//
you're reading...
Uncategorized

Pembentukan Konsep Diri Siswa melalui Pembelajaran Partisipatif

oleh : Imam Mustaqim, S.Pd.I., M.Pd.

Pemahaman konsep diri yang positif pada siswa perlu dilaksanakan oleh orang tua maupun guru dengan penuh tanggungjawab sehingga siswa dapat meraih masa depan yang lebih baik. Untuk mencapai konsep diri yang positif pada diri siswa, belajar dinamik serta pembelajaran partisipatif adalah metode dan teknik yang sangat sesuai diterapkan di sekolah, karena siswa ikut terlibat langsung dalam proses pembelajaran sejak awal perencanaan, strategi pelaksanaan hingga evaluasi pembelajaran. Belajar dinamik dan pembelajaran partisipatif menjadi  lebih mudah dilaksanakan karena didukung Kurikulum Berbasis Kompetensi yang lebih menekankan pada proses dan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain: siswa diberi kesempatan mengkomunikasikan gagasan, menunjukkan kemampuan berpikir kritis serta menunjukkan motivasi dan percaya diri dalam belajar secara mandiri maupun bekerjasama dalam kelompok. Dengan terlibatnya siswa dalam seluruh proses kegiatan belajar, berarti siswa menjadi lebih menguasai materi pelajaran dan siswapun akan mendapat pengalaman berharga saat berinteraksi dengan guru dan teman-temannya, sehingga sosialisasi dan konsep diri siswa dapat terbentuk secara positif. Kata kunci : Siswa, guru, konsep diri positif, belajar dinamik, pembelajaran partisipatif, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Both parents and teachers should develop students self conceptualization to strengt hen their motivation and self confidence. This article discusses dynamic learning and participative learning as appropriate methods to be applied at school. These methods enable the students to participate in planning, implementation, and evaluation process. Students involement in the whole instructional process will enforce learning experience and improve their learning achievement.

Pendahuluan


Aspek fisik setiap anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan sejalan bertambahnya usia mereka. Kemudian terjadi peningkatan fungsi dari berbagai aspek fisik tersebut. Bersamaan itu terjadi perkembangan yang bersifat psikis yang meliputi aspek psikologis dan sosial. Indikatornya adalah, mereka lebih bertanggung jawab, mandiri, mampu beradaptasi, keinginan berkreasi, mengembangkan kemampuan diri hingga kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri serta keinginan untuk dihargai. Aktualisasi diri dan keinginan dihargai biasanya diperoleh dengan melakukan berbagai kegiatan yang menghasilkan suatu jasa atau karya sehingga mendapatkan suatu prestasi atau prestise yang memuaskan. Untuk mencapai itu semua, orang tua, guru dan lingkungan sangat berperan menumbuhkan kematangan setiap anak (siswa) sehingga ia dapat menemukan konsep diri yang mantap. Lingkungan harus mampu menyulut atau memicu suatu perubahan agar anak mampu menemukan dan mengembangkan konsep dirinya.

Jurnal Pendidikan Penabur – No.08/Th.VI/Juni 2007 67

Pembentukan Konsep Diri Siswa Soetjipto dan Raflis K (1999) dalam bukunya “Profesi Keguruan” mengemukakan, guru merupakan jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual. Artinya di dalamnya terjadi proses pembelajaran berbagai aktivitas yang dilakukan untuk daya intelektual siswa. Jabatan guru lebih mementingkan sisi pelayanan. Dalam perspektif ini, aktivitas mengajar mengandung nilai sosial yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi kehidupan siswa untuk meraih masa depan yang lebih baik. Mengingat peran guru dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh pada intelektual, emosional dan spiritual anak sehingga akhirnya menentukan kualitas masa depan anak, maka sangatlah bijak apabila guru mengenal perkembangan anak sesuai dengan usianya. Dengan demikian guru dapat melakukan proses pembelajaran dengan mengikuti kebutuhan siswanya. Elizabeth B. Hurlock (1980) dalam bukunya “ P s i k o l o g iP e r k e m b a n g a n ” , menegaskan bahwa, kematangan dan belajar memainkan peran penting dalam p e r k e m b a n g a n . Kematangan atau maturity adalah terbukanya sifat-sifat bawaan individu. Kematangan memberikan bahan dasar untuk belajar dan menentukan pola-pola umum dan urutan-urutan perilaku yang lebih umum. Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha pada pihak individu. Konsep diri terbentuk secara positif apabila orang tua dan guru banyak memberi penghargaan terhadap usaha yang telah dilaksanakan sesuai tugas yang diterima anak. Dengan melibatkan dalam pelaksanaan proses pembelajaran akan membuat anak merasa dihargai, dapat mengaktualisasikan dirinya dan pasti akan membentuk konsep diri yang baik. Singgih D. Gunarso (2002), mengemukakan untuk membentuk konsep diri siswa yang baik perlu dipersiapkan sebuah kurikulum yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Siswa harus dibiasakan belajar dengan aktivitas sendiri dan bukan secara pasif mengharapkan “hasil kunyahan” dari guru .Untuk itulah artikel ini mencoba memberi gagasan-gagasan konstruktif agar konsep diri siswa dapat dibentuk melalui sebuah pendekatan pembelajaran partisipatif.

1. Pengertian Konsep Diri

Menurut Adi W. Gunawan (2005), yang menyebut dirinya seorang Re-Educator dan Mind Navigator mengatakan konsep diri diibaratkan sebagai sebuah sistem yang menjalankan komputer mental yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri yang telah ter-install akan masuk ke pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Konsep diri seseorang dapat dilihat dari sikap mereka. Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal-hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal. Sedangkan Jacinta F. Rini (2002), mengartikan konsep diri secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. …untuk membentuk konsep diri siswa yang baik perlu dipersiapkan sebuah kurikulum yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. 68 Jurnal Pendidikan Penabur – No.08/Th.VI/Juni  2007 Pembentukan Konsep Diri Siswa

2. Proses Pembentukan Konsep Diri

Proses pembentukan konsep diri dimulai sejak masih kecil. Masa kristis pembentukan konsep diri adalah saat anak masuk sekolah dasar. Mengutip pendapat Glasser, seorang pakar pendidikan dari Amerika, Adi Gunawan menyatakan bahwa lima tahun pertama di SD akan menentukan “nasib” anak selanjutnya. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Jacinta F. Rini. Ia berpendapat, konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri negatif. Jadi, anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dialami dan apa yang diperoleh dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.

3. Belajar dinamik

Melibatkan siswa dalam aktivitas pembelajaran bukan hanya sekedar siswa mendengarkan, melaksanakan tugas, dan berakhir dengan penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa dalam penguasaan materi. Namun lebih dari itu dinamakan dengan belajar dinamik. Belajar dinamik sifatnya sangat kompleks, karena menyangkut lahirnya sumber-sumber energi psikis, yang seolah-olah merupakan bahan bakar yang memberikan kekuatan dan dorongan kepada orang untuk melakukan berbagai aktivitas, di antaranya kegiatan belajar. Sumber-sumber energi psikis itu adalah kemauan, sikap, motif dan perasaan. Di dalam belajar dinamik, dibentuk kemauan, sikap, motif dan modalitas perasaan, yang semuanya mengambil bagian dalam pembentukan watak. Jika konsepsi dari WS. Winkel ini benar-benar dihayati, maka sepertinya ada titik temu dengan orientasi dari kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang lebih menekankan pada proses dan keaktifan siswa. Dengan demikian aktivitas pembelajaran dapat dipersiapkan bersama-sama (guru dan siswa), mulai dari penentuan materi pelajaran, aktivitas yang sesuai untuk mencapai tujuan sampai pada tahapan evaluasi. Semua kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan semangat belajar siswa. Ketika terjadi interaksi dengan guru serta teman-temannya dapat menjadi sebuah pengalaman berharga dalam upaya membentuk perilaku, watak, kepribadian, konsep diri yang baik. Di dalam Kurikulum 2004 dirumuskan suatu standar kompetensi lintas kurikulum. Kompetensi-kompetensi itu siswa dapat: (1) menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan

gagasaan serta informasi sehingga dapat berinteraksi dengan orang lain; (2) menunjukkan kemampuan berpikir konsekuen, berpikir lateral, berpikir kritis, memperhitungkan peluang dan

potensi, serta siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan; dan (3) menunjukkan motivasi

dan percaya diri dalam belajar, mampu bekerja mandiri, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.

4. Pembelajaran Partisisipatif

Pembelajaran partisipatif memiliki prinsip tersendiri dalam kegiatan belajar mengajar. Prinsip utama adalah siswa atau peserta didik memiliki kebutuhan belajar, memahami teknikteknik belajar, dan berperilaku belajar. Dari sisi guru, ia harus menguasai metode dan teknik pembelajaran, memahami materi, berperilaku membelajarkan anak didik. Sudjana (2001) dalam bukunya “Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif” memaparkan enam tahapan kegiatan yang berurutan dalam pelaksanaan pembelajaran partisipatif, yaitu pembinaan keakraban; identifikasi kebutuhan dan sumber serta kemungkinan hambatan; perumusan tujuan belajar; penyusunan program kegiatan belajar; pelaksanaan kegiatan pembelajaran; dan evaluasi.

  1. Tahap pembinaan keakraban.

Tahap ini bertujuan membangun sebuah kondisi agar peserta didik siap melakukan kegiatan pembelajaran. Terciptanya suasana yang akrab di antara peserta didik memungkinkan dikembangkan sikap terbuka, saling mempercayai, dan saling menghargai. Dalam kegiatan belajar (diskusi), siswa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan sehingga ia merasa kehadirannya dihargai. Jurnal Pendidikan Penabur – No.08/Th.VI/Juni 2007 69

Pembentukan Konsep Diri Siswa

Apabila langkah ini berjalan dengan baik, siswa akan merasa bahwa keberadaan dirinya tidak sia-sia. Penulis yakin dalam diri siswa akan tertanam konsep diri positif. Dengan demikian ia siap untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

  1. Tahap Identifikasi Kebutuhan, Sumber dan Hambatan

Tahap ini pendidik melibatkan siswa mengenali, menyatakan, dan merumuskan kebutuhan belajar, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi dalam kegiatan belajar. Tujuan adalah memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar itu dirasakan menjadi miliknya. Siswa harus didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar, pengalaman belajar seperti apa yang mereka inginkan. Jika langkah ini berjalan dengan baik, siswa akan merasa bahwa apa yang menjadi kebutuhannya bisa terpenuhi. Dengan demikian dalam siswa ada sense of belonging terhadap apa yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran. Rasa memiliki merupakan salah satu indikator bahwa seseorang mempunyai konsep diri positif.

c. Tahap Perumusan Tujuan Belajar

Kegiatan dalam tahap ini ditandai oleh keikutsertaan peserta didik dalam menentukan tujuan belajar yang akan dicapai. Perumusan tujuan belajar atau hasil belajar untuk memotivasi peserta didik. Tujuan belajar berfungsi pula sebagai pengarah kegiatan belajar dan sebagai tolok ukur efektivitas pembelajaran. Dalam kurikulum 2004 dinamakan dengan kompetensi, sedangkan menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dinamakan dengan indikator. Melalui tujuan belajar yang jelas dan terarah, apalagi siswa juga dilibatkan dalam merumuskan tujuan itu, maka siswa merasa bahwa semua aktifitas yang akan dilaksanakan adalah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sendiri. Dalam tataran yang lebih luas, siswa akan mampu menentukan tujuan hidup yang akan dicapai.

d.Tahap Penyusunan Program KegiatanBelajar

Tujuan yang terkandung dalam tahap kegitan ini adalah supaya peserta didik dapat memiliki pengalaman bersama dalam menyatakan, memilih, menyusun, dan menetapkan program kegiatan belajar yang akan mereka tempuh. Penyusunan program kegiatan belajar dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pembelajaran seperti diskusi kelompok, analisis tugas, simulasi, presentasi. Konsep diri yang terbentuk dalam tahap ini adalah, siswa bertanggung jawab atas pilihan berbagai program dan kegiatan yang telah ditentukan bersama.

e. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran ditandai oleh keikutsertaan peserta didik dalam pengelolaan kagiatan pembelajaran. Keiikutsertaannya diindikasikan melalui tugas dan tanggung jawab. Tugas peserta didik adalah belajar, sedangkan tanggung jawabnya melibatkan diri secara intens dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama pada saat penyusunan program. Teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan dalam tahap ini misalnya dengan tanya jawab, diskusi, analisis masalah, studi kasus, kunjungan studi, simulasi, bermain peran. Konsep diri yang terbentuk melalui tahap ini adalah, siswa mengerti dan menginternalisasikan dalam dirinya apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya. Siswa tahu apa yang harus diperbuat.

f. Tahap Evaluasi

Kegiatan pembelajaran pada tahap ini ditandai dengan keterlibatan peserta didik dalam penilaian. Penilaian merupakan upaya mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data atau informasi mengenai kegiatan pembelajaran sebagai masukan untuk mengambil keputusan. Aspek kegiatan yang dinilai meliputi proses, hasil, dan pengaruh kegiatan pembelajaran. Penilaian terhadap proses bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan rencana yang telah ditetapkan. Penilaian hasil mencakup perubahan tingkah laku seperti pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang telah diperoleh perserta didik. Penilaian pengaruh untuk mengetahui sejauh mana hasil belajar mempunyai dampak terhadap kehidupan peserta didik. 70 Jurnal Pendidikan Penabur – No.08/Th.VI/Juni 2007

Pembentukan Konsep Diri Siswa

Konsep diri yang terbentuk melalui kegiatan evaluasi adalah, siswa tahu kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Kelebihan yang ada terus dipertahankan dan kekurangannya harus dicari jalan pemecahannya. Berpijak dari pemahaman ini siswa akan mampu menemukan serangkaian langkah konkret supaya kelebihan yang ada dapat dipertahankan, sedangkan kekurangannya dapat dihilangkan. Misalnya, mencoba halhal baru, berani sukses, dan juga berani gagal. Oleh karena itu, guru hendaknya kreatif untuk mendesain sebuah proses pembelajaran yang mampu mencapai kompetensi lintas kurikulum tersebut. Secara konkrit penulis mencoba memberi gagasan aplikatif pembelajaran partisipatif di sekolah dasar seperti berikut.

Aplikasi Pembelajaran Partisipartif di Sekolah

Dasar

1. Kelas : 5 Sekolah Dasar

2. Bidang Studi : Ilmu Pengetahuan Sosial

3. Kompetensi : Siswa mampu mendeskripsikan kerajaan dan peninggalan masa Hindu, Budha, dan Islam

di Indonesia

4. Hasil Belajar :

a. Siswa dapat mengidentifikasi kerajaan dan peninggalan Hindu di Indonesia

b. Siswa dapat mengidentifikasi kerajaan dan peninggalan Budha di Indonesia

c. Siswa dapat mengidentifikasi kerajaan dan

peninggalan Islam di Indonesia

5. Pokok Bahasan: Kerajaan Hindu, Budha, dan

Islam di Indonesia

6. Waktu : 2 x 40 menit

Kegiatan Perencanaan Pembelajaran

1. Guru harus memahami terlebih dahulu kompetensi dasar dan hasil belajar yang harus dikuasai oleh siswa.

2. Guru menyiapkan sumber belajar. Dari kompetensi dan hasil belajar yang harus dikuasi siswa tersebut, guru memilih sumber belajar. Sumber belajar yang dipilih adalah Buku Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas 5 Sekolah Dasar, terbitan Grasindo, Jakarta.

3. Guru menentukan materi esensial. Dari pokok bahasan tersebut di atas, guru harus menentukan materi-materi esensial yang memang mendukung penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa. Materi esensial itu seperti berikut.

a. Kerajaan Hindu di Indonesia

Kutai di Kalimantan Timur, pendirinya Kudunga, rajanya yang terkenal Mulawarman. Tarumanegara di Jawa Barat, dipengaruhi oleh Purnawarman. Kediri di Jawa Timur, rajanya Jayabaya dan Kertajaya. Singasari di Jawa Timur, rajanya Ken Arok dan Kertanegara. Majapahit di Jawa Timur, rajanya Raden Wijaya, Hayam Wuruk

Peninggalan Hindu

Seni Bangunan : Candi Prambanan, Candi Jago, Singasari, Jawi, Kidal Seni ukir : Ukiran arca (patung) Siwa, Durga, Ganesha. Karya Sastra : Kitab Smaradhabara karangan Empu Dharmaja.

Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca. Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular.

b. Kerajaan Budha di Indonesia, uraian seperti poin a dengan materi berbeda.

c. Kerajaan Islam di Indonesia, uraian seperti poin a dengan materi berbeda. Reni, Akbar Hawadi (2003) mengemukakan, belajar dari berbagai sumber memperkaya pengetahuan, menambah pemahaman serta penguasaan siswa terhadap suatu materi. Berpijak dari pendapat tersebut maka guru harus mencari sumber-sumber lain untuk memperkaya materi. Bisa juga sumber materi berasal dari siswa sendiri yang dibawa dari rumah atau perpustakaan. Dengan kegiatan ini siswa bertanggung jawab terhadap tugasnya. Karena mampu melaksanakan tugasnya, dalam diri siswa ada rasa dipercaya karena apa yang mereka cari dimanfaatkan oleh seluruh kelas.

Strategi Pelaksanaan

Pembelajaran

a. Siswa Melaksanakan Tugas Kelompok

Siswa membentuk kelompok, setiap kelompok terdiri atas 5 siswa. Tugas kelompok adalah mencari informasi tentang Kerajaan Hindu, Jurnal Pendidikan Penabur – No.08/Th.VI/Juni 2007 71

Pembentukan Konsep Diri Siswa

Budha, dan Islam di Indonesia dari buku sumber yang dibawa dari rumah atau yang telah  disediakan oleh guru. Dari buku sumber tersebut siswa merangkum materi yang dianggap penting dan menuliskannya pada selembar kertas. Dapat juga masing-masing siswa merangkum materi dari rumah, kemudian dibawa ke sekolah dan mendiskusikan dalam kelompoknya sehingga tersusun menjadi suatu rangkuman materi untuk kelompok tersebut. Jika dalam satu kelas ada 6 kelompok, maka sudah terkumpul 6 proyek berupa rangkuman singkat. Kemungkinan ada rangkuman materi yang sama antara kelompok yang satu dengan yang lain. Maka perlu ditentukan materi yang dianggap lengkap dan menambah informasi baru dari pokok materi yang sedang dibahas dengan persetujuan seluruh kelompok melalui pembahasan bersama-sama di dalam kelas. Untuk menentukan kelompok yang lengkap dan kaya informasi baru dapat ditempuh dengan cara: (1) Setiap kelompok yang diwakili oleh seorang siswa mempresentasikan rangkuman kelompoknya di depan kelas; (2) Setelah semua kelompok selesai presentasi, siswa dalam kelas langsung membahas bersama dan menentukan rangkuman dari kelompok mana yang akan diambil sebagai materi tambahan. Usahakan penentuan tersebut dilakukan secara demokratis dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan; (3) Berdasarkan 6 rangkuman yang telah dibahas bersama, terkumpullah sebuah rangkuman yang digunakan sebagai materi tambahan yang akan disatukan dengan materi yang diberikan oleh guru sehingga menjadi sebuah materi yang wajib dipelajari dan sesuai dengan kurikulum dan silabus serta tema semester/bulan tersebut. Contoh materi tambahan dari siswa dapat dilihat seperti ini.

Peninggalan sejarah bercorak Hindu.

1. Nenek moyang kita mempunyai kepercayaan Animisme dan Dinamisme, kemudian menjadi Politeisme.

2. Patung Trimurti adalah tiga dewa utama: Dewa Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Syiwa (perusak).

3. Prasasti batu yang bertuliskan catatan kejadian sejarah, dituliskan dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta. Konsep diri yang terbentuk melalui kerja kelompok adalah, bahwa setiap siswa bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompok. Bukan berpikir untuk keberhasilan dirinya. Yang sangat penting adalah, jika materi tambahan yang dibahas dalam tugas kelompok itu menjadi bagian dari materi utama, siswa merasa bahwa jerih payahnya dihargai.

b. Presentasi Materi dari Guru dan Siswa

Materi yang telah disiapkan oleh guru dan materi tambahan yang telah disiapkan siswa adalah

materi wajib untuk dipelajari bersama. Semua materi tersebut diketik oleh guru dan diperbanyak, kemudian dibagikan kepada semua siswa. Strategi pembelajaran yang dapat dilakukan, materi yang dipersiapkan guru dijelaskan oleh guru sendiri dan materi dari hasil kontribusi siswa dijelaskan oleh siswa atau yang ditunjuk untuk mewakilinya. Supaya lebih jelas lagi, guru mengulangi seluruh materinya sampai siswa mengerti benar. Dalam sesi ini dapat dilakukan tanya jawab atau diskusi. Pastikan guru menggunakan berbagai alat peraga atau media untuk memperkuat daya ingat siswa. Konsep diri yang dapat terbentuk melalui kegiatan presentasi ini adalah siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Mengapa? Karena materi tambahan digunakan sebagai materi wajib, dan siswa diberi kesempatan untuk mempresentasikannya.

c. Evaluasi Pembelajaran

Dari materi wajib yang telah ditentukan, setiap kelompok berkumpul untuk membuat pertanyaan-pertanyaan tertulis dengan soal pilihan, isian, dan uraian). Setiap kelompok diberi batasan materi sehingga pertanyaan tidak keluar dari konteks. Misalnya kelompok 1 – 2 pertanyaannya tentang kerajaan Hindu, kelompok 3 – 4 kerajaan Budha dan kelompok 5 – 6 kerajaan Islam. Semua pertanyaan yang telah dibuat oleh setiap kelompok dikumpulkan dan kembali dibahas secara demokratis untuk menentukan soal-soal yang akan dipakai dalam evaluasi. Terkumpullah soal evaluasi, misalnya:

1. Kerajaan Kutai dipimpin raja bernama ….A. Jayabaya B. Ken Arok C. Mulawarman.

2. Mahapatih Gajah Mada berasal dari kerajaan …A. Kediri B. Majapahit C. Singasari

3. Kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang kita adalah ….Pembentukan Konsep Diri Siswa

A. Animisme B. Islam C. Hindu

4. Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa adalah 3 dewa utama yang disebut ….A. Trisakti B. Triwarna C. Trimurti

5. Dan seterusnya

Soal evaluasi yang telah dibuat oleh siswa (± 25%) digabung dengan soal evaluasi yang disusun guru (± 75%) menjadi sebuah “bank soal” kecil-kecilan. Diharapkan saat ulangan siswa dapat mengerjakan dengan antusias dan percaya diri karena sebagian materi dan soal evaluasi merupakan kontribusi dari siswa sendiri. Dengan percaya diri maka akan membentuk konsep diri yang positif pada siswa. Dalam dirinya ada keyakinan bahwa ia dapat menyelesaikan soal-soal evaluasi karena ia sendiri yang membuatnya.

d. Tempat, Waktu dan Metode

Ketika melaksanakan tugas kelompok atau diskusi untuk menentukan materi/evaluasi; tempat dapat dipilih di dalam kelas, perpustakaan, halaman sekolah yang nyaman atau di bawah pohon yang teduh. Alokasi waktu penyampaian tergantung banyak dan sedikitnya materi yang akan disampaikan kepada siswa. Biasanya jumlah tatap muka atau pertemuan dengan siswa untuk sebuah pokok bahasan telah ditentukan dalam struktur kurikulum/ silabus. Namun demikian harus juga disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan serta kemampuan siswa. Metode yang digunakan sangat variatif. Di sini ada kerja kelompok, diskusi, pemberian tugas belajar dan resitasi; khususnya saat membuat rangkuman materi dan soal evaluasi. Berbagai metode tersebut digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, memupuk inisiatif dengan kegiatan yang berguna dan konstruktif. Dalam artikel ini penulis mengembangkan metode tersebut dengan lebih menitikberatkan sasaran pembelajaran pada pembentukan rasa percaya diri dan rasa dihargai melalui kerja kelompok. Ini semua akan membentuk konsep diri yang positif karena siswa sanggup melaksanakan tugasnya. Guru harus mempunyai asumsi positif bahwa setiap anak pada dasarnya mampu mengerjakan tugas yang menjadi tanggungjawabnya.

e. Diversifikasi Sasaran

Selain aplikasi yang sudah penulis paparkan di atas, kegiatan pembelajaran dapat didesain dengan kegiatan tambahan yang lebih menarik dengan tujuan menguatkan daya ingat siswa terhadap materi pelajaran yang sedang dipelajari, sekaligus menyalurkan beberapa bakat siswa. Konsep ini oleh penulis disebut dengan diversifikasi sasaran. Misalnya aspek bahasa; siswa dapat membuat puisi, aspek apresiasi seni musik; siswa dapat mengubah syair lagu, bisa lagu daerah atau lagu-lagu yang sedangkan populer; aspek grafis; dapat menggambar. Pengembangan sasaran tersebut tetap berada pada kerangka atau frame materi yang dibahas. Diversifikasi sasaran itu sangat sesuai dengan apa yang dinamakan dengan quantum teaching. Oleh De Porter (2003) mengartikan quantum teaching sebagai orkestrasi bermacammacam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang  akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Bakat yang teraktualisasi dapat menjadi sugesti yang ampuh bagi siswa. Prinsip semacam ini tergambar jelas dalam quantum learning. Quantum learning prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif dan juga negatif. Aktivitas membuat puisi, mengubah syair lagu dan menggambar yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari merupakan bagian dari momen belajar. Dengan bakat yang dimiliki siswa, dapat menjadi faktor pendukung keberhasilan menguasai materi pelajaran. Ia bisa memberi sugesti pada setiap siswa bahwa dirinya mampu melakukannya. Lagi-lagi konsep dirinya akan kemampuannya yang beragam dalam belajar terbentuk. Siswa mampu membuat puisi, syair, bahkan menggambar. Berikut ini penulis berikan contoh puisi, syair lagu, dan gambar sebagai wujud dari tahapan diversifikasi sasaran tersebut di atas.

00000000000

 

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pengunjung

Flag Counter

JAM

April 2011
S S R K J S M
    Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

%d blogger menyukai ini: