi telah menghasilkan suatu ilmu yang komprehensif. Skema filosofis-theologis itu tidak perlu dicemohkan, karena pemikiran semacam ini merupakan tanda kesuburan dalam pemikiran Islam. Thomas Aquinas pun telah melakukan hal yang sama untuk agama Kristen pada zaman pertengahan Eropa. Tetapi bila kandungan skema tersebut dipandang mutlak secar eksklusif, maka ia akan kehilangan semua kemungkinan tantangan kreatif yang mungkin timbul. Apabila secara organis menghubungkan semua bentuk ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai alat theologi dogmatis, maka sumber-sumber kesuburan intelektual jadi kering dan pemikiran orisinal mati.

Melalui proses ini, dengan sendirinya kurikulum madrasah diredusir secara sangat merugikan yang mengakibatkan timbulnya pandangan yang sempit dan juga menyebabkan pendidikan keagamaan yang tinggi menjadi lesu. Katib Chelebi (10-67 H/1657 M) meretapi kelayuan sain-sain rasional dan juga theologi tinggi sebagai berikut: “Tetapi banyak orang tidak cerdas…. yang pasti laksana batu-batu, membeku dalam peniruan kepada nenek moyangnya. Tanpa berpikir lagi, mereka menolak dan mengingkari ilmu-ilmu yang baru. Sebenarnya ada dua pendekatan dasar kepada pengetahuan modern telah dipakai oleh teori-teori Muslim modern memperoleh pengetahuan modern hanya dibatasi pada bidang teknologi praktis karena pada bidang pemikiran murni kaum Muslimin tidaklah memerlukan produk intelektual Barat. Karena kaum Muslimin tanpa takut bisa dan harus memperoleh tidak hanya teknologi Barat saja, tetapi juga intelektualismenya, karena tidak ada jenis pengetahuan yang merugikan, bagaimanapun juga sain dan pemikiran murni telah giat dibudidayakan oleh kaum Muslimin pada awal abad pertengahan, yang kemudian diambil alih oleh orang Barat.

Pandangan yang pertama mendorong atau melahirkan sikap dualistis pemikiran yang “sekularis”, suatu dualitas loyalitas ; kepada agama dan “urusan dunia”. Disisi lain ada beberapa hal yang perlu dilihat bahwa : 1. berkembangnnya ilmu dan semangat ilmiah dari abad ke-9 sampai abad ke-13 di kalanngan umat Islam berasal dari terlaksananya perintah al-Qur’an untuk mempelajari alam semesta – karya Allah yang memang diciptakan untuk kepentingan manusia, 2 pada abad-abad pertengahan  akhir semangat penyelidikan di dunia Islam macet dan merosot, 3 Barat telah melaksanakan kajian-kajian ilmiah yang sebagian besar dipinjamny dari kaum Muslimin dan karena itu mereka memperoleh kemakmuran, bahkan menjajah negeri-negeri Muslim, 4 karena itu umat Islam, dalam mempelajari ilmu baru dari Barat yang maju, berarti meraih kembali masa lampau mereka dan sekaligus untuk memenuhi sekali lagi perintah-perintah al-Qur’an yang terlupakan.

2. Kurikulum dan Pengajaran

Dengan penyempitan lapangan ilmu pengetahuan umum melalui tiadanya pemikiran umum dan sain-sain kealaman, maka kurikulum dengan sendirinya menjadi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan kesusasteraan sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata pelajaran keagamaan murni yang disebut Rahman adalah Hadits atau Tradisi, Fiqh atau Hukum (termasuk ‘Ushul al-Fiqh atau Prinsip-prinsip Hukum), Kalam atau theologi, dan Tafsir atau eksegesis al-Qur’an. Dibanyak madrasah sayap kanan Ahl al-Hadits, bahkan theologi dicurigai, maka dengan sendirinya hanya tiga matapelajaran.

Kemerosotan gradual standar-standar akademik selama berabad-abad terletak pada fakta bahwa, sangat sedikit buku-buku yang tercantum dalam kurikulum, waktu yang diperlukan untuk belajar sangat singkat untuk bisa menguasai bahan-bahan yang ‘kenyal’ dan seringkali sulit dipahami pelajaran ilmu keagamaan yang tinggi pada usia yang relatif muda dan belum matang. Akhirnya kondisi belajar lebih banyak bersifat stusi tekstual buku-buku daripada memahami pelajaran yang bersangkutan. Selain itu juga pelajatan lebih banyak bersifat hapalan dari pada pemahaman yang sebenarnya.

Kurikulum dilaksanakan atas metode urutan mata pelajaran. Bahas Arab dan tatabahasa Arab, kesusastraan, ilmu hitung, filsafat, hukum, yurisprudensi, theologi tafsir al-Qur’an, dan Hadits. Si murid melewati kelas demi kelas dengan menyelesaikan satu mata pelajaran dan memulai dengan mata pelajaran yang lain yang lebih tinggi. Dengan demikian sistem ini tidak memberi banyak waktu untuk setiap mata pelajaran. Tugas guru hanya mengajarkan komentar-komentar orang lain, di samping teks aslinya, dan gurutampamenyertai komentarnya sendiri dalam pelajaran tersebut. Selain Rahman mengatakan bahwa persaingan pendapat tentang mata pelajaran mana yang lebih tinggi dari mata pelajaran yang lain. Persaingan antara ilmu hukum dan theologi, dan banyak orang menganggap Hadits yang paling tinggi atau besar di antara semua mata pelajaran, karena hadits menjadi sumber bahan. Bahkan ada beberapa sekolah di mana hampir-hampir satu-satunya mata pelajaran yang diajarkan adalah Hadits, sangat ironis sekali.

Orang banyak berbicara tentang kekakuan disiplin-disiplin keagamaan dan orientasi umum pendidikan madrasah terhadap kepentingan-kepentingan keagamaan, namun lapangan pendidikan pada waktu itu, secara keseluruhannya adalah jauh dari kaku.

3. Pemikiran Tentang Pendidikan Tinggi Islam

Esensi “Pendidikan Islam”, pada dasarnya tidaklah memaksudkan perlengkapan dan peralatan-peralatan fisik atau kuasi-fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, tetapi adalah sebagai “intelektualisme Islam”, karena inilah esensi pendidikan tinggi Islam. Ia adalah pertumbuhan suatu pemikiran Islam yang asli dan memadai, yang harus memberikan kreteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan Islam. Perumusan pemikiran pendidikan tinggi Islam haruslah didasarkan kepada metoda penafsiran yang benar terhadap al-Qur’an. Mengapa masalah al-Qur’an harus ditempatkan sebagai titik pusat intelektualisme Islam. Jawabannya karena bagi Muslim al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan secara harfiah kepada Nabi Muhammad, dan barangkali tidak ada dokumen keagamaan lain yang dipegang seperti itu. Proses penafsiran yang diusulkan terdiri dari suatu gerakan ganda, dari situasi sekarang ke masa al-Qur’an diturunkan, dan kembali lagi ke masa kini. Karena al-Qur’an adalah respons ilahi, melalui ingatan dan pikiran Nabi, kepada situasi moral-sosial Arab pada masa Nabi.

Gerakan ganda yang perlu diperhatikan terdiri dari dua langkah. Pertama, orang harus memahami arti atau makna dari sesuatu pernyataan dengan mengkaji situasi atau problem historis di mana pernyataan al-Qur’an tersebut merupakan jawabannya. “Kedua”, menggeneralisasikan jawaban-jawaban spesifik tersebut dan menyatakannya sebagai pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral sosial umum yang dapat disaring dari ayat-ayat spesifik dalam sinaran latar belakang sosio kultural dan rationes legis yang sering dinyatakan. Sedangkan Intelektualisme Islam yang dimaksud yaitu suatu sisi bertolak dari ajaran Islam yaitu Qur’an dan Hadits oriented, dan sisilain dapat dipertanggung jawabkan secara ilmu pengetahuan kontemporer.

Ada perumusan pemikiran konsep pendidikan tinggi Islam haruslah didasarkan dan berangkat dari pemahaman yang benar dan pendalaman terhadap al-Qur’an, yang berfungsi sebagai petunjuk atau inspirasi bagi generasi muda Islam. Terdapat kesadaran yang luas dan kadang-kadang mendalam akan adanya dikotomi dalam pendidikan, namum semua upaya ke arah integrasi yang asli sejauh ini, pada umumnya tidak membuahkan hasil. Kita perlu mencermati ciri-ciri pokok upaya-upaya yang dilakukan untuk memperbahrui pendidikan Islam. Pada dasarnya ada dua segi orientasi pembaharuan. Salah satu pendekatannya menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di Barat dan mencoba untuk “mengislamkan”nya – yakni mengisi dengan konsep kunci tertentu dari Islam. Pendekatan ini memiliki dua tujuan : Pertama, membentuk watak pelajar-pelajar/mahasiswa-mahasiswa dengan nilai Islam dalam kehidupan dan masyarakat, dan kedua, untuk memungkinkan para ahli yang berpendidikan modern untuk menamai bidang kajian masing-masing dengan nilai-nilai Islam pada perangkat-perangkat yang lebih tinggi ; menggunakan perspektif Islam, untuk mengubah – di mana perlu – baik kandungan maupun orientasi kajian-kajian mereka.

Menurut Ahmad Syafii Maarif (1997 : 1), jika proposisi ini dapat diterima , maka paradigma baru pendidikan tinggi Islam haruslah tetap berangkat dari pemahaman yang benar dan cerdas terhadap Kitab Suci itu, yang berfungsi sebagai petunjuk, pencerahan, penawar, sekalipun kemungkinan resikonya adalah bahwa beberapa bangunan pemikiran Islam klasik harus ditolak atau diperkarakan. Cara ini terpaksa ditempuh karena semua bangunan pemikiran tentang: filsafat, teologi, sufisme, sistem hukum, moral, pendidikan, sosial budaya, dan politik, pasti dipengaruhi oleh suasana ruang dan waktu. Analog dengan ini, maka hasil pemikiran kitapun juga akan diperkarakan oleh generasi sesudah kita kalau ternyata hasil pemikiran itu dinilai telah kehilangan kesegaran dan elan vital untuk menjawab persoalan-persoalan zaman yang salalu berubah.

Lebih lanjut, Ahmad Syafii Maarif (1997 : 3) mengatakan bahwa salah satu penyebab tersungkurnya dunia Islam adalah karena pendidikan yang diselenggarakan tidak lagi mengacu kepada dan mengantisipasi zaman yang sedang berubah dan bergulir. Umat sibuk “bernyanyi” di bawah payung kebesaran masa lampau dengan sistem politik dinasti otoriter. …..Proses penyadaran kembali terhadap tanggung-jawab global umat ternyata memakan tempo yang lama sekali, karena pendidikan yang diselenggarakan sangat konservatif dalam arti menjaga dan melestarikan segala yang bersifat klasik. Daya kritis dan inovatif hampir-hampir lenyap samasekali dari ruangan madrasah, pondok, dan lembaga pendidikan lainnya di seluruh negeri Muslim.

Adadua arah upaya-upaya pembaharuan yang sedemikian jauh telah dilakukan. Dalam satu arah, pembaharuan ini telah terjadi hampir seluruhnya dalam kerangka pendidikan tradisional sendiri. Perubahan ini sebagian besar digerakkan oleh fenomena pembahruan pra-modernis,….pembaharuan ini telah cenderung “menyederhanakan” sillabus pendidikan tradisional, yang dilihatnya sarat dengan materi-materi “tambahan yang tak perlu” seperti theologi zaman pertengahan, cabang-cabang filsafat tertentu (seperti logika). Pada arah kedua, suatu keragaman perkembangan telah terjadi, yang bisa diringkas dengan mengatakan bahwa ragam-ragam perkembangan tersebut semuanya mencerminkan upaya untuk menggabungkan dan memadukan cabang-cabang pengetahuan modern dengan cabang-cabang pe-ngetahuan lama. Dalam kasus seperti ini, lama waktu belajar diperpanjang dan disesuaikan dengan panjang lingkup kurikulum. Melihat atau catatan percobaan diIndonesia, ditunjang dengan pelajaran-pelajaran sore hari yang diseleng-garakan menurut cara pendidikan rendah modern dari sekolah-sekolah masa kini dengan demikian memperpanjang jam belajar dan bukannya menambah jumlah tahun belajar. Sedangkan pada tingkat akademi, dalam percobaan diIndonesia, upaya-upaya ditujukan pada penggabungan ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu tradisional.

Banyak lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia telah menekankan pelajaran bahasa Arab, dan banyak mahasiswa dan sarjanaIndonesiabisa berbicara secara lancar dengan bahasa Arab klasik. Banyak lembaga pendidikan IslamIndonesiamengadakan hubungan dengan al-Azhar melalui guru-guru besar tamu yang datang dari al-Azhar. Selain itu sejumlah mahasiswaIndonesiayang dikirim untuk belajar ke al-Azhar. Kemungkinan besar apabila diberikan waktu, kesempatan, dan kemudahan-kemudahan, IslamIndonesiapasti akan mampu mengembangkan suatu tradisi Islam pribumi yang bermakna, yang akan benar-benar bersifat Islam kreatif.

Percobaan-percobaan ini tak syak lagi adalah percobaan-percobaan yang di-lakukan oleh al-Azhar Mesir dan sistem baru pendidikan Islam diperkenalkan di Turki sejak akhir tahun-tahun 1940-an. Modernisasi al-Azhar, sebagai sampel lembaga pendidikan ilmu-ilmu keislaman, sekalipun telah diupayakan semenjak abad kesembilan belas, dapat dikatakan tak berubah dalam prosisi intelektual – spiritualnya. Efek pembaruan pada al-Azhar baru dirasakan dalam lapangan reorganisasi, sistem ujian, dan pengenalan pokok-pokok kajian baru, dan tidak dalam kandungan ilmu-ilmu Islam inti seperti teologi dan filsafat. ….dapat dinilai bahawa yang dikemukakan oleh ‘Abdul Muta’al al-Sha’idi yang menyatakan bahwa pendidikan yang diberikan di al-Azhar tidak bisa melahirkan mujtahid-mujtahid besar, yakni orang-orang yang mempunyai kemampuan dan kehendak untuk melakukan pemikiran baru dalam berbagai aspek pemikiran Islam, sebagai sebuah “truisme”. Tampaknya, kurikulum pendidikan Islam tingkat tinggi yang dikehendaki adalah kurikulum yang terbuka bagi kajian-kajian filsafat dan sain-sain sosial. Perlunya penekankan peranan filsafat sebagai kegiatan kritis analtis dalam melahirkan gagasan-gagasan yang bebas. Dalam hal ini filsafat berfungsi menyediakan alat-alat intelektual bagi teologi dalam menjalankan tugasnya “mem-bangun suatu pandangan dunia berdasarkan al-Qur’an”. Betapa penting keterlibatan sains-sains sosial. Sains-sains tersebut merupakan produk perkembangan modern yang berguna dalam memberikan keterangan kondisi obyektif suatu kehidupan dunia yang obyektif pengejawantahan ajaran-ajaran al-Qur’an.

4. Pemikir Kontemporers Lainnya

Konsep tentang pendidikan Islam, bahwa, pada saat sekarang ini ada dua sistem pendidikan. Pertama, sistem tradisional, yang telah membatasi bahwa pada pengetahuan klasik, belum menunjukkan minat yang sungguh-sungguh pada cabang-cabang pengetahuan baru yang telah muncul di dunia Barat atau pada metode-metode baru untuk memperoleh pengetahuan yang penting dalam sistem pendidikan Barat. Sistem ini memang berguna untuk pengetahuan teologi klasik, tapi para ahli teologi klasik yang dilahirkan dari sistem ini pun tidak cukup mendapat bekal pengetahuan intetelektual atau suatu metoda guna menjawab tantangan-tantangan dari peradaban teknologi modern yang tak mengenal Tuhan. Sistem pendidikan kedua yang didatangkan ke negeri-negeri Muslim, yang disokong dan didukung sepenuhnya oleh semua pemegang pemerintah, adalah sistem yang dipinjam dari dunia Barat. Puncak dari sistem ini adalah Universitas modern yang bersifat sekuler keseluruhannya dan karena tidak mengindahkan agama dalam pendekatannya terhadap pengetahuan. Orang-orang yang didik melalui sistem pendidikan baru ini, yang dikenal sebagai pendidikan modern, pada umunya tidak menyadari akan tradisi dan warisan klasik mereka sendiri. Kemudian diciptakannya sistem ketiga yang mancakup suatu sistem pendidikan yang terpadu memang perlu, tetapi kepaduan bukanlah suatu proses yang gampang.Adakekhawatiran sistem perpaduan ini menuntut penghapusan total atas sistem pendidikan tradisonal, atau penurunan keududukan dari sistem itu sampai sedemikian rupa sehingga orang-orang akan memandang rendah padanya, atau tidak menghargai mereka yang ingin mengambil spesialisasi dalam cabang itu.

Hal ini ada peluang terjadi dikotomi pendidikan Islam, artinya ada dualisme sistem pendidikan Islam dan pendidikan umum yang memisahkan kejian-kajian agama dengan ilmu pengetahuan. Sistem pendidikan yang dikotomi ini menyebabkan pendidikan Islam belum mampu melahirkan mujtahid-mujtahid besar. Pendidikan Islam merupakan lembaga pendidikan ilmu-ilmu keislaman efek pembaharuannya baru dirasakan dalam lapangan reorganisasi, dan tidak dalam kandungan ilmu-ilmu Islam seperti teologi dan filsafat. Pendidikan Tinggi Islam belum mampu membangun paradigma baru yang tetap berangkat dari pemahaman al-Qur’an, sehingga mampu melahirkan apa yang disebut dengan “intelektualisme Islam”.

Dikotomi tidak merupakan alasan, karena salah satu pendekatannya atau tawarnnya adalah dengan menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di dunia Barat dan mencoba untuk “mengislamkan”nya – yakni mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Maka, dapatdi katakan perlu mewarnai bidang-bidang kajian tingkat tinggi dengan nilai-nilai Islam. “Masalah pokoknya bagaimana “memodernisasi” pendidikan Islam, yakni membuatnya mampu untuk produktivitas intelektual Islam yang kreatif dalam semua bidang usaha intelektual bersama-sama dengan keterikatan yang serius kepada Islam. ….perlu perluasan wawasan intelektual Muslim dengan cara menaikkan standar-standar intelektualnya.

Selain itu pemikiran tentang pendidikan tinggi Islam bahwa pembahasan hal ini menawarkan tiga rekonstruksi dalam upaya Islamisasi Universitas. Pertama, rekonstruksi tentang konsep ilmu. Yaitu menawarkan memasukkan ilmu-ilmu naqliyyah, seperti al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Tauhid, dan Metafisika sebagai mata kuliah dasar umum elektif bagi mahasiswa, melandasi disiplin ilmunya masing-masing yang aqliyyah sifatnya. Kedua, rekonstruksi kelembagaan, yaitu : menjadikan lembaga pengembangan studi ilmu-ilmu naqliyyah sebagai bagian dari universitas. Ketiga, rekonstruksi atau lebih tepatnya pengembangkan kepribadian individual, mulai dari dosennya sampai ke alumninya. Menurut Noeng Muhajir, rekonstruksi pertama banyak tergantung kepada pemegang otoritas akademik perguruan tinggi yang bersangkutan. Rekonstruksi kedua lebih banyak tergantung kepada pemegang otoritas kelembagaan perguruan tinggi yang bersangkutan. Rekonstruksi ketiga memerlukan evolusi panjang bertahun-tahun, yang peningkatan kualitasnya merupakan pangaruh timbal balik dengan keberhasilan rekonstruksi kedua dan pertama. Konsep ini berbeda, bahwa perumusan pemikiran konsep pendidikan tinggi Islam haruslah didasarkan dan berangkat dari pemahaman yang benar dan pendalaman terhadap al-Qur’an, yang berfungsi sebagai petunjuk atau inspirasi bagi generasi muda Islam.

Kesimpulan

Dari apa yang diuraikan di atas, ada beberapa hal yang bias kita cermati  (1) bahwa  perumusan pemikiran konsep pendidikan tinggi Islam yang hendak dikembangkan haruslah dibangun di atas sebuah paradigma yang kokoh spritual, intelektual, dan moral dengan al-Qur’an sebagai acuan pertama dan utama. Karena dengan paradigma model inilah akan membangun peradaban akan datang yang unggul secara intelektual, anggun secara moral yang berdasarkan al-Qur’an. (2) Tawaran kurikulum yang sifatnya terbuka bagi kajian-kajian filsafat dan sain-sain sosial. Oleh karena itu,  sangat menekankan peranan filsafat sebagai kegiatan kritis analtis dalam melahirkan gagasan-gagasan yang bebas. Dalam hal ini filsafat berfungsi menyediakan alat-alat intelektual bagi teologi dalam menjalankan tugasnya “mem-bangun suatu pandangan dunia berdasarkan al-Qur’an”. Maka, hal ini penting keterlibatan sains-sains sosial dalam khasanah pendidikan Islam.

00000000000

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2011
S S R K J S M
    Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: